Erick Samuel Paat, S.H.
“Saya Hanya Takut Pada Tuhan, Tak Takut Pada Manusia”

1476 dibaca
Erick Samuel Paat, S.H. Merasakan kesegaran saat baca Alkitab.

beritanarwastu.com. Erick Samuel Paat, S.H., demikian nama yang diberikan sang bapak A.A. Paat. Soal nilai-nilai kejujuran itu dia dapatkan dari bapaknya yang seorang pensiunan polisi. “Beliau aparat sederhana dan keras. Ayah saya seorang yang bersahaja, mengajarkan hidup dengan sepatutnya hidup,” katanya. Berdarah daging campuran Manado, Dayak dan Tionghoa Bangka ia mengatakan, berjubel pengajaran bapaknya yang pekat mewarnai cara pandangnya terhadap hidup sebagai anak Tuhan. “Ayah saya punya prinsip menghormati kebenaran. Untuk kebenaran, dia tak akan pernah mundur. Mungkin karena itu pula, maka hidup keluarga kami sangat bersahaja. Kami tak punya apa-apa,” jelasnya kepada NARWASTU.

Bila bicara hukum dengan pria kelahiran Banjarmasin, 30 Januari 1959 ini, akan diresponsnya antusias. Namun di saat bersama, dia juga merasa sedih, kalau tak dikatakan pesimistis terhadap penegakan hukum di Indonesia. “Kalau melihat penegakan hukum, kita pesimis. Nyatanya orang-orang yang mengerti hukum, penegak hukumlah yang bermain-main demi hukum. Yang salah bisa benar dan yang benar bisa disalahkan,” cetus pejuang HAM ini.

Tentu, dia bukan sosok asing dalam belantara hukum di Indonesia. Namanya berderit-derit disebut seorang pengacara/advokat yang gigih, dan pantang menyuap demi memenangkan sebuah perkara yang ditanganinya. Tak heran, bila pengacara yang satu ini selalu tampil bersahaja. Bahkan, dirinya tak begitu disukai para panitera dan hakim di pengadilan karena dianggap kere, dan tak mau memberi uang pelicin.

 “Saya sudah tetapkan diri, tak mau bermain-main dengan hukum. Lebih baik saya tak punya klien kalau disuruh menyuap. Kalau klien saya mengajari saya menyuap agar memenangkan perkaranya, saya langsung katakan, saya tak bisa membantu kasus Anda, saya mundur,” tegasnya. Pengalaman itu beberapa kali dialaminya.

Keras dan tak mengenal kompromi, itulah watak pria pengagum Yap Tian Hiem ini. “Jangan pakai saya sebagai pengacara Anda jika ingin menang, tapi jika saudara merasa cukup puas menemukan kebenaran perkara itu, maka saya siap menjadi pembela Anda. Ini ungkapan Om Yap yang selalu saya katakan jika klien datang pada saya,” ucap Erick. Di balik sikap keras dan tegasnya ketika berbicara soal penegakan hukum. Dia seorang yang sederhana dan begitu menghargai orang lain.

Pengalamannya, selama berpraktik sebagai pengacara, Erick kerap mendapat teror dan intimidasi. Bahkan, pengalaman itu dirasakannya sejak menjadi pengacara dalam kasus 27 Juli 1996 (TPDI) bersama R.O. Tambunan, Trimedya Panjaitan, Sugeng Teguh Santoso, Petrus Salestinus dan lainnya, termasuk perseteruannya dengan Menteri Hukum dan HAM, Dr. Hamid Awaluddin, S.H. ketika menangani kasus korupsi di KPU.

Lalu, pengalaman lain, ada-ada saja memang calon klien, oleh karena merasa punya uang, sok mau mengaturnya. “Saya bukan orang suci, tetapi saya tak boleh disuruh-suruh klien untuk menyuap,” terangnya. Pengalamannya banyak pula klien yang datang mengarahkannya untuk bermain suap. Namun itulah konsekuensi dari pilihan hidup, menjadi pengacara yang konsisten pada jalurnya. “Tak disukai banyak orang,” paparnya. Baginnya, lebih baik mengundurkan diri sebagai kuasa hukum ketimbang dipaksa menyuap aparat hukum oleh calon kliennya.

 

Awalnya Ingin Jadi Pendeta, Kini Menjadi Pengacara

Sebenarnya, nun masa kanak-kanaknya, dulu dia terbetik ingin menjadi pendeta. Tetapi, karena menjadi pendeta, baginya berat. Maka dipilihnya menjadi pengacara yang juga punya esensi keberimanan, membela orang yang sedang tersudutkan. “Saya bangga menjadi seorang pengacara yang bekerja secara profesional sesuai ilmu yang saya miliki,” ujar bapak satu anak ini.

Di matanya, profesi pengacara tak kalah dengan menjadi pendeta. Pengacara pun bisa mulia dan terhormat sehingga dia berusaha keras untuk tetap menjaga citra dan kewibawaan profesi sebagai pengacara yang teguh pada prinsip kebenaran.  ”Saya takut dengan Tuhan, saya percaya kalau aparat hukum menjalankan profesinya dengan benar, dan percaya bahwa Tuhan melihat apa yang dilakukannya. Saya kira penegakan hukum di Indonesia ada harapan,” ujarnya.

Dia memulai kariernya tahun 1991 di Pos Bantuan Hukum (Posbakum) Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Beberapa tahun bergulat di ranah ini, dia kemudian membuka Kantor Hukum Erick S. Paat & Rekan. Saat ini berkantor di Jalan Proklamasi, Jakarta Pusat, sepelemparan batu dari tugu proklamator, itu. Rona-rona kehidupan sebagai pengacara yang bagi segelintir orang mewah, sesungguhnya berkebalikan dengan pengalamannya.

“Umumnya kita telah dirancuni pemikiran orang-orang yang pragmatis. Kalau orang yang berhasil itu selalu dikategorikan punya mobil mewah. Materi apa yang melekat di kehidupannya. Itu ukuran seseorang disebut berhasil. Padahal, yang benar keberhasilan yang sejati adalah ketika seseorang bisa menjalankan panggilan profesinya dengan jujur dan benar. Profesinya membawa kemanfaatan bagi orang lain” jelasnya.

Lagi-lagi inilah pilihan hidup. Orang yang menjalankan profesinya dengan jujur nyatanya tak selalu disukai banyak orang. Menjalankan profesi pengacara dengan benar, bukan hanya materi kering, tetapi orang-orang yang pragmatis umumnya tak suka pada pengacara seperti dirinya, menjalankan profesinya dengan benar. Namun ia adalah pengacara yang teguh berpegangan pada isi Alkitab dalam menangani perkara yang ditanganinya. Bahkan, dia tak pernah mengeluh meskipun hidup dalam perekonomian yang sangat terbatas sebagai pengacara senior. Malah yang ada selalu berdoa menyerahkan seluruhnya agar dipimpin Tuhan.

Tetap berpendirian. Mensyukuri apa yang ada. Walau dalam hatinya dia merasa miris melihat kondisi hukum di Tanah Air yang carut-marut, yang bermain-main dengan hukum itulah dianggap berhasil. Bahkan, intervensi politik kerap juga terjadi dalam proses hukum. Ini bisa dibuktikan saat dia berperkara dengan Kantor Hukum Yusril Ihza Mahendra saat masih menjabat Menteri Hukum dan HAM di PN Jakarta Selatan yang menyeret nama Lalu Mariyun hingga lengser dari Ketua PN Jakarta Selatan, ketika itu.

Alumni Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, ini di awal-awal membuka kantor pengacara sendiri, sempat terlibat dalam Tim Pembela Demokrasi Indonesia (TPDI) yang mengadvokasi kasus penyerangan Kantor PDI di Jalan Dipenogoro No 58, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 1996 silam. Dia juga pernah menjadi kuasa hukum anggota DPR-RI dari PDIP, Emir Moeis, dalam kasus yang membebat kliennya, kasus suap proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU), Tarahan, Lampung. Kasus yang menyeret tokoh  PDIP itu mulai disidangkan 28 November 2013 lalu.

 

Mensyukuri Kehidupan

Baginya, sebagai pengacara mesti mengacu pada asas praduga tak bersalah. “Bahwa seseorang tak boleh dianggap bersalah sebelum ada putusan hukum tetap. Tak tepat kalau disebutkan tersangka atau terdakwa kasus korupsi sebagai koruptor kalau belum ditetapkan pengadilan, didakwa,” katanya. Dia mengibaratkan, kalau ada oknum advokat penipu, apakah advokat itu juga identik penipu, tanyanya. Jelas tidak. Kalau kita kembali ke butir dua UU Nomor 18 itu bahwa advokat itu tidak identik dengan kliennya. Bayangkan, kalau advokat membela pembunuh diidentikkan dengan pembunuh, betapa rancu pemahaman hukum kita, terangnya.

“Advokat itu profesi yang diberikan ruang oleh undang-undang membela klien. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat menyebutkan advokat adalah seseorang yang berprofesi sebagai pemberi jasa hukum, di dalam maupun di luar pengadilan yang memenuhi persyaratan berdasarkan UU. Jasa hukum bisa berwujud pemberian konsultasi hukum, bantuan hukum, menjalankan kuasa, mewakili, mendampingi, membela, dan melakukan tindakan hukum lain untuk kepentingan hukum klien,” terangnya.

