Sahala R.H. Panggabean, MBA
Bahagia dan Merasakan Anugerah Tuhan atas Pernikahan Anaknya Terakhir

1527 dibaca
Pak Sahala R.H. Panggabean, MBA, Ibu Tetty M.L dan Keluarga tampak bahagia bersama kedua pengantin.

Dalam masyarakat Batak Toba ada ungkapan: Anakkon hi do hamoraon di au. Artinya, anak itulah kekayaan bagi orangtua. Dan orangtua sangat bahagia kalau anaknya sudah berhasil, baik di dalam kuliah atau pendidikan maupun setelah menikah. Kebahagiaan itulah yang dirasakan pengusaha tangguh, nasionalis dan sukses, Sahala R.H. Panggabean, MBA. Pada Sabtu, 21 Mei 2016 lalu, putra ketiganya dari empat anaknya, Ricordias Domini Panggabean, S.E. telah menerima pemberkatan pernikahan dengan gadis yang dicintainya, Laura Puspita Sari Tambunan, Am.Keb di Gereja HKBP Rawamangun, Jakarta Timur.

                Seusai acara pemberkatan nikah kudus itu, dilanjutkan dengan acara resepsi atau jamuan makan siang dan acara adat istiadat Batak Toba di Gedung Balai Samudera, Kelapa Gading, Jakarta Utara, yang dihadiri lebih dari 1.500 orang undangan. Dalam acara itu banyak hadir handai taulan, kerabat, sahabat dan kolega dari Sahala Panggabean dan istri tercinta Ibu Tetty M.L. Situmorang. Mereka hadir memberikan doa dan restu untuk pasangan pengantin berbahagia itu. Pengantin wanita adalah putri tercinta dari keluarga Bapak Parlin Tambunan dan Ibu Maeka Siburian.

                Pengantin pria Ricordias Domini Panggabean adalah lulusan Universitas Kristen Maranatha, Bandung, jurusan Akuntansi. Sedangkan pengantin wanita lulusan dari Akademi Kebidanan Jakarta. Selain mengikuti prosesi adat istiadat Batak yang diikuti keluarga besar Panggabean, keluarga besar Tambunan, juga kerabat dari kedua orangtua, baik keluarga besar Situmorang maupun Siburian serta komunitas dari Dalihan Na Tolu.

            Kedua pengantin itu juga menggelar resepsi di Hotel Raffles, Jakarta selatan, pada Minggu, 29 Mei 2016. Dan banyak kolega dan sahabat Pak Sahala Panggabean yang hadir di acara itu. Bahkan, sejumlah figur terkenal, seperti pengacara senior Hotma Sitompul, S.H., M.H., Sekretaris Kementerian Koperasi RI, dan mantan Menteri Koperasi dan UKM yang kini menjabat Ketua Pelaksana Harian DPP Partai Demokrat, Syarifuddin Hassan ikut hadir di acara tersebut.

                Kepada Majalah NARWASTU, Pak Sahala menerangkan, ia bahagia, karena di acara adat istiadat di Balai Samudera, Jakarta Utara, hadir banyak tokoh masyarakat Batak, tokoh-tokoh adat, tokoh gereja dan para sahabatnya. Sedangkan di acara resepsi banyak hadir para sahabatnya dari kalangan direksi bank dan orang-orang terkemuka. “Semua itu karena anugerah Tuhan Yesus. Saya memang selalu berdoa agar acara pernikahan anak saya terakhir ini dihadiri para kolega dan sahabat saya. Karena saya masih sehat dan bisa melihat anak-anak saya menikah, itu luar biasa anugerah Tuhan,” ujar Presiden Komisaris NASARI Group ini.

                Ketua Umum Forum Komunikasi dan Sinergi (FKS) Pomparan Si Raja Panggabean se-Indonesia dan Ketua Umum ASKOPINDO (Asosiasi Koperasi Simpan Pinjam Indonesia) ini menambahkan, dari pengalaman hidupnya, ia banyak melihat orangtua tidak bisa lagi melihat anak-anaknya menikah, lantaran sudah dipanggil Tuhan dan sakit. “Puji Tuhan, saya masih bisa berdiri dan sehat melihat anak saya menikah. Semua itu karena kasih dan kemurahan Tuhan. Makanya saya kontak para relasi bisnis dan sahabat saya, baik melalui telepon, SMS, WA dan undangan agar mereka bisa hadir memberikan doa dan restu untuk anak saya itu. Dan banyak juga yang hadir,” ujarnya terharu.

                Bahkan, pengacara kondang yang sudah punya reputasi internasional, Dr. Hotman Paris Hutapea, S.H. ikut hadir memberikan selamat dan restu kepada kedua pengantin itu. “Saya juga bersyukur karena keluarga besar Panggabean dan keluarga besar Situmorang dari pihak istri saya begitu besar perhatian dan doanya untuk kesuksesan acara itu. Itu juga kemurahan Tuhan bagi kami. Sehingga saya jadi teringat akan ajaran Alkitab yang mengatakan, berbahagialah orang yang rendah hati dan mau menolong sesamanya, maka ia akan dimuliakan. Tugas saya sebagai orangtua pun sudah saya upayakan agar anak saya pun bahagia di dalam berumah tangga,” ujar pria yang termasuk dalam “Tokoh Kristiani 2010 dan 2014 Pilihan Majalah NARWASTU” ini.

