Ahok Maju Ke Putaran Kedua, Bingung

465 dibaca
Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. (Ahok/kiri) dan penulis Dr. Tema Adiputra Harefa, M.A. (kanan) di sebuah acara.

             BERITANARWASTU.COM. Tentu sebagai warga negara Indonesia yang baik saya bergembira atas telah terselenggaranya Pilkada DKI Jakarta pada Rabu, 15 Februari 2017 lalu. Ketiga paslon (pasangan calon) ternyata memperoleh suara dari rakyat Jakarta. Luar biasa. Tinggallah kita sekarang menanti waktu memasuki putaran ke-2 Pilkada DKI Jakarta yang mungkin saja membuat hati kita dag dig dug, bahkan bingung. Ada dua paslon yang bertanding. Akankah Ahok-Djarot menang?

Mengapa bingung? Nah, tentang hal ini saya hanya mau fokus kepada Ahok. Karena pribadi inilah yang rajin saya amati belakangan ini. Jelas, saya bingung karena, kok, bisa ya, Ahok lolos dari putaran pertama dan kok bisa ya...Ahok tidak menang mutlak pada putaran pertama? Begini, persoalan berat yang menimpa Ahok belakangan ini sungguh luar biasa beratnya. Sekali lagi, sungguh sangat luar biasa beratnya! Dia dikeroyok dari segala sisi, dengan satu persoalan mendasar, yakni penistaan agama. Dan hal ini menjadi sorotan internasional/nasional bukan hanya lokal DKI Jakarta. Ahok pasti lelah. Sebagai manusia biasa dia pun ada keterbatasan.

Menjawab pertanyaan di atas, ouwww...sudah banyak pendapat tercuat di media massa. Pendapat itu sangat tajam analisisnya. Kita yang membacanya  pasti menganggu-angguk kagum dan berkata: Wah, benar juga, iya. Nah, dalam tulisan ini saya mau menjawab pertanyaan di atas dari versi saya. Mengapa Ahok bisa masuk ke putaran kedua? Pertama, warga Jakarta ternyata tidak semua membenci Ahok. Kalaupun tampak membenci Ahok, namun nun jauh di dalam hatinya mereka bersyukur akan hasil kerja Ahok dan timnya di Balai Kota yang melayani dan berusaha keras mensejahterakan warga Jakarta. Kita tak perlu munafiklah.

Kedua, yang menyebabkan Ahok mendapat jumlah suara pada putaran pertama adalah karena karakternya. Tegas, berani, jujur, dan mau pasang badan. Saya teringat Gubernur Ali Sadikin. Iya! Sekalipun karena karakter Ahok ini banyak dibenci orang, bahkan karena hal itu dia “keceplosan” di Kepulauan Seribu yang dimanfaatkan Buni Yani untuk menghancurkan Ahok, namun karakter Ahok ini sangat perlu ada di Jakarta yang sudah kacau balau dalam beberapa aspek seperti premanisme, korupsi, mental malas, mental priyayi, dan sebagainya. Warga Jakarta banyak yang profesional. Kalau Jakarta dipimpin oleh profesional, maka atmosfir yang muncul adalah profesionalisme. Dampaknya, perusahaan atau instansi yang dikelola dengan profesional pastilah akan menguntungkan. Dan pembayaran pajak pun akan lancar mengalir ke Pemerintah Daerah.

Ketiga, mengapa Ahok bisa menang pada putaran pertama dan melenggang ke putaran kedua? Hm...hm...iya, karena dirinya sendiri! Apa maksudnya? Ya, karena dia memiliki mental baja (jadi teringat istilah “Badja”) yang tidak banyak dimiliki orang lain. Ibarat balon, digencet sisi sini, melembung sisi sana. Terbanting dan dibanting tapi tidak tergeletak namun langsung bangkit. Saya pribadi, kagum perihal ini. Orang yang punya mental baja tidak mudah kalah. Bahkan mungkin tidak mau kalah. Mengapa bisa begitu? Karena dia memiliki visi-misi hidup yang diyakininya 100%. Visi-misi hidup itu telah masuk ke dalam “darah”-nya dan mengalir setiap saat. Tidak bisa dikeluarkan lagi. Iya! Setiap orang memiliki visi-misi hidup, namun apakah memiliki mental baja? Ahok memiliki keduanya.               

Keempat, penyebab Ahok bisa ikut pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta adalah karena Tuhan memberi izin. Hah? Iya! Tuhan tidak akan memberi “izin” kepada umatNya bila tidak memenuhi syarat-syarat tertentu. Syarat-syarat tertentu itu terlihat dan terasa dari kehidupan spritual seseorang. Ahok memiliki itu. Kehidupan doanya, ada. Orang lain mendoakannya, ada. Tidak mungkinlah Tuhan tidak mengabulkan permohonan doa seseorang yang dikenanNya. Bahwa Tuhan langsung menjawab doa itu tentu ada maksudNya yang luar biasa untuk orang itu. Kalaupun suatu saat doa itu belum dikabulkanNya, tetap saja ada maksud baik Tuhan di situ. Ahok diizinkan Tuhan lolos dari putaran pertama Pilkada DKI Jakarta 2017.

Nah, sekarang bagaimana peluang Ahok pada putaran kedua Pilkada DKI Jakarta 2017? Hm...saya bukan dukun peramal. Tapi ada satu hal yang saya yakini, yaitu warga DKI Jakarta saat ini berada pada satu pilihan yang sangat menantang. Memilih Ahok kembali jadi Gubernur maka “kenikmatan” yang telah dicicipi di jalur yang baik dan benar itu akan terus mengalir. Kalau Ahok tidak menang pada putaran kedua, dengan sejujurnya saya katakan, Jakarta akan berubah drastis! Orang baru membawa sesuatu yang “baru” dan itu pasti! Gubernur baru (bukan Ahok) pasti, dan pasti akan membawa sesuatu yang “baru” untuk warga DKI Jakarta. Dan hal “baru” itu belum tentu cepat terwujud, dan belum tentu rasanya “nikmat.” Semoga analisis saya ini salah...hehehehe.

Dan akhirnya, akankah Ahok terpilih kembali menjadi Gubernur DKI Jakarta periode kedua? Untuk menjawabnya mari kita renungkan Firman Tuhan berikut ini: 1 Samuel 17:37, Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." Kata Saul kepada Daud: "Pergilah! TUHAN menyertai engkau."  Ya! Seperti Daud yang meyakini dan mengimani penyertaan, perlindungan, dan berkat dari Tuhan pada waktu sebelumnya, begitu juga Daud menyakini dan mengimaninya di waktu-waktu mendatang. Kiranya Ahok dan semua pendukungnya memiliki hal ini.

·         Penulis adalah anggota pengurus FORKOM NARWASTU, akademisi dan wartawan senior.

  

Berita Terkait