Ahok dan 19 April

377 dibaca
Pemberian penghargaan sebagai salah satu “Tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU” di Balai Kota, Jakarta, kepada Ahok pada 19 April 2016 lalu.

Beritanarwastu.com. Foto di bawah ini, yang pertama adalah peristiwa bersejarah saat pertama kali Pak Ahok (Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M.) hadir di acara Majalah NARWASTU pada 18 Januari 2010 lalu bersama Ketua Umum PGI (saat itu), Pdt. Dr. A.A. Yewangoe dan sejumlah tokoh, seperti Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S. (mantan Hakim Agung MA RI dan tokoh masyarakat) dan Drs. Sahrianta Tarigan, M.A. (Kini: Ketua DPW Partai Perindo DKI Jakarta).

Satunya lagi adalah foto pemberian penghargaan sebagai salah satu “Tokoh Kristiani Pilihan Majalah  NARWASTU di Balai Kota, Jakarta, kepada Ahok pada 19 April 2016 lalu. Juga bersejarah, persis setahun lalu saat Pilkada DKI Jakarta putaran kedua diadakan pada 19 April 2017. Ketika saya mencermati hasil hitung cepat sejumlah lembaga survei lewat layar kaca, dalam hati saya yang muncul adalah ungkapan: Kiranya pada 19 April 2017 hari ini, Pak Ahok sehat, tegar, semangat dan tetap mampu bersyukur menerima hasil Pilkada DKI Jakarta putaran kedua ini.

Karena Ahok bisa dipastikan kalah dari pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Hasil hitung cepat Litbang Kompas melansir, Basuki (Ahok)-Djarot meraih suara 42% dan Anies-Sandi 58%. Meskipun Ahok belum beruntung menang di pilkada kali ini, saya tetap mengapresiasi Ahok. Dia figur berprestasi, fenomenal, tangguh, punya iman teguh, berkarakter, berjiwa pelayan dan Pancasilais. Meskipun ia punya kelemahan dalam mengontrol ucapan.  

 Dan secara ksatria Ahok telah menyampaikan ucapan selamat kepada Anies-Sandi yang unggul di Pilkada DKI Jakarta kali ini. Ahok sendiri dalam jumpa persnya menyampaikan, bahwa jabatan atau kekuasaan adalah titipan dari Tuhan. Jadi ia cukup bijaksana menyikapi kekalahannya. Dan itulah kedewasaan berpolitik yang patut kita apresiasi dari Pilkada DKI Jakarta 2017. Kita pun bersyukur, karena pilkada ini berjalan aman, lancar dan damai, karena awalnya sempat diprediksi sejumlah kalangan bakal menimbulkan masalah sosial (chaos), terlebih bila pasangan tertentu kalah.

 

Pak Ahok (Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M.) saat pertama kali hadir di acara Majalah NARWASTU pada 18 Januari 2010 lalu. 

 

 Terkait dengan Pilkada DKI Jakarta, menarik disimak pernyataan tokoh nasionalis dan religius, Pdt. Dr. Andreas Yewangoe, mantan Ketua Umum PGI dan kini Ketua Majelis Pertimbangan PGI, “Target kita bukan supaya Ahok menjadi gubernur di Jakarta, sebab bila itu target kita, kita akan kecewa kalau dia tidak terpilih jadi gubernur.  Tapi target kita sekarang adalah untuk mengatakan bahwa Ahok adalah ikon dari kejujuran dan komitmen. Dan ikon ini akan tetap tertanam dalam ingatan kolektif masyarakat Jakarta, baik yang anti maupun yang pro.  Maka siapa pun yang menjadi gubernur akan katakan Ahok dulu begini dan begini, dst. Dan ini akan sulit untuk gubernur yang akan datang."

                “Saya kira kita semua berpegang pada azas legalitas. Siapa terpilih itulah yang sah. Kita dukung, tetapi sekaligus kritis. Sikap kritis tidak sama dengan tukang kritik. Kritis berarti bahwa keprihatinan kita sama terhadap nasib Jakarta, tetapi kita melihatnya dari titik pandang yang lain. Tetapi bukan tidak mungkin juga cara pandang kita terhadap suatu masalah sama persis. Ini semua kedewasaan demokrasi. Kita harus berani keluar dari perangkap politik identitas dan mampu hidup bersama secara kreatif, dinamis, kritis dalam polis Jakarta (bdk. Yeremia 29:7). Selamat pagi,” tulis Pdt. Yewangoe di group WhatsApp (WA) FORKOM NARWASTU.

                Sedangkan Ketua Majelis Pertimbangan PGLII, Pdt. DR. Nus Reimas menuliskan, kita sudah berdoa dan berupaya untuk Ahok. Kalau hasilnya belum memuaskan, maka kita harus terima. “Kita tidak mengerti jalan Tuhan, namun kita percaya kepadaNya,” ujar Pdt. Nus Reimas yang juga mengirimkan pesan WA ke Ahok. Pendapat atau refleksi dari Pdt. Yewangoe dan Pdt. Nus Reimas ini, tentu mencerahkan kita. Dan bisa menolong kita dalam mensyukuri segala sesuatu di dalam perjalanan hidup ini.

Kita patut berdoa, kiranya Anies-Sandi selalu dibimbing Tuhan Yang Maha Kuasa dalam memimpin DKI Jakarta ke depan agar rakyat damai sejahtera. Kita pun berdoa supaya Tuhan Yang Maha Rahmat senantiasa memberi yang terbaik bagi Ahok agar ia tetap bisa melayani rakyat. Karena bangsa ini sangat membutuhkan figur-figur seperti Ahok. Semoga. Jonro I. Munthe, S.Sos. 

Berita Terkait