Belajar dari Pengalaman Pahit Pengguna Narkoba

769 dibaca


Beritanarwastu.com. Dalam tulisan kali ini, saya akan menyampaikan pengalaman seorang pecandu narkoba yang sudah bertobat atau meninggalkan barang-barang terkutuk itu. Dia menerangkan, proses pengenalan dirinya terhadap dunia narkoba, sampai akhirnya ia memutuskan meninggalkan dunia itu. Pengalaman tersebut perlu kita simak dan renungkan bersama. Berikut adalah kesaksiannya.

Nama saya, Benny. Saya adalah mantan pengguna narkoba. Tapi berkat kuasa mujizat Tuhan, akhirnya saya mengalami kesembuhan. Saya terlibat menggunakan putauw kurang lebih enam tahun sejak 1993. Empat tahun masa menggunakan putauw, dua tahun mengalami penyembuhan diselingi dengan kembali menggunakan putauw lagi, sampai akhirnya sembuh secara total pada 1999.

Saya sadar bahwa masa demikian bukanlah menjadi tolak ukur kesembuhan bagi seorang bekas pemakai seperti saya. Namun, berkat pertolongan Tuhan Yang Maha Kasih, juga atas dorongan berbagai pihak, terutama dari keluarga, lama-kelamaan saya semakin merasakan berkat Tuhan. Kemudian mensyukuri anugerah kesembuhan yang telah diberikan kepada saya.. Mudah-mudahan ungkapan pengalaman ini dapat mengurangi bertambahnya korban yang belum sempat terjerumus akibat putauw. Di samping itu, saya mengharapkan juga agar pengalaman ini dapat dibaca oleh orangtua yang putra-putrinya terlibat dalam masalah ini.

Lalu, seperti apa putauw di mata saya ketika pertama kali menggunakannya? Ketika saya mulai masuk pada dunia ini, saya mulai mengenal bahwa putauw adalah sejenis heroin kelas tiga. Banyak juga para pemakai mengenalnya sebagai ampas heroin. Putauw berbentuk bubuk berwarna putih pucat. Lama-kelamaan saya tahu ternyata putauw banyak diproduksi di negara Vietnam. Atau sering disebut daerah “Segi Tiga Emas”. Vietnam merupakan salah satu negara penghasil putauw “terbaik”. Putauw mulai dikenal di Indonesia antara tahun 1991 dan 1992, dan masuk melalui Denpasar, Bali. Pada saat itu peredarannya masih dalam taraf sembunyi-sembunyi.

Ketika itu Jakarta sedang dilanda demam ekstasi, sehingga kehadiran putauw hanya bisa didapati di kalangan tertentu. Barulah pada kira-kira tahun 1992 hingga sekarang, putauw mulai banyak diketahui orang. Para pengguna ketika itu umumnya para mahasiswa di berbagai kampus di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Lama-kelamaan saya penasaran seiring dengan berjalannya waktu. Putauw akhirnya semakin membuat banyak kalangan penasaran untuk melihat bentuknya. Putauw memang mempunyai daya tarik tersendiri yang tidak dimiliki oleh jenis narkoba lain yang sudah lebih dulu ada.

Yang membuat para pengguna narkoba merasa penasaran dengan putauw adalah sakaunya. Saya sendiri perasaan. Dicari dalam kamus bahasa manapun tak ada kata tersebut. Namun, oleh para pengguna narkoba, sakau dapat diartikan “sakit karena putauw”. Kata tersebut memberi arti betapa sakitnya atau menderitanya seseorang apabila sudah beberapa kali menggunakan putauw, lalu tiba-tiba tidak menggunakannya lagi. Dari segi harga, putauw umumnya dapat dijangkau oleh kalangan pelajar mahasiswa. Putauw dijual dengan ukuran per gram. Pada tahun 2000 harganya berkisar antara Rp 100.000 sampai Rp 150.000. Cukup mahal, namun 1 gram putauw dapat diperkecil lagi menjadi sekian paket kecil, yang dapat dijual seharga Rp 10.000.

Saya alami sendiri, kami sering membaginya hingga ukuran 0,1 gram, ¼ gram dan ½ gram. Harga ini semakin hari semakin berubah sesuai dengan keadaan. Sering kali harga per gram mencapai Rp 500.000. Ini bisa terjadi apabila Bandar atau pemasok narkoba kelas kakap tertangkap petugas. Stok putauw terbatas, harga pun melonjak. Pada saat harga dolar naik, harga putauw ikut naik. Walaupun demikian mendapatkan putauw tidaklah sulit. Para bandar tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta, Bekasi, Tangerang, Depok dan Bogor. Di perguruan tinggi dan sekolah-sekolah menengah tidak jarang ditemui para bandar, yang tidak lain adalah pelajar dan mahasiswa sendiri.

Saya sendiri pun termasuk salah satu bandarnya. Sebagian besar bandarnya adalah pelajar dan mahasiswa, tapi itu bukan profesinya. Itu dilakukan hanya sekadar untuk mendapatkan uang untuk kembali mengkonsumsi putauw lagi. Benda-benda yang kami gunakan bermacam-macam, mulai kertas timah (bungkus permen karet), uang kertas, korek api gas, kartu telepon, sendok insulin (suntikan), air aqua dan lain-lain. Masing-masing benda mempunyai fungsi tertentu. Seperti kertas timah, fungsinya adalah tatakan untuk serbuk putauw sebelum dibakar. Uang kertas fungsinya untuk digulung hingga menyerupai pipa, lalu dipakai sebagai alat untuk mengisap asap putauw.

Korek api gas dipakai untuk membakar putauw tersebut. Kartu telepon gunanya sebagai sendok untuk menakar putauw, dan untuk menghaluskan serbuk atau bubuk putauw tersebut. Itulah cara-cara yang kami gunakan untuk menghirup benda berbentuk bubuk tersebut. Sedangkan sendok digunakan sebagai wadah untuk meletakkan putauw yang dicampur air.

Insulin  gunanya untuk menyuntik putauw tersebut. Terakhir adalah aqua, gunanya untuk campuran putauw. Sebelum disuntikkan ke dalam tubuh. Ini berlaku untuk pengguna dengan cara suntik. Seperti telah disebutkan tadi, bahwa ada dua macam cara pemakaian putauw, yaitu dihirup asapnya (didrag), dan disuntik (dikipe). Semua istilah ini tidak ada dalam kamus bahasa manapun. Ini hanya sekadar istilah yang lazim digunakan para pemakai putauw.

(Tulisan ini adalah karya almarhum Dr. Erwin Pohe yang pernah dimuat di NARWASTU).

Berita Terkait