Sereida Tambunan, S.IP
Anggota DPRD DKI Jakarta yang Merakyat

1131 dibaca
Sereida Tambunan, S.IP

              Beritanarwastu.com. Bicaranya yang ceplas ceplos seolah menandakan tentang dirinya yang apa adanya. Sereida Tambunan, S.IP sudah giat dalam dunia organisasi sejak remaja. Hal itu terbukti dengan keterlibatannya di berbagai kegiatan pemuda HKBP. Dia salah satu peserta konferensi pemuda HKBP di Sipirok, Sumatera Utara, pada tahun 1990 silam.

Selain itu, sedari awal ia telah giat membela kaum cilik. Sebagai aktivis yang sering dianggap musuh negara pada era Orde Baru, ia tak pernah gentar bersikap. Justru keberaniannya dalam bersikap merupakan modalnya untuk bergabung ke Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), di samping keselarasan dengan visi dan misinya, yaitu berdiri untuk kepentingan rakyat.

              Dengan semboyan Biar Gepeng Asal Banteng”, Sereida kini beruntung bisa jadi anggota DPRD DKI Jakarta di Komisi B. Baginya, jabatan bukan kekuasaan sakral, melainkan amanah rakyat. Dia telah terbiasa dengan berbagai aktivitas, seperti berdiskusi. Dari situ ibu tiga anak ini pun terlibat dalam banyak kasus rakyat, seperti anak jalanan di Pematang Siantar dengan Milton Napitupulu dalam masalah Indorayon.  

            Tahun 1992 setelah lulus dari SMEA di Pematang Siantar, Sumut, ia bergabung dalam pengembangan Gereja HKBP di bagian ekonomi. Tugasnya saat itu menjalankan salah satu program Gereja HKBP dalam membangun dan mengembangkan credit union  untuk masyarakat. “Bagaimana menukar penghasilan masyarakat dari berbagai daerah, misalnya, Sibolga yang dikenal sebagai penghasil ikan kemudian kita bantu untuk dijual ke Siborongborong sebagai daerah penghasil sayuran. Atau hasil rotan dari Tanjung Ledong ke Tarutung. Jadi kita membantu pendistribusiannya,” katanya.

           Kehidupannya yang terbiasa dekat dengan wong cilik membuatnya semakin peka akan makna sebuah kesejahteraan dan keadilan. Hatinya pun terpanggil saat Gereja HKBP tersandung masalah dalam SK Bakortanas. Sereida mencoba untuk menggali berbagai bukti dan informasi melalui penyelidikan yang dilakukannya. Dan pada titik itulah ia merasa terpanggil untuk bisa mengabdi kepada orang banyak.

           Pada tahun 1993 Sereida hijrah ke Jakarta dan langsung bergabung di PMK (Pelayanan Masyarakat Kota) HKBP bersama Indra Nababan. Ia mendapatkan tugas untuk mengorganisir para buruh terutama dalam urusan Pengupahan dan UU Perburuhan di daerah Tangerang dan Cibinong. Karena terbiasa berurusan dengan masalah buruh ia pun berkenalan dengan kawan-kawan dari berbagai gerakan mahasiswa dan gerakan solidaritas lainnya. “Saya memutuskan untuk keluar dari PMK HKBP lalu bergabung dengan Persatuan Rakyat Demokratik (PRD),” terang politisi muda nasionalis dan dinamis lulusan Universitas 17 Agustus Jakarta ini.

          Selain terdaftar sebagai anggota PRD, perempuan yang pernah tercatat sebagai deklarator sekaligus Wakil Sekjen Srikandi Demokrasi Indonesia itu dimasukkan ke dalam struktur Pimpinan Pusat Serikat Tani Nasional. Pada saat itu kiprah PRD sebagai salah satu organisasi kerakyatan dianggap paling vokal dalam menyuarakan soal keadilan rakyat. Tentulah organisasi besutan Budiman Sudjatmiko dan kawan-kawan itu dianggap berbahaya di era Orde Baru.

