Pdt. R.T. Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.M., M.PdK:
Bangsa ini Butuh Figur-figur Berkarakter, Berani dan Antikorupsi Seperti Ahok

614 dibaca
Pdt. R.T. Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.M., M.PdK. Nasionalis dan religius.

                BERITANARWASTU.COM. Bangsa ini atau negeri ini membutuhkan figur-figur pemimpin yang berkarakater, berani, Pancasilais dan antikorupsi. Jangan dilihat seseorang pemimpin itu dari agama atau sukunya, tapi lihatlah apa yang dilakukannya kepada rakyat. Apakah pemimpin itu mampu mengangkat kehidupan masyarakat agar lebih sejahtera, dan apakah pemimpin itu melayani rakyat sesuai dengan konstitusi negara. Itu yang mesti kita lihat. “Saya melihat figur seperti Ahok (Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M.) dibutuhkan DKI Jakarta pada khususnya, dan daerah-daerah lain di Indonesia, termasuk bangsa ini,” tegas Pdt. R.T. Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.M., M.PdK, tokoh muda Kristiani yang juga Ketua DPD Asosiasi Pendeta Indonesia (API) Jawa Barat kepada Majalah NARWASTU.

                Terkait dengan fenomena Pilkada DKI Jakarta yang kini menjadi sorotan secara nasional, bahkan internasional, advokat/pengacara muda yang tergabung di DPN PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia) yang juga menggembalakan jemaat di Gereja Kristen Kudus Indonesia (GKKI) Jemaat Manna 2 Bandung, dan Ketua IV Majelis Pusat Sinode GKKI ini menerangkan, saat ini mata banyak orang di Indonesia memang tertuju ke Pilkada DKI Jakarta Putaran ke-2 pada 19 April 2017. Dan banyak elite politik yang berkepentingan dengan Pilkada DKI Jakarta.

                “Mata banyak orang di Indonesia sekarang tertuju ke Pilkada DKI Jakarta, karena DKI Jakarta itu ibukota RI, juga karena ada fenomena Ahok. Ahok itu pemimpin yang berkarakter, antikorupsi, dan rakyat DKI Jakarta bisa melihat dan merasakan hasil kinerjanya selama ini. Ada sejumlah lawan politik yang ingin menjegal dia, namun sangat susah mencari kesalahannya. Makanya diupayakan berbagai cara untuk menjegal Ahok agar tidak bisa lagi menjadi Gubernur DKI Jakarta untuk periode berikutnya. Fenomena Ahok ini pun mendapat perhatian dari media luar negeri, karena dia pemimpin berprestasi, dan ‘minoritas’ dari Kristen dan Tionghoa,” papar pria kelahiran Sumatera Utara, 17 Agustus 1974 ini.

                Lukas Kacaribu yang merupakan salah satu dari “21 Tokoh Kristiani 2014 Pilihan Majalah NARWASTU” dan kini menjabat sebagai Direktur PT. Pacifik Sumatera Indonesia (SUMTECH), yang pabriknya ada di Medan dan Bandung, menerangkan, kalau pada akhir 2016 lalu ada demo-demo besar yang terjadi di DKI Jakarta, yang sempat mengkhawatirkan banyak orang, Lukas melihat demo itu jelas bertujuan politik. “Demo itu tak murni lagi, karena tujuannya, kan, untuk menjatuhkan Ahok. Kalau Ahok tidak lagi jadi gubernur, maka kepentingan mereka bisa diwujudkan, dan selama Ahok menjabat, kepentingan mereka terganggu,” cetusnya.

                Namun, katanya, demo-demo itu sekarang sudah makin menurun jumlahnya, bahkan mulai berhenti. “Banyak orang percaya yang berdoa agar bangsa ini, terutama DKI Jakarta, aman, damai dan tidak terjadi konflik. Kita bersyukur, karena Presiden RI yang kita banggakan Pak Jokowi, Panglima TNI, Kapolri, semua aparat keamanan, dan ring 1 dari Presiden RI bisa bekerjasama dengan baik, sehingga di negeri ini tak sempat terjadi perpecahan atau kerusuhan karena aksi demo besar tersebut,” katanya.

 

  

Pdt. R.T. Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.M., M.PdK (Ketua DPD API Jawa Barat) bersama Pdt. Brigjen TNI (Purn.) Drs. Harsanto Adi S., M.M., M.Th (Ketua Umum DPP Asosiasi Pendeta Indonesia/API). 