                Sahala Panggabean yang pada 2012 lalu mendapat penghargaan bergengsi, Satyalancana Pembangunan dari Presiden RI Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas prestasinya di bidang koperasi nasional, menuturkan, “Saya pun meminta maaf kepada para sahabat dan kolega yang merasa tidak diundang, sehingga tidak hadir di acara itu. Padahal seingat saya semua teman-teman itu sudah saya kirim SMS dan undangan. Kalaupun ada yang terlupakan, itu masalah teknis. Yang pasti saya tetap menyampaikan rasa hormat dan penghargaan yang tinggi kepada para sahabat yang tetap menyampaikan doa untuk anak kami, sekalipun lupa untuk diundang hadir.”

                Kehadiran banyak orang terhormat dan terkenal di acara pernikahan dan resepsi  Ricordias dan Laura, kata Sahala, itu juga karena kekompakan keluarga dan kebaikan Tuhan. “Tuhan yang menggerakkan hati mereka untuk hadir di acara anak kami. Saya tahu mereka sibuk luar biasa, bahkan berada di luar negeri. Namun saat mereka hadir, berarti mereka masih mencintai dan menghormati saya. Saya memang sejak awal sudah mengatakan, dari empat anak saya, ini terakhir kali saya menikahkan anak, sehingga saya berharap agar para sahabat dan keluarga terdekat semua hadir untuk memberikan doa dan restu untuk mereka. Saya amat yakin bahwa doa-doa yang dipanjatkan untuk kedua pengantin ini didengar Tuhan,” ujar pria yang pernah selama 30 tahun lebih menjadi sintua (penatua) di Gereja HKBP Kertanegara, Semarang, Jawa Tengah, itu.

                Berbicara tentang refleksinya atas pernikahan anaknya di tengah usianya yang semakin senja, apalagi ia sudah menuai sukses sebagai pengusaha dan meraih banyak penghargaan bergengsi, dengan rendah hati dan bijaksana Pak Sahala Panggabean menerangkan, “Saya tak bisa menilai prestasi atau keunggulan saya. Orang lain yang menilai saya. Ketika saya mendapat penghargaan dari Presiden RI, juga dari Kementerian Koperasi, bahkan mendapat penghargaan sebagai Tokoh Kristiani dari Majalah NARWASTU, itu semua di luar pikiran saya. Semua karena kebaikan Tuhan.”

                Menurutnya, memang sejak ia terpilih sebagai “Tokoh Kristiani 2010 dan 2014 Pilihan NARWASTU”, kalau ia hadir di acara-acara gereja atau acara masyarakat Batak, banyak yang menyapa dan menyalaminya. “Mereka bilang, wah, ini Pak Sahala Panggabean, Tokoh Koperasi dan Tokoh Kristiani yang dimunculkan NARWASTU. Beliau ini hebat. Saya mengucapkan terima kasih kepada mereka atas atensinya. Ternyata mereka ikuti juga pemberitaan NARWASTU. Saya tentu bersyukur, karena yang saya lakukan dan saya raih diketahui banyak orang. Seperti jabatan di Keluarga Besar Panggabean, itu tak pernah saya bayangkan. Kalau saya diminta dan saya mampu dan bisa melayani, iya, saya berupaya ikut melayani,” tukasnya.

                Sebagai orangtua yang dikenal dekat dengan anak-anak dan para cucunya, Sahala sering berbicara tentang mahalnya reputasi kepada anak-anaknya. “Saya sering bilang kepada anak-anak, kalau kita ingin dihargai di dalam hidup ini, maka kita harus punya reputasi dan integritas yang baik. Kalau kita sudah punya cacat, misalnya, di dalam bisnis atau kehidupan masyarakat, maka orang tidak akan menghargai kita lagi. Saya sekarang sering merenung, kalau sampai Presiden RI memberikan penghargaan kepada saya, juga Majalah NARWASTU menyebut saya Tokoh Kristiani, itu semua melalui proses panjang. Tak mungkin kita dihargai kalau dianggap tak punya nilai atau tak punya prestasi,” terang mantan bankir yang sarat pengalaman itu.

                Menurutnya, ia selalu mengajarkan kepada anak-anaknya agar selalu menjaga reputasi di dalam hidup ini. “Kita harus punya reputasi yang baik, punya prestasi dan mengasihi sesama, maka kita akan dihargai. Kalau kita ingin punya prestasi besar, maka kita juga harus punya ide besar, dan jangan berada di zona nyaman. Kalau kita sudah merasa hebat, maka kita akan sulit mengembangkan diri. Dan kalau kita sudah punya reputasi, maka jaga itu dengan tekun berdoa dan tetap rendah hati. Kalau kita selalu tekun berdoa, dan mau terus belajar, maka Tuhan akan menambahkan berkatNya kepada kita,” pungkas Sahala Panggabean yang senang membaca buku-buku filosofi Tiongkok dan buku-buku motivasi, termasuk Majalah Luar Biasa yang diterbitkan motivator kondang, Andrie Wongso.