Tak heran, jika Sereida, Budiman Sudjatmiko, Petrus Hariyanto, Yakobus Kurniawan dan lainnya yang tergabung di PRD pun jadi buruan pihak berwajib. “Setelah kerusuhan 27 Juli 1996 kami terpaksa bersembunyi di belakang Kampus IISIP. Dari situ kami dijemput Pdt. Saut Sirait dan diungsikan ke rumah Bang Pdt. Gomar Gultom (kini : Sekretaris Umum PGI) selama 10 hari di sana. Setelah itu kami pindah tempat ke rumah Pak Benny, adiknya Romo Sandyawan melalui Jhonson Panjaitan,” kenangnya.

Ancaman tak cuma mengancam jiwa Sereida dan kawan-kawan. Akan tetapi, pihak keluarganya pun yang berada di Serbalawan, Kabupaten Simalungun juga didatangi oleh sebuah ormas pemuda. Beruntung Sereida memiliki orangtua yang sangat mengerti akan posisinya sebagai aktivis, sehingga mereka tidak khawatir akan apa yang dilakukannya. Kepiawaiannya dalam hal menata dan mengadvokasi dimanfaatkannya juga untuk bergabung dalam Crisis Center PGI dan duduk sebagai koordinator. Di bawah Biro Pemuda PGI, ia  melatih para relawan mengadvokasi. Ketika itu beberapa daerah tengah dilanda kerusuhan, seperti Ambon dan Timor Leste. Sebagai tim pemantau ia membawa bala bantuan dari PGI dan KWI ke daerah konflik.

           Kinerjanya yang pro-rakyat memiliki kesamaan dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), dan ia memutuskan untuk bergabung pada partai pimpinan Megawati Soekarnoputri itu di tahun 2004. “Saya melihat basis rakyatnya sudah ada dan di PDIP, basisnya biar gepeng asal banteng. Jadi orang-orang nasionalisne, Marhaenis dan Soekarnois ada di situ,” pungkasnya. Di PDIP pun Sere sering mengadvokasi rakyat untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak. Memberikan sosialisasi SKTM, Jamkesmas/Jamkeskin/Jamkesda, KJS, BPJS, pendidikan dan lain-lain.

       Bergabung dalam partai berlambang kepala banteng itu membuat mantan Pembina Pemuda Demokrat PAC Pulo Gadung, Jakarta Timur, yang concern mengorganisir dan menata itu memulai sejumlah kegiatan, seperti menggelar Festival Qasidah yang diikuti oleh 14 regu di Kelurahan Kayu Putih, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Kendati, memeluk Kristen bukan berarti ia membatasi diri untuk berbuat lebih kepada yang berbeda agama dengannya. Baginya, merupakan kebahagiaan tersendiri jika bisa melihat sesamanya beribadah kepada Tuhan dengan senang hati.

             Sereida pun dikenal pendiri dan Ketua Yayasan Muda Marhaen Peduli Bangsa. Ia juga pendiri dan Presidium Seknas Jokowi dan Presidium Seknas Perempuan yang mendapat kepercayaan untuk menjadi tim sukses pemenangan Jokowi-Ahok saat Pilkada DKI Jakarta (2012) khusus daerah Kebagusan. Di GAMKI (Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia), mantan Ketua Pokja Forum Bhinneka Tunggal Ika ini sekarang dipercaya pula jadi Ketua DPD GAMKI DKI Jakarta.

Sebagai tokoh muda yang sudah merasakan pahit getirnya berjuang sejak Orde Baru, Sereida berpendapat, banyak kader Kristen sekarang berkualitas, dan itu harus kita dukung. “NU sangat menghargai kader mudanya, dan kalau ada acara seminar diberikan ruang untuk tampil. Saya hargai upaya NARWASTU yang juga memberikan ruang kepada tokoh-tokoh muda Kristen untuk dipublikasikan agar masyarakat tahu,” paparnya. Di pihak lain, Sereida menyatakan, ia tak setuju kalau seseorang itu dihargai hanya karena jabatan atau kemampuannya secara financial. “Saya ingin dihargai karena prestasi atau karena sudah mengikuti sebuah proses panjang untuk mencapai sesuatu,” cetusnya.

Berita Terkait