 

                “Puji Tuhan, keadaan sosial dan politik cukup stabil, sehingga ini berdampak pada keadaan ekonomi yang juga stabil. Jadi Pemerintah berhasil menjaga kestabilan di bidang sosial, politik dan ekonomi. Dan hukum pun bisa ditegakkan dengan baik. Saya amati selama ini, Kapolri dan Panglima TNI begitu luar biasa dalam menangani demo-demo besar di DKI Jakarta pada akhir 2016 dan awal 2017 ini. Dan tentu itu semua didukung oleh “invisible hand”, atau dalam bahasa rohani tangan-tangan dari surga atau perlindungan Tuhan,” terang Ketua Forum Bhinneka Tunggal Ika Indonesia, yang di Pilpres 2014 lalu ikut menggaungkan kedamaian dan kerukunan di tengah gereja, masyarakat dan bangsa.

                Secara rohani, kata Lukas, kalau kita cermati demo-demo massa yang luar biasa di DKI Jakarta pada 11 November dan 2 Desember 2016 lalu, suasana saat itu di negeri ini, terutama DKI Jakarta begitu genting dan mengkhawatirkan. Apalagi saat itu ada juga daerah seperti Papua, Ambon dan Nusa Tenggara Timur yang juga membela dan bersimpati kepada Ahok yang merupakan sasaran aksi demo. “Saat itulah banyak jaringan doa yang bergerak untuk mendoakan bangsa dan negara ini agar aman, damai dan rukun,” ujar pria yang juga dulu aktif di Jaringan Sosial Media (Jasmed) Jokowi-JK di Pilpres 2014 lalu.

           Menurut Lukas, sinode-sinode atau gereja-gereja di Indonesia ikut juga selama ini membantu kelancaran Pilkada Serentak 2017 agar berjalan damai, lancar dan rukun lewat doa-doa yang dipanjatkan secara tekun, serta sosialisasi kepada jemaat agar ikut menjaga ketenteraman di pilkada. “Kalau kita lihat demo massa yang diikuti lebih dari 500.000 orang massa pada akhir 2016 lalu, itu luar biasa besar. Itu hampir satu juta jumlahnya, kata banyak kalangan. Kita lihat aksi mahasiswa pada 1998 lalu, itu bisa menurunkan rezim Soeharto, karena saat itu saya masih ikut di dalam aksi mahasiswa saat reformasi bergulir,” tukas pria yang kini akan terjun berpolitik lewat parpol nasionalis dengan nilai-nilai Kristiani.

             Dan, kata Lukas, kita lihat aksi demo pada akhir 2016 kemarin tampak begitu damai dan tenang. Kalau bukan tangan Tuhan atau malaikat Tuhan yang menjaga, maka bisa kita bayangkan apa yang bakal terjadi di DKI Jakarta ketika itu. Dan bisa saja kekacauan yang terjadi. “Orang-orang yang mengangkat tangan ke sorga atau berdoa saat terjadi demo-demo besar itu, sangat banyak. Kalau banyak umat yang berdoa, maka Tuhan tak akan tinggal diam. Pasti Tuhan mendengarkan doa-doa umat yang berserah dan tulus berdoa kepadaNya. Tuhan pun akan menjaga dan melindungi orang-orang yang berserah, seperti di DKI Jakarta dan Indonesia ini. Karena itu, kita harus terus bergandengan tangan dan terus berdoa untuk gereja, bangsa dan negara ini,” tukasnya.

                Menurut Lukas, kalau kita bicara dari sisi spiritual atau dari sisi rohani, sebuah bangsa, kota atau provinsi akan damai, sejahtera dan aman, kalau di situ ada orang-orang Kristen yang terus berdoa dan menyembah Tuhan. “Jadi jangan sesekali kita lupakan berdoa. Dalam hidup ini kita membutuhkan bimbingan atau tuntunan Tuhan. Sehingga kita mesti ada kerinduan untuk bertemu dengan Tuhan setiap waktu. Kalau kita mau berdoa dan menyembahNya, maka Roh Kudus akan turun. Dan Dia yang akan memberikan bimbingan, ketenangan dan kedamaian bagi kita,” paparnya.

                Terkait dengan Pilkada DKI Jakarta Putaran Ke-2, Lukas Kacaribu yang dikenal figur muda nasionalis, religius dan peduli pada persoalan gereja dan bangsa berpendapat, dalam menyikapi Pilkada DKI Jakarta 2017, semua pihak yang ada di DKI Jakarta diharapkan agar bisa tampil berpolitik secara profesional. “Baik pihak Ahok-Djarot maupun pihak Anies-Sandiaga mesti mampu berpolitik profesional dan menjaga etika berpolitik. Pemerintah pun harus mampu mengedukasi masyarakat agar bisa menyikapi perpolitikan saat ini dengan cerdas dan rasional,” tegasnya.