                   Kepada kaum muda, terutama kepada anak-anaknya, Sahala pun selalu mengatakan, agar mereka di dalam hidup ini tekun bekerja dan jangan gampang menyerah. “Bangun jaringan yang luas, hormatlah kepada orangtua yang sudah banyak pengalaman, belajarlah kepada orang sukses dan tekunlah berdoa. Anak muda juga jangan takut gagal, kalau gagal coba lagi berusaha lebih baik agar berhasil. Saya banyak membaca buku-buku filosofi Tiongkok yang sarat dengan pesan-pesan moral dan semangat hidup. Itu sangat penting dibaca generasi muda,” terangnya bijaksana.

                Menurutnya, ada banyak orang muda yang gagal di dalam hidupnya, lalu frustrasi, karena dia tidak mengenal Tuhan dengan baik dan benar. Orang yang mengenal Tuhan akan selalu semangat dan terus berusaha serta tekun berdoa. “Saya pernah baca sebuah renungan yang ditulis di Majalah Intisari tentang kehidupan yang sukses. Dikatakan di dalam tulisan yang sangat menginspirasi itu, kalau kita mau sukses yang kita lalui bukan jalan yang ditaburi bunga, namun kita harus sabar dan mau melewati jalan yang bertaburan paku. Itu artinya kita harus siap merasakan yang pahit dan sakit dulu, baru kita meraih sukses. Kalau sekarang banyak anak muda maunya sukses instant. Mana bisa begitu,” tegasnya.

 

Dukungan Luar Biasa Istri dan Menjaga Kesehatan

                Berbicara tentang kesuksesan yang diraih Pak Sahala Panggabean, ia setuju dengan ungkapan: Kesuksesan seorang suami, pasti di belakangnya ada seorang istri yang hebat dan selalu mendukung serta menopang dengan doa. “Istri saya atau ibu di rumah tentu sangat mendukung saya di dalam pekerjaan dan aktivitas sehari-hari. Mulai dari urusan pakaian, makanan dan pembagian waktu selalu saya dibantu. Juga anak perempuan sama istri saya, kalau kami makan bersama-sama di sebuah restoran, selalu saya diingatkan agar jangan terlalu banyak mengkonsumsi makanan dengan kadar kolesterolnya tinggi,” ujarnya tertawa.

                Lantaran punya aktivitas yang padat, dan sering naik turun pesawat dari satu kota ke kota yang lain, Sahala menerangkan, “Istri saya di rumah sering mengingatkan saya agar mengurangi aktivitas yang padat. Baik di organisasi koperasi, pekerjaan maupun pelayanan. Sering dibilang agar dibagikan juga waktu buat para cucu. Iya, tentu saya perhatikan itu, dan kita harus pintar-pintar membagi waktu.” Agar staminanya selalu bugar, katanya, ia selalu menyempatkan diri sekitar 30 menit setiap pagi untuk berolahraga agar berkeringat, dengan olahraga golf atau treadmill.

             “Kalau kita berolahraga, maka bekerja pun semangat dan kita sehat. Saya pun sudah mengurangi makanan yang enak-enak, dan tak lupa saya konsumsi suplemen seperti Omega 3 dan Vitamin C agar fisik tetap prima dan bugar. Kalau kita sehat, maka berpikir pun tenang, fokus dan enak,” ujar pria yang sudah mendapat tawaran agar bersedia mendapat gelar kehormatan (status sosial terhormat) dari sebuah etnis di negeri ini, lantaran ia berprestasi di bidang bisnis dan kemasyarakatan itu, namun Sahala untuk saat ini belum siap menerima gelar kehormatan bergengsi itu. “Tapi suatu saat saya akan terima gelar kehormatan atau status sosial terhormat itu. Karena itu juga penghormatan kepada kita,” ujarnya bijaksana.

                Kepada anak-anaknya yang sudah berkeluarga, Sahala Panggabean juga berpesan agar di dalam kehidupan rumah tangga, “Yesus dijadikan sebagai Kepala Keluarga. Di dalam berkeluarga itu pasti ada masalah. Namun kalau kita selalu berdoa dan berupaya hidup rukun dan damai, pasti akan ada kebahagiaan. Kebetulan anak-anak saya ada yang menikah di luar suku Batak, jadi kehidupan keluarga kami sudah terasa lintas suku dan ber-Bhinneka Tunggal Ika. Dari orangtua kami pun ada yang menikah dengan suku di luar Batak. Meski demikian tetap kami sangat menghargai adat Batak, dan tetap diutamakan kehidupan spiritualitas yang memuji Tuhan, karena Dialah Sumber Kehidupan kita.” JIM    

Berita Terkait