Antusias: Bahagia, Merdeka dan Bermakna

Hojot Marluga 1344 dibaca


beritanarwastu.com. Antusias berarti hidup dengan kegairahan, atau semangat yang menggebu-gebu. Dengan antusias, menjadi kekuatan kita dalam mengarungi hidup ini. Bagi saya, jika kita mau antusias, ada tiga hal yang mesti kita hidupi dalam hidup keseharian kita. Apapun situasinya, tanda kita menghidupi “antusias” kita kepada Tuhan. Pertama, hidup bahagia dengan kesederhanaan. Kedua, merdeka dalam setiap situasi yang ada. Ketiga, hidup bermakna dengan menemukan panggilan jiwa kita, orang menyebutnya menemukan passion.

Adagium yang menyebut: "Kesederhanaan pangkal kebahagiaan" benar adanya. Kesederhanaan itu penting. Kesederhanaan bukan berarti ketinggalan zaman, tak perlu mengikuti zaman. Bukan! Kesederhanaan menggambarkan hidup apa adanya, bukan hidup ada apanya. Karena hidup ada apanya selalu menunjuk kemampuan finansial, hedon dan komsumeris. Apa yang diraihnya, apa yang dicapainya, apa yang dipunyainya dipamerkan. Padahal, di hampir seluruh fakta sejarah menyiratkan bahwa kesederhanaan selalu ditunjukkan orang-orang mulia.

Banyak orang yang kaya raya secara materi, tetapi sederhana gaya hidupnya, tak menonjolkan diri, karena mengerti bukan kemewahan kemuliaan, bukan fasilitas mewah mengangkat martabatnya. Itu jugalah sebab, umumnya yang sederhana, orang hidup apa adanya, memuliakan orang lain. Pada pasangan suami istri: Suaminya, dan sebaliknya, istri memuliakan suaminya. Maka untuk apa malu hidup sederhana? Sebab letak kemuliaan tak ada pada fisik yang terlihat, tetapi jiwa di lubuk terdalam.

Sebagaimana bait syair menyebut, terkubur di dalam sejuta pilu. Terpendam di dalam kalbu. Cahaya kemuliaan itu letaknya di dalam, tetapi memang terpancar keluar. Namun yang mengherankan amat latah orang memolesnya di luar saja, lupa menghidupi yang di dalam. Jadi terbiasa bermekap atau dijadikan solek untuk menutupi cahaya hati itu.

Mengutamakan kemewahan. Segelintir orang menjual kejujuran, menggadaikan harkat martabatnya demi ambisi keberpunyaan materi tadi. Berfoya-foya dan hidup hedon dipujinya sebagai kebahagiaan. Tak ada di kamusnya berhemat, sabar senantiasa, tidak berfoya-foya apalagi. Belajar prihatin, memantaskan diri atau mencukupkan diri pada apa yang ada padanya. Padahal, alih-alih kebahagiaan tak tergantung oleh situasi, baik buruk pun keadaannya. Tetapi, ini menyangkut suasana hati, batin, pikiran atau jiwa. Sekalipun harta banyak, jika hati dan semua perangkapnya, tetap belum bisa bersyukur, tak akan dapat melihat sebening kebaikan. Tak akan bahagia, tak mungkin bahagia.

Selanjutnya, yang mesti dimiliki adalah merdeka. Merdeka berarti tak terjajah, atau tak terpenjara oleh keadaan, baik buruk pun itu. Bisa juga kita sebut tak dikungkung oleh apa pun juga. Merdeka dari setiap intervensi apapun. Merdeka, kata lain happy dalam hidupnya. Tentu bukan merdeka, lalu bebas sebebas-bebasnya melakukan yang tak patut! Tetapi, bebas melakukan kepantasan, kebaikan yang positif.

Akhirnya, bukti kita juga menghidupi antusiasme dengan menunjukkan kebermaknaan hidup. Antusias dalam setiap keadaan cerminan dari memahami dan menghidupinya. Paling sederhana terlihat dalam diri seseorang yang memiliki kebermaknaan, menyadari panggilan jiwanya. Profesinya membawa kebermanfaatan pada orang lain. Dengan sikap antusias, menjadi motivasi baginya untuk terus mencari makna di kehidupan. Para seniman (artis) sudah lama mengetahui harta dunia hanyalah hiasan semata.

Kita ingat lagilah lagu Pambers: Cinta dan Permata...Harta adalah hiasan hidup semata. Kejujuran, keikhlasan, itu yang utama. Jangan kau taburi cinta dengan permata. Tetapi hujanilah semua dengan kasih sayang...

Lucunya, kita juga selalu tergoda mengejar hiasan itu, umumnya artis. Padahal, hiasan hanyalah ornamen pemanis, terlihat manis. Padahal, esensinya bukan terpaut melengket pada hiasan, tetapi di kedalaman makna. Sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah kesementaraan, hanya kita lupa, bahkan, lupa dipermainkan oleh gurauan materi. Demi mengejar perhiasan meniadakan bahkan tak mempedulikan yang lain, yang ada kita menjadi egois.

Maka tanda orang yang memahami kebermaknaan, terlihat, sepeninggalannya, pasti meninggalkan kemanfaatan bagi orang lain. Orang yang menemukan kebermakaan dalam hidupnya adalah manusia mulia. Orang-orang yang mulia itu terlihat setelah mereka meninggal. Sekali lagi, apa yang dikerjakan semasa hidupnya, pastilah meninggalkan kebaikan bagi orang lain.

Tentu, sebagaimana kita tahu bersama dalam sejarah--tak selalu seluruhnya setuju dengan tindak-tanduk mereka, barangkali, ada yang pro dan kontra. Itu menandakan bahwa manusia tak ada yang sempurna seratus persen, semuanya menuju kesempurnaan. Memang memahami itu menandakan (ia) sosok yang tak tahu segala-galanya, tak mampu menghalau seluruhnya. Karena itu, modal utama perlu rendah hati. Kenyataan menyiratkan kerap kali kesombonganlah yang menonjol, menjauhkan orang dari kemuliaan di kemudian. Lagi-lagi antusiasme berarti juga selalu tabah, senantiasa gigih menghadapi segala permasalahan hidup. Hal itu menjadi obor ketika berada dalam jalan kegelapan. Karena itu, sikap arogan dan rasa suci diri, perlu disingkirkan, agar tak terjerumus pada jurang kesombongan, memetik keabadian.

Berita Terkait