                Berbicara soal agama dan suku dari calon yang tampil, itu sesungguhnya yang kita prihatinkan agar jangan dimunculkan lagi. Karena itu bisa membuat masyarakat terjerumus pada konflik. Soal SARA (suku, agama, ras dan antargolongan) itu sudah selesai. Di negeri ini, apalagi dalam percaturan pilkada, jangan lagi agama dan suku dipersoalkan. Raja Salman dari Saudi Arabia saja saat berkunjung ke Indonesia dan bertemu dengan pastur, mereka bisa berkomunikasi baik dengan bahasa Arab, dan tak ada masalah,” cetusnya.

                Berbicara soal harapannya kepada warga gereja dan pemimpin gereja, Lukas mengatakan, warga gereja harus ikut berperan di setiap pilkada atau event-event politik untuk menciptakan kerukunan dan kedamaian. Para pemimpin gereja kita harapkan dapat bergandengan tangan dan merendahkan hati. “Jangan lagi kita hanya mengurusi organisasi masing-masing, tapi tetap perhatikan situasi masyarakat dan bangsa ini. Jangan pula kita hanya membangga-banggakan organisasi kita masing-masing,” ujar Lukas yang kini sedang menyusun tesis S2 bidang kepailitan di Fakultas Hukum Universitas Padjajaran, Bandung.

                Dan, katanya, Lukas mengharapkan warga DKI Jakarta agar tampil beda dari warga kota lain atau daerah lainnya dalam menghadapi kegiatan politik di tengah bangsa ini. “Jakarta adalah ibukota Republik Indonesia, jadi warganya harus lebih cerdas dan beretika dalam ikut berpolitik. Mari ikuti Pilkada DKI Jakarta 2017 dengan profesional, jangan ikut-ikutan membuat situasi agar semakin gaduh, jangan membuat berita-berita hoax atau berita bohong, dan kita harapkan agar warga DKI Jakarta yang sudah lebih berpendidikan bisa mengupayakan pilkada yang damai, rukun dan adil,” terangnya.

               Kepada elite-elite politik di DKI Jakarta, Lukas berharap supaya mereka kalau menyampaikan statement harus sesuai dengan konstitusi, dan jangan sembarangan berbicara, sehingga membuat rakyat resah dan bingung. “Para elite politik pun perlu membaca dan belajar melihat undang-undang dan konstitusi, sehingga tidak asal bicara. Mereka kita harapkan agar berbicara demi kepentingan rakyat dan bangsa, bukan demi kepentingan golongan atau partai politik (parpol),” terangnya.

               Ketika ditanya lagi pendapatnya soal figur Ahok yang juga mantan Bupati Kabupaten Belitung Timur, Bangka Belitung, dan mantan anggota Komisi II DPR-RI, Lukas menerangkan, Ahok itu punya hati yang tulus, ia murni melayani masyarakat lewat jabatannya, antikorupsi, bekerja dengan hati untuk menata DKI Jakarta agar lebih baik. Semua dinas-dinas di DKI Jakarta dia perbaiki. Termasuk dia bentuk pasukan orange dan pasukan biru agar bisa membantunya melayani masyarakat. “Juga angkutan seperti Trans Jakarta ditatanya agar baik, kali-kali di DKI Jakarta dibersihkan agar bisa mencegah banjir. Serta orang-orang miskin diperhatikannya. Dan yang tak kalah pentingnya, ia memimpin DKI Jakarta tanpa melihat  agama atau sukunya,” ujarnya.

                “Ahok itu bekerja melayani masyarakat sesuai dengan konstitusi negara. Dia juga luar biasa, punya iman yang teguh. Bahkan, dia berani dengan terbuka mengatakan, ia siap mati demi kebenaran. Dan itu disampaikannya sesuai dengan imannya. Tak ada pemimpin seperti Ahok yang berani mengatakan, siap mati kalau memang itu untuk kebenaran. Ahok pun seorang suami yang baik, ayah yang baik dan koko yang baik bagi saudara-saudaranya. Karena ada pemimpin yang hebat, namun di dalam keluarga tidak mampu menjadi suami, ayah dan kakak yang baik,” ujarnya.

                Sebagai seorang Kristen yang taat dan beriman teguh, kata Lukas, Ahok juga di tengah kesibukannya yang luar biasa dia masih membuat mezbah keluarga bersama anak-anak dan istrinya.  Dia juga tekun membaca Alkitab, sehingga nilai-nilai atau ajaran dari Alkitab sungguh-sungguh menjadi pegangannya di dalam kehidupan sehari-hari. Dan Alkitab juga memberikan kekuatan dan ketenangan bagi Ahok. Itu luar biasa, dan dia punya iman yang selalu terarah pada kekuatan Tuhan yang ada di surga,” paparnya. KS   

Berita Terkait