“Rumah Bersama” Group WA FORKOM NARWASTU

• Oleh: Dr. Tema Adiputra Harefa, M.A. 1765 dibaca
Penulis (berdiri ketiga dari kanan) di sebuah acara FORKOM NARWASTU di Jakarta.

            BERITANARWASTU.COM. Saya mulai tulisan ini dengan poin penting. Yakni rumah bersama (WhatsApp) yang saya maksud adalah, “penghuni”-nya para tokoh Kristiani dengan latar belakang profesi/kegiatan antara lain: pengacara, pendeta, birokrat, pengusaha, bupati, jenderal purnawirawan, insan media,  politisi dari berbagai partai politik, pendidik, anggota dewan dan pimpinan ormas. Mereka pernah menerima penghargaan sebagai “Tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU” pada setiap tahun. Jumlah total para tokoh ini sekarang sekitar 200-an orang.

            Dan jujur saja, karena rumah bersama ini baru didirikan pada 5 April 2016, maka dari jumlah anggota rumah bersama yang 70-an, semakin hari semakin bertambah kedatangan para tokoh itu  untuk bergabung/masuk rumah bersama group WhatsApp Forum Komunikasi (FORKOM) NARWASTU.           

Ada apa dengan rumah bersama (group WhatsApp FORKOM NARWASTU) ini? Sebenarnya tidak ada apa-apa, kalau anggota rumah bersama ini tidak aktif. Tetapi faktanya? Waoowww....aktif sekali! Salah seorang anggota penghuni rumah bersama ini yang sangat aktif adalah Pdt. DR. Nus Reimas, yang setiap hari rutin menuliskan renungan rohani. Nah, mengapa mereka begitu aktif mengirimkan informasi, foto, renungan, opini, artikel berbobot, humor, bahkan terkadang pergumulan hidupnya untuk minta dukungan doa?

Menurut hemat saya ada beberapa alasan. Pertama, sepenanggungan. Para anggota rumah bersama ini merasa “senasib/sepenanggungan” karena telah terpilih sebagai tokoh Kristiani, karena berkiprah di bidangnya dan membawa dampak positif bagi umat, masyarakat, dan bangsa Indonesia. Artinya, “kesatuan korps” dalam artian positif begitu kental terasa. Mereka sangat menyadari konsekuensi dari predikat yang didapat adalah bukan untuk disimpan di lemari melainkan harus dibagikan terus-menerus kepada orang lain. Dan untuk memperlancar hal itu diperlukan kebersamaan yang saling mendukung dan saling berbagi antar-anggota group WhatsApp FORKOM NARWASTU.

Kedua, manusia terbatas. Hm...bagaimanapun penghuni rumah bersama ini adalah juga manusia biasa. Mereka pun menyadari akan kekurangan diri sendiri, selain memiliki “kelebihan” yang diberi Tuhan. Oleh sebab itu, dengan aktif di dalam rumah bersama ini, maka kekurangan seseorang akan di-“tambah”-kan oleh yang lain. Ini hal yang menarik. Mengapa? Karena tidak ada transaksi jual-beli di sini. Semua saling memberkati. Tidak ada perbedaan kelas di sini. Tidak ada senior-yunior, tidak ada pilih-pilih kasih. Semua sama-sama memposisikan dirinya sebagai anak-anak Tuhan. Dan saling menyapa dengan hormat penuh kasih. Saling mengucapkan terima kasih manakala menerima/membaca tulisan/pesan yang menambah wawasannya.

Ketiga, bertambah pergaulan sosial. Adalah sangat menyenangkan bila berada di tempat pergaulan yang baik dan benar. Oleh sebab itu, tidaklah elok bila ada pendapat mengatakan bahwa aktivitas di media sosial itu hanya membuang-buang waktu saja. Tergantung “medsos”-nyalah! Khusus di group WhatsApp FORKOM  NARWASTU para aktivisnya/anggotanya tentu saja adalah mereka yang telah teruji mampu bergaul. Buktinya, mereka memenuhi syarat mendapatkan penghargaan sebagai tokoh Kristiani versi Majalah NARWASTU. Insan yang mudah bergaul dan mampu menjaga diri dalam pergaulan bukanlah dengan instant didapat.

Ada proses panjang untuk mencapainya. Salah satu faktornya adalah diproses dalam kerohanian. Sebab, hanya dengan kontrol ketat dari aspek kerohanian, maka seseorang akan selalu berada di area pergaulan yang baik dan benar. Nah, anggota grup WhatsApp FORKOM NARWASTU telah tersebar di seluruh Indonesia, itu berarti sesama anggota pun bisa saling bersilaturahmi manakala saling jumpa di seantero nusantara ini. Bahkan dapat saling memberi kesempatan “pelayanan” di tempat itu.

Keempat, saling mengingatkan. Tidaklah mudah untuk mendapatkan seorang sahabat di masa kini. Sahabat itu bernilai tinggi. Terkadang dia melebihi saudara sekandung. Dalam suka dan duka seseorang, sahabat seharusnyalah selalu “hadir” (baik fisik ataupun doa dan perhatiannya). Persahabatan yang telah terjalin sesama anggota grup WhatsApp FORKOM NARWASTU walau belum setahun usianya, sungguh-sungguh menjadi berkat tersendiri.

Nasihat maupun “tegoran” kasih muncul dari hati yang tulus di dalam perjalanan pesan-pesan yang ditayangkan. Bahkan, bila ada informasi yang dikirim ke rumah bersama yang berpotensi “mengancam kehidupan” di dunia nyata, maka informasi ini akan segera jadi bahan diskusi untuk dikaji lebih dalam. Dengan demikian para anggota grup WhatsApp FORKOM NARWASTU dapat mengantisipasi hal-hal yang buruk di dunia nyata.  

Demikianlah “indah”-nya bila ikut bergabung di grup WhatsApp FORKOM NARWASTU. Semua ini tidak secara kebetulan ada. Tuhan turut campur tangan di sini. Dunia fana ini semakin jahat, namun kebaikan/kasih tidak boleh tinggal diam saja. Harus lebih aktif  bekerja menerangi dunia fana ini. Oleh sebab itu, sebagai anak-anak Tuhan pun tidak boleh biasa-biasa saja. Perlu saling memperlengkapi. Dan salah satu sarananya adalah via media sosial yang baik dan benar, khususnya group WhatsApp FORKOM NARWASTU.

Hm...jadi teringat saya pada Firman Tuhan berikut ini: Mazmur 1:1-2, “Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.”

 

·                     Penulis adalah konsultan radio dan dosen serta anggota pengurus FORKOM NARWASTU. 

Berita Terkait