Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa, M.Th:
“Kita Memilih Ahok Karena Keberaniannya”

1491 dibaca
Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa, M.Th.

            Pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta tidak lama lagi akan dilaksanakan. Warga gereja yang juga adalah warga bangsa di DKI Jakarta ini akan terlibat dalam pesta demokrasi ini. Sebab itu, dalam memilih lebih karena didasari oleh apa yang telah diperbuat sang calon, bukan karena latar belakang agama atau golongannya.

“Jadi kalau orang Kristen kabarnya banyak mendukung Ahok (Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M.), menurut saya, bukan karena dia Kristen atau dia Tionghoa, tetapi karena apa yang telah dilakukannya. Ahok mempunyai sesuatu yang lebih, yaitu keberaniannya untuk mendobrak semua kebobrokan di sana-sini. Ia berani memberantas korupsi, mau meluruskan semua aturan-aturan yang telah disalahgunakan,” jelas Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa, M.Th, yang merupakan mantan Bendahara Umum BPH Sinode GBI (Gereja Bethel Indonesia).

Selain itu, menurutnya, mantan Bupati Belitung Timur ini berani menertibkan semua aparat yang dulu dibilang 30 atau 40 ribu PNS DKI Jakarta itu tidak bisa diatur dan semua kebanyakan korup. Tetapi kenyataannya bisa dibenahi dengan baik. “Kalau kita lihat ke kelurahan, kecamatan, bahkan wali kota mereka bekerjanya sudah mulai on track. Dan hasilnya jauh lebih baik dari waktu lalu,” ujar tokoh Tionghoa dan pengusaha yang juga mantan Bendahara Umum PGI itu.

Menurut Pdt. Suyapto, ia sangat terkesan dengan petugas-petugas kebersihan yang pakai baju oranye, ketika musim hujan kemarin begitu cepatnya mereka mengatasi semua itu. Jadi ada perubahan ke arah yang lebih baik, karena sang pemimpinnya Ahok. Nah, yang kita dukung Ahok, yang bisa memimpin dan membawa Jakarta ini lebih baik,” kata pendiri Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) dan mantan Ketua DPP PIKI ini. Sementara itu, menyikapi isu SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) yang digunakan untuk menyerang Ahok, Pdt. Suyapto menegaskan, hal itu sudah ketinggalan zaman.

Contoh, katanya, di media sosial. Jika ada yang menghembuskan isu SARA langsung mendapat sanggahan. “Tidak usah kita komentar, ada yang menghantam sendiri, tidak hanya orang Kristen yang bergerak, dari kalangan Muslim sendiri juga melakukan perlawananan untuk itu. Negara kita sampai kapan mau maju kalau itu-itu yang selalu digunakan,” jelas mantan Caleg DPR-RI ini. Di DKI Jakarta yang heterogen dan semakin mudahnya orang mendapatkan informasi yang benar dalam waktu singkat, maka menurutnya, isu SARA dan diskriminasi sudah tidak laku dijual. KS

Berita Terkait