Pdt. Lusiana Harianja Pella, M.Th
Alami Perjumpaan Langsung dengan Tuhan

768 dibaca
Pdt. Lusiana Harianja Pella, M.Th, bersama suami dan anak-anak.

            Pergumulannya untuk bisa menjajaki Tanah Perjanjian (Israel dan sekitarnya) diimaninya sebagai sebuah anugerah dan panggilan dari Sang Juruselamat. Dari perjalanan rohaninya bersama jemaat dari berbagai aliran gereja, Pdt. Lusiana Harianja Pella, M.Th bukan semata-mata plesiran tanpa arah tujuan. Melainkan ingin melihat langsung bahwa kisah dalam Alkitab yang tertulis itu bukan isapan jempol belaka, akan tetapi berisi janji Tuhan.

 

Pengalaman Pertama

            Bisa menyusuri Tanah Perjanjian dari tempat yang satu ke tempat lain, seperti yang dikisahkan dalam Alkitab, di mana Tuhan membuat sejumlah mukjizat merupakan perjalanan rohani yang tak pernah dibayangkannya sebelumnya. Tapi kerinduan yang menjadi kenyataan itulah yang dialami Pdt. Lusiana Harianja Pella. Secara financial  barangkali bukanlah satu kendala yang berarti. Akan tetapi, ibu dari dua anak ini menginginkan bahwa kepergiannya ke Israel memang atas panggilan Tuhan. “Kepergian pertama tahun 2011 saya sebagai peserta, hadiah ulang tahun dari suami. Di Betlehem saya berdoa kepada Tuhan, Bapa jika berkenan boleh dong saya jadi pembimbing rohani,” kata Hamba Tuhan yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2014 Pilihan Majalah NARWASTU” itu mengenang.

Doa sederhana yang terucap namun tetap diimaninya. Tahun 2012 istri tercinta M. Harianja, MBA  ini justru diperkenankan Tuhan untuk datang ke New York, Amerika Serikat, untuk mendampingi sang suami tercinta yang tengah melakukan bisnis trip. Bukan satu kebetulan pula, ia di situ ikut juga terlibat dalam doa syafaat untuk negeri yang ketika itu sedang dilanda Badai Shendy.

 Setahun kemudian, doanya dikabulkan oleh Tuhan Yesus Yang Maha Kuasa. Atas perkenanan dan kelayakan Tuhan ia diberi kesempatan untuk menyambangi Tanah Perjanjian sebagai pembimbing rohani Tour Israel, Mesir dan Turki. Dalam momen tersebut alumni STT Kupang ini menyikapi pelayanan itu dengan sepenuh hati.  “Dari Jakarta saya sudah tanyakan siapa saja yang mau naik ke Gunung Sinai. Sebab kalau naik Gunung Sinai harus ada persiapan hati. Dengan komitmen bersama para peserta tidak boleh berbicara selama pendakian hanya berdoa dan fokus kepada Tuhan,” terang wanita yang terdaftar sebagai pendeta di Gereja Masehi Injili Timor (GMIT) ini.

 

Mengajak Keluarga Ikut ke Israel

Tahun 2014 pendeta yang juga membantu melayani di Gereja Protestan Indonesia bagian Barat (GPIB) ini terus membawa banyak jiwa ke Holyland untuk mengalami perjumpaan langsung dengan Tuhan dan memiliki pengalaman rohani yang tidak terlupakan. Saat tiba di Kota Yerusalem, pemilik gelar S2 dari STT UKI  Tomohon, Sulawesi Utara, ini berdoa kepada Tuhan, menyatakan kerinduanya agar suami dan dua anaknya pun bilamana diperkenankan agar bisa ikut ke Tanah Perjanjian.

Selama tiga bulan ia terus menggumuli hal itu agar suami dan dua anaknya mau tergerak ikut ke Israel. “Keyakinan iman yang sangat dalam bahwa Bapa Surgawi berotoritas mampu membangkitkan Tuhan Yesus dari kubur apalagi untuk hal-hal jasmani atau hati suami dan anak-anak itu pasti menjadi nyata,” ungkap Pembina Rohani di Keluarga Besar Persekutuan Punguan Satahi Saoloan di Harapan Indah, Kota Bekasi, ini dengan mimik serius.