“Siapapun yang butuh bantuan hukum, tak terkecuali tersangka atau terdakwa kasus korupsi, menurut UU, berhak mendapat bantuan advokat. Karena itu, seorang advokat wajib mengedepankan pembelaan dengan cara-cara profesional, sesuai ketentuan undang-undang, dan bertanggung jawab,” paparnya.

Lalu, sama saja ada ucapan yang menyebut advokat membela yang bayar? Dia menjawab, apakah misalnya seorang dokter ketika mengobati pasien yang tertuduh korupsi ketika menerima bayaran bertanya dulu, yang dipakai itu uang koruptor, atau uang bukan koruptor? “Saya kira terlalu naif menyatakan, bahwa advokat kasus koruptor sebagai advokat koruptor. Penyebutan itu menjadi tak tepat hanya karena menghilangkan kata kasus, yang dampaknya sangat merugikan para advokat,” terangnya. Artinya, bisa salah diartikan menjadi advokatnyalah yang koruptor.

“Pengacara itu tugasnya untuk mengawal hak hukum bagi kliennya. Misalnya, yang tertuduh adakan proses  hukum yang diterimanya tak salah, tetapi mencari keadilan. Kalau memang klien kita memang bermasalah, maka yang kita bela adalah proses hukum yang diterimanya, jangan sampai mendapat diskriminasi. Kita harus luas melihat hal itu. Contohnya, ada kasus yang seseorang tertuduh korupsi. Tetapi, sesungguhnya itu unsur politik yang bermain. Maka fungsi pengacara agar jangan kliennya dijadikan korban politik,” tukasnya.

Tugas pengacara menempatkan korban sebagaimana mestinya. Proses hukum tak boleh dijalankan diskriminasi  pada satu pihak. “Kita hanya mau mendudukkan kasus sebagaimana mestinya. Karena seringkali ada penekanan, karena politik itu tadi, sehingga tak ada keadilan untuk mereka. Jadi, tugas pengacara itu bukan membela yang salah. Bukan membela mati-matian klien. Apabila si klien memang benar bersalah, kita hanya mau membela keadilan prosesnya, hukuman yang pantas,” ujarnya.

“Kita setuju bahwa kita harus berantas korupsi, dan memang harus. Tetapi, kita harus ingat mereka para tertuduh korupsi juga butuh pertolongan dari para pengacara. Kalaupun mereka meminta pertolongan kita sebagai pengacara, bukan berarti kita bela mati-matian kesalahannya. Kita menjadi penasihat hukum untuk mengawal kepastian hukum untuk berjalan dengan baik. Jangan sampai terjadi ketidakadilan dalam proses hukum. Di sinilah pentingnya pengacara,” ujarnya.

Bebagai pengalaman menangani perkara hukum yang ditanganinya, kerap melihat bebagai kejanggalan dalam proses hukum. Itu tadi, karena tak mau bermain-main dalam hukum. Banyak perkara dimenangkannya, tetapi tak sedikit juga perkara yang ditanganinya sebagai penasihat hukum, kalah.  Tentu, sebagai manusia yang memilih jalur di koridor yang benar mesti terima kondisi yang terjadi.

Kalau sudah demikian, dia hanya pasrah pada Tuhan. Dan penenang jiwanya adalah membaca Alkitab. Selalu telaten untuk menggali isi dari Firman Tuhan. “Saya merasakan kedahagaan iman terpuaskan, Jikalau kita senantiasa mensyukuri kehidupan yang diberiNya. Lalu telaten membaca Alkitab. Saya selalu merasakan kesegaran yang baru setiap ada kepenatan hidup, bahwa hanya bersama Tuhanlah kita tenang,” ujarnya.

Sesungguhnya, kesukaan pada Kitab Suci itu bukan baru-baru ini dilakukan. Sejak muda kebiasaan itu sudah dia habituskan. Namun, tentu dia sadar situasi hidup terkadang fluktuatif, naik turun semangat dalam menjalankan iman. Jadi apa rahasianya? “Saya dulu sejujurnya selalu terpesona dengan khotbah beberapa sosok pendeta,” ujar penganut Kristen yang taat ini.

“Bahkan, kalau bagi sebagian orang menjadikan mereka sebagai penasihat spiritualnya. Saya juga pernah tergoda hendak demikian, ingin punya sosok penasihat spiritual. Tetapi, makin mempelajari Alkitab, saya menemukan kalau saya mengandalkan manusia saya pasti tak tak menghormati Tuhan. Karena itu, saya memilih lebih baik takut Tuhan daripada takut pada manusia,” ujarnya mengakhir perbincangan. Hotman

Berita Terkait