Ahok Memang Hebat, Parpol Besar Ingin Bersatu Mengalahkannya

848 dibaca
Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. (Ahok/kanan) tampak memegang Majalah NARWASTU bersama Pemimpin Umum/Pemred NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos.

beritanarwastu.com. Dinamika politik sekarang ini di DKI Jakarta sungguh sulit diterka. PDIP dan Partai Gerindra yang tadinya sulit berkoalisi pasca Pilpres 2014 lalu, kini menjelang Pilkada DKI Jakarta 2017 mulai “akrab” dan bertemu bersama sejumlah pimpinan parpol besar untuk membicarakan koalisi guna menghadapi incumbent, Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. alias Ahok, yang diprediksi banyak pakar politik masih kuat, dan peluangnya besar untuk menang lagi di Pilkada DKI Jakarta.

Bahkan, PDIP yang dipimpin mantan Presiden RI Megawati Soekarnoputri kabarnya sudah menyiapkan kader terbaik dari parpol berlambang kepala banteng itu, Tri Rismaharini yang kini masih Wali Kota Surabaya untuk bertarung melawan Ahok. Kabarnya, Risma akan disandingkan dengan kader Partai Gerindra yang juga pengusaha muda sukses, Sandiaga Uno, untuk calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta. Bahkan, dalam beberapa hari ini sudah disebut-sebut ada Koalisi Kekeluargaan yang di dalamnya ada PDIP, Partai Gerindra, Partai Demokrat, PPP, PAN dan PKS.

Sedangkan Ahok sebelumnya sudah didukung Partai NasDem, Partai Hanura dan Partai Golkar. Ketiga parpol itu tegas menyatakan mendukung Ahok, karena dinilai berhasil menata kehidupan masyarakat dan infrastruktur di DKI Jakarta. Ahok beruntung, karena ketiga parpol itu dipimpin tokoh yang punya pengaruh kuat di negeri ini. Sebut saja Partai NasDem dipimpin Surya Paloh pemilik  Metro TV dan Media Group, Partai Hanura dipimpin Menkopolhukam Jenderal TNI (Purn.) Wiranto, dan disokong pula oleh parpol paling tua dan paling lihai berpolitik, Partai Golkar. Kabarnya, Presiden RI Joko Widodo pun berada di belakang Ahok.

Ahok selama ini dikenal politisi hebat, sekalipun banyak lawan politiknya yang menudingnya arogan, dan jika bicara sering membuat lawan-lawan politiknya tersinggung. Komunikasi politik Ahok, menurut pakar komunikasi politik Prof. Tjipta Lesmana, buruk dan mesti diperbaiki. Terlepas dari sikap dan karakter Ahok, ia memang dicatat sejarah sebagai Gubernur DKI Jakarta yang tegas terhadap koruptor, dan berani melabrak oknum-oknum birokrat di Pemprov DKI Jakarta yang mempersulit pelayanan rakyat.

Ahok adalah seorang Tionghoa dan Kristen yang taat. Ia setiap bangun subuh selalu menyempatkan diri membaca Firman Tuhan dan berdoa. Menurut Ahok yang sempat mau maju lewat jalur independen dengan sokongan Teman Ahok, ia merasa dikuatkan dan dibimbing Tuhan kalau bersaat teduh pada pagi hari sebelum bekerja. Ahok yang pernah menjadi Bupati Belitung Timur, dan anggota Komisi II DPR-RI, terpilih sebagai “Tokoh Kristiani 2011 Pilihan NARWASTU” sebelum ia jadi Wakil Gubernur DKI Jakarta pada 2012, lalu ia naik lagi menjadi Gubernur DKI Jakarta pada 2014 setelah Jokowi menjadi Presiden RI.

Ahok yang dikenal punya akses dengan tokoh-tokoh terkemuka di negeri ini, bahkan beberapa kali naik mobil bersama, seperti dengan Jokowi, Megawati Soekarnoputri, Puan Maharani, Luhut Panjaitan, Surya Paloh, Setya Novanto dan Wiranto, pernah mengatakan, ia akan terus berperang melawan korupsi untuk memperbaiki negeri ini. Ahok yang sudah dua kali hadir di acara Majalah NARWASTU pernah mengatakan, ia banyak belajar soal politik dari gereja. Politik, katanya, harus berlandaskan pada kasih pada sesama dan takut kepada Tuhan. TK

Berita Terkait