Tiga hari sebelum kepergian ke Israel diadakan briefing semua anggota. Saat itu suami dan dua anaknya ikut, namun hanya untuk melihat-lihat dan belum fix untuk ikut. Namun, siapa menduga Tuhan mengulurkan tanganNya dengan mengirim dua anak remaja dari Brisbane, Australia, untuk ikut dalam rombongan tersebut. Di samping itu, terdapat beberapa pengusaha dan satu anak kecil seusia anak bungsu Pdt. Lusiana Harianja Pella. Sehingga dari situ suami dan dua anaknya memutuskan untuk ikut serta ke Tanah Perjanjian.

 

Mengalami Rangkaian Mukjizat

 Perjalanan menuju Tanah Israel bukanlah sesuatu yang mudah. Mengingat kondisi Timur Tengah sedang bergejolak. Terlebih pada Maret 2015 di Turki kerap terjadi bom bunuh diri. Sebagai manusia biasa rasa takut kerap menghinggapi. Namun, sebagai orang percaya pendeta berdarah Manado-Kupang ini sangat mengimani akan pernyertaan dan perlindunganNya terhadap umatNya.

 Selain kondisi atau stabilitas Timur Tengah yang belum stabil sepenuhnya, belum lagi kondisi cuaca yang kerap di bawah 5 atau bahkan di atas 40 derajat celcius kala itu. Sehingga untuk bisa melakukan ziarah ke tempat-tempat yang dikisahkan dalam Alkitab dibutuhkan stamina yang kuat. Apalagi jika naik ke Gunung Sinai di mana semakin tinggi, oksigen semakin berkurang. Terutama persiapan hati karena tak menutup kemungkinan setiap mereka yang percaya akan mengalami perjumpaan langsung dengan Tuhan.

 Setiap kali menjajaki tempat, misalnya, di Kapernaum, ibunda dari Kevin dan Samuel ini pun langsung menggelar ibadah agar para peserta langsung mengetahui cerita dalam Firman Tuhan saat Yesus menyembuhkan anak dari seorang perwira. “Di situ ada peserta seorang ibu berusia 75 tahun. Entah kenapa kaki ibu itu terpotong, karena beling (pecahan kaca) sehingga mengeluarkan darah yang sangat banyak. Kami berdoa meminta Tuhan untuk menyembuhkan. Spontan saya mengambil daun yang ada disitu sembari berdoa. Dan mujijat terjadi Tuhan menyembuhkannya, dan darah itu pun berhenti,” kata pendeta yang giat melayani di berbagai lembaga pemasyarakatan itu bersaksi.

Mukjizat demi mukjizat terus terjadi. Ada yang sembuh dari sakit stroke, asam urat, jantung dan sebagainya. Ia menuturkan bahwa mengenal Allah Tri Tunggal harus bergaul erat denganNya. Allah Trinitas itu tidak bisa ditelaah dengan akal dan pikiran. Saat naik ke Gunung Sinai pun ia mengisahkan pengalamannya. “Dengan hikmat manusia pernah bertanya, apakah ini gunungnya atau bukan, yah? Seketika itu juga Tuhan memberikan petunjuk. Di situ saya langsung minta ampun. Sebab, hikmat Allah jauh dari hikmat manusia,” ujarnya.

 Kendati ke Tanah Perjanjian sudah kelima kalinya, namun Pdt. Lusiana meyakini bahwa semua itu atas perkenanan dan kelayakan dari Bapa di surga. Melalui perjalanan rohaninya itu suami dan dua anaknya itu pun mengalami perjumpaan langsung dengan Tuhan. Dan mereka rindu untuk bisa datang kembali ke Tanah Perjanjian. Di ujung wawancaranya, Pdt. Lusiana yang dikenal tegas dan bernas setiap menyampaikan Firman Tuhan ini berpesan, bahwa pergi ke Israel itu sebaiknya didoakan agar niat itu memang benar datangnya dari Tuhan. Sebab, walaupun terbatas dananya akan tetapi kalau punya niat dengan iman pasti Tuhan bekarya untuk mewujudkan niat kudus itu. BTY

Berita Terkait