Bayar di Muka

• Oleh: Dr. (Cand.) Sigit Triyono, M.M. 414 dibaca


BERITANARWASTU.COM. Strength and growth come only through continuous effort and struggle. Napoleon Hill (1883-1970).  Kekuatan dan pertumbuhan hanya melalui usaha dan perjuangan terus menerus. Ini adalah bentuk yang harus dibayar di muka. Tidak ada yang datang tiba-tiba dan tanpa ada sesuatu yang dilakukan di depan.  Kalau kita tidak mau membayar di muka, maka akan dipaksa membayar sesuatu yang lebih mahal di belakang.

Bila kita bertransaksi, lazimnya kita ingin mendapatkan produk terlebih dahulu baru kemudian kita membayar. Kalau perlu ada tempo pembayaran sampai satu bulan atau lebih.  Tetapi sekarang banyak transaksi di mana kita harus membayar terlebih dahulu baru kemudian mendapatkan produknya. Contoh di antaranya adalah: pulsa pra bayar, listrik pra bayar, Go pay, Grab pay, makan di Gang Kelinci atau di Solaria, di mana kita harus membayar terlebih dahulu baru bisa mendapatkan produknya. Kita “terpaksa” rela membayar terlebih dahulu karena kita memilih produk tersebut karena berbagai alasan.

Mengapa konsumen bersedia membayar produk di muka? Tentu karena ada manfaat yang akan didapatkannya, dan manfaatnya sebanding dengan harga yang harus dibayar. Begitu juga dalam hidup kita. Kita akan rela “bayar di muka” bila kelak kita mendapatkan manfaat yang signifikan.

“Bayar di muka” versi Napoleon Hill adalah (1) usaha dan (2) perjuangan terus menerus.  Usaha yang wajib kita lakukan adalah belajar menjadi pintar, terampil di bidang profesi kita dan mampu memanfaatkan segala peluang yang ada. Usaha membangun jejaring adalah termasuk usaha kyang harus ditingkatkan terus. Di sisi lalin   perjuangan terus menerus salah satu yang harus dimiliki adalah kecerdasan memiliki ketahanmalangan (adversity quotient).

            Bila jatuh tujuh kali, harus mampu bangkit delapan kali. Itu namanya cerdas dalam perjuangan.

Agar perjuangan terus menerus tidak menyurut maka lembaga membutuhkan visi besar yang harus diwujudkan bersama. Visi yang dipercaya dan dihayati secara emosional oleh semua warga lembaga, bukan hanya secara rasional. Kekuatan emosional jauh lebih dahsyat dibandingkan rasional. Visi yang disusun bersama melalui proses saling mendengar dan melengkapi akan mampu menggerakkan semua potensi sumberdaya yang dimiliki lembaga.

Sesudah memiliki visi bersama yang emosional, lembaga juga harus menetapkan misi (rumusan kalimat filosofis) yang mampu menjadi pedoman kerja bersama untuk mewujudkan visi. Misi harus ringkas dan mudah diingat. Bukan kalimat-kalimat panjang dan bernomor-nomor sehingga sulit dihafalkan. Misi harus juga mencerminkan pilihan aktivitas utama  lembaga kita. Misi akan menjadi payung semua kebijakan di dalam lembaga.

Visi dan Misi harus didukung oleh Nilai-nilai utama dan Strategi. Nilai-nilai utama adalah rumusan yang diyakini sebagai pedoman bersama dalam berperilaku dan bekerja serta berhubungan dengan semua pihak. Nilai-nilai utama memiliki kekuatan tersendiri untuk mendorong banyak hal menjadi realita. Sedangkan strategi adalah cara utama lembaga untuk mengoperasionalkan misi dengan mempertimbangkan aspek internal dan eksternal lembaga. Analisis eksternal dan internal menjadi syarat mutlak dalam menyusun strategi lembaga. Strategi harus terus diperbarui sejalan dengan perubahan-perubahan yang terus berlangsung.

Visi, Misi, Nilai-nilai utama dan Strategi lembaga menjadi empat pijakan utama dalam menyusun program-program dan segala aktivitas lembaga. Dengan mengacu kepada empat hal tersebut maka energi perjuangan lembaga akan terus terjaga dan   tidak terputus kesinambungannya. Program-program dan aktivitas lembaga semua dirancang sebagai ekspresi perjuangan terus menerus dalam konteks membangun kekuatan dan pertumbuhan seperti pendapat Napoleon Hill di atas.

Untuk memperkuat lajunya perjuangan lembaga, maka dibutuhkan dukungan media dan jejaring. Tak dapat dimungkiri di era internet ini segala macam media yang berbasis teknologi informasi memiliki kekuatan yang sangat signifikan. Lembaga harus mengoptimalkannya dengan bijaksana. Melalui media segala upaya komunikasi dapat dijalankan secara lebih efektif. Yang kedua adalah kekuatan jejaring atau networking.  Dengan jejaring yang luas dan kuat maka lembaga akan dimudahkan dalam melaksanakan program-progamnya. Jejaring adalah sumberdaya intangible.

 

Semua hal di atas: usaha dan perjuangan, membutuhkan pemimpin yang visioner, penggerak dan konsisten dalam melangkah untuk mewujudkan visi bersama. Pemimpin menjadi pengemudi “usaha dan perjuangan terus menerus.” Kalau hal ini dijalankan maka kekuatan dan pertumbuan lembaga akan meningkat terus menerus.

Berita Terkait