Arti Kemerdekaan Bagi Orang-orang Percaya

Pdt. DR. Charles Polimpung, S.H., M.Th, D.D.Min 1257 dibaca


beritanarwastu.com-Merdeka…merdeka! Itulah teriakan yang selalu kita kumandangkan setiap tiba hari kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus tiap tahunnya. Setelah kurang lebih 350 tahun kita dijajah oleh Belanda dan Jepang, maka tibalah saatnya kita merdeka dari penjajahan. Sehingga bulan Agustus ini kita sudah merayakan hari kemerdekaan Indonesia yang ke-71 tahun. Bangsa Israel pun demikian. Setelah mereka dijajah habis-habisan, ditindas bahkan sampai diperbudak dan tidak mempunyai hak apa-apa oleh bangsa Mesir, kemudian melalui banyak mukjizat yang dilakukan Tuhan melalui Musa, hingga bisa membelah laut Teberau dan mereka jalan di kekeringan, lalu Tuhan mencampakkan orang-orang Mesir sampai tidak ada apapun yang hidup terkubur dalam laut Teberau (Keluaran  14:29, 30).
Setelah bangsa itu merdeka dari penjajahan Mesir, dan pada saat sudah berada dalam perjalanan menuju tanah perjanjian, bangsa Israel mulai bersungut-sungut kepada Musa sebagai pemimpin mereka. Bahkan banyak yang berkeinginan untuk kembali lagi ke Mesir. Mereka berpikir, lebih baik dijajah daripada mati di padang gurun, itulah antara lain sungut-sungutan bangsa Israel.
Bangsa kita juga mengalami hal yang sama setelah Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan, dan mulai menjalankan pemerintahannya. Banyak masyarakat yang tidak puas, sehingga berujung jatuhnya Bung Karno Sang Proklamator. Dan di era pemerintahan Orde Baru kembali kita mulai merasa dijajah. Banyak rakyat yang kehilangan kemerdekaannya, sehingga berujung jatuhnya Soeharto, pemimpin Orde Baru. Lalu masuklah kepada era Reformasi. Silih berganti para presidennya, mulai Habibie, Gus Dur, Megawati Soekarnoputri, SBY  dan sekarang Jokowi. 
Kita  dapat merasakan kemerdekaan. Semua  mempunyai hak kemerdekaan untuk berpendapat, berekspresi,  mengkritik dan sebagainya atas nama kemerdekaan. Yang menjadi pertanyaan: Apakah kita sudah merdeka? Atau kita masih hidup dalam penjajahan?  Dalam era ini juga masyarakat mulai bertanya-tanya tentang hak-hak kemerdekaannya. Bahkan, bukan sedikit yang mungkin sudah putus asa  dan mulai berkata: Masih lebih baik kita kembali saja ke Orde Baru.
Dalam merayakan hari kemerdekaan ke-71 tahun ini, sebenarnya bagaimana seharusnya kita bersikap. Bagi orang-orang percaya kepada Yesus Kristus, Yesus telah memberikan kemerdekaan kepada kita semua dengan mengorbankan dirinya sendiri, setia sampai disalib untuk membebaskan kita dari kutuk dan dosa itu adalah maut (Roma 3:23).  Maut di sini adalah masuk neraka.  Yesus telah memerdekakan kita dari maut. Roma 8:2 mengatakan, Roh yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukuman dosa dan hukuman maut. Maka oleh sebab itu, kita sebagai orang percaya kepada Yesus Kristus, tuntutan yang pertama selalu orang-orang yang sudah merdeka melakukan kebenaran sebagaimana kita dapat baca dalam Roma 6:18, “Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran.“ 
Kemudian dalam Galatia 1:13, supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita, karena itu berdirilah teguh dan jangan mau dikenakan kuk perhambaan (dijajah oleh dosa). Bangsa Israel sudah merdeka masih ingat Mesir. Indonesia sudah merdeka masih ingat kesalahan-kesalhan Orde Lama  dan Orde Baru. Ada kecenderungan ingin kembali ke orde-orde tersebut. 
Orang-orang percaya sudah bebas dari dosa oleh pengorbanan Kristus, tetapi masih ada juga yang justru mengingat diri menjadi hamba dosa, seperti terjerumus korupsi, manipulasi, pemerkosa, pembunuh dan lain-lain. Bahkan, ada yang rela menukarkan kemerdekaan/haknya dengan sekadar jabatan, kesenangan dan pindah kepercayaan.  Jadi sebenarnya jika kita tahu bahwa kita sudah merdeka, maka sebagai orang percaya kita harus mengetahui persis kita ditempatkan pada barisan yang sama. Kita harus  menatap masa depan yang jauh lebih baik dan berguna untuk memperolah mahkota kehidupan yang kekal.
Ibrani 12:1, karena kita mempunyai banyak saksi bagai awan yang mengelilingi kita, marilah kita semua menanggalkan beban dan dosa yang begitu merintangi kita. Dan kita berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita. Untuk itu bagi kita yang percaya kepada Yesus, seharusnya kita harus dapat melupakan masa-masa  di mana kita pernah dijajah oleh bentuk apapun. Sehingga dengan bangga kita dapat ucapkan “SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA.“
*  Penulis adalah pimpinan STT INALTA, Jakarta.

Berita Terkait