Benarkah Nasib Media Cetak Sudah Selesai!?

Hojot Marluga 1043 dibaca
Koran terkemuka sekaliber “Sinar Harapan” sejak akhir 2015 lalu sudah tutup. Peringatan bagi media-media cetak.

Beritanarwastu.com. Era ini kita sebut era teknologi komunikasi. Patutnyalah kita mensyukuri perkembangan yang ada sekarang. Dalilnya, siapa yang tak terkoneksi dengan teknologi akan ketinggalan peradaban. Sejak dulu, media alat pembawa perubahan, termasuk perilaku manusia seluruhnya dipengaruhi media. Menurut seorang profesor emeritus bidang komunikasi dari Universitas Stanford, Donald F. Robert, media membawa pengaruh. “Semakin berkembangnya teknologi media massa dalam menyampaikan informasi dan hiburan. Maka manusia tak akan pernah bisa lepas dari pengaruh media massa tersebut. Setiap hari, pikiran manusia selalu dipenuhi oleh informasi yang disampaikan.” 
Tentu, jika kita bicara media kita tak boleh menihilkan media cetak sebagai cikal bakal era media digital sekarang. Tentu, sihir media cetak tak seperti dulu lagi, tentu dampak dari perkembangan media digital. Walau tak terbantah, masih banyak juga orang yang memilih media cetak sebagai sarana untuk memperoleh informasi, termasuk kaum tua usia 60 tahun ke atas. Maka bila bicara media cetak, sudah tiga abad media cetak bercokol memberi pengaruh, menjadi sebuah kekuatan. 
Dimulai di abad 17, di Eropa dengan ditemukannya alat pembuat uang. Alat yang kemudian dimodifikasi menjadi mesin cetak Alkitab oleh seorang pandai logam berkebangsaan Jerman, Johannes Gensfleisch zur Laden zum Gutenberg (1398-1468). Dia berhasil mencetak Alkitab pada 15 Agustus 1456 di atas kertas. Tetapi, kita juga tak boleh melupakan “benang merah” penemuan kertas sebelumnya oleh bangsa Tiongkok. Menjelang abad kedua, tahun 101 negeri tirai bambu inilah pertama kali menemukan kertas dari bambu, oleh Tsai Lun. Di Indonesia sendiri, media cetak baru tahun 1854 ada, itupun berbahasa Belanda. Berlahan, saat dimulai gelora nasionalisme, semangat untuk membumikan spirit kebangkitan nasional, maka terbitlah media cetak asli Indonesia. 
Terbitlah media berbahasa Melayu diberi nama Slompret Melajoe, redaksinya di Semarang dipimpin seorang seorang misionaris berkebangsaan Belanda yang juga penerjemah Alkitab, bernama lengkap Hillebrandus Cornelius Klinkert atau dikenal juga H.C. Klinkert. Tak terlalu jauh berselang, di Tanah Batak sendiri juga terbit media gereja, tepat 1 Januari 1890 oleh Ingwer Ludwig Nommensen diberi nama Surat Parsaoran Immanuel. Majalah ini hingga sekarang masih terbit. Awalnya, hanya berbahasa Batak tetapi seiring waktu dalam menulis rubrikasi berbahasa Indonesia. 
Pembacanya tentu hanya kalangan jemaat HKBP. Walau ada versi lain menyebutkan, bahwa sejarah media cetak pertama di Indonesia adalah Al Juab yang diterbitkan 1795 untuk kalangan Islam. Namun, sayang Al Juab tak banyak ditulis pada sejarah media cetak Indonesia. Selanjutnya, tahun 1904 terbit Medan Prijaji dirintis Tirto Adhi Soerjo, dan kemudian hari bermunculan koran-koran lain. 
Sejak media cetak dirintis orang Eropa, kemudian melawat Indonesia, ia terus menjadi sebuah kekuatan. Di kemudian hari disebut menjadi pilar keempat, penyokong demokrasi. Walau sejarah pun menunjukkan media cetak kerap digunakan partisan, sebagai penopang kekuasaan, alat negara otoriter. Bahkan, menjadi corong partai politik. Namun sejak terbit pertama, sejak tiga abad lamanya, media cetak membawa pengaruh yang penuh kekuatan, namun tajinya kini mulai tumpul. Sekarang? Nostalgia media cetak sepertinya sudah mulai redup, sayup-sayup hampir pudar. Bahkan, kecantikannya tak seperti dulu.
Kini, media cetak sebagai industri berubah, yang menemukan pesta poranya media digital, kini bersayap media sosial. Tetapi, lagi-lagi media ini akan terus diseleksi alam, sebab di era inilah juga integritas seorang penulis menjadi harga mahal, reputasinya dinilai. Dampak dari media digital membuat orang menjadi penulis gampangan, jurnalis abal-abal. Hanya dengan copy paste berita bisa dibuat. Jelas, tak boleh disangkal, perkembangan era teknologi digital, teknologi internet, yang begitu pesat ini telah mengubah pembaca media cetak berganti menjadi media online. 
Artinya, di era ini, media cetak mulai mendapat ancaman dari media online. Termasuk versi audio visual, gadget dan media sosial lainnya. Bahkan, berdasarkan hasil survei Nielsen Advertising Information Service yang dirilis Nielsen Indonesia, bahwa media cetak kini mulai ditinggalkan oleh para pemasang iklan. Ini menjadi alarm untuk media cetak. Sebagaimana kita tahu bahwa dari iklanlah dana terbesar sebuah media cetak untuk membiayai penerbitannya. Hampir tak ada media cetak yang bisa hidup dari hasil penjualan cetak. Termasuk koran sekaliber Kompas, tak bisa hidup dari hasil penjualan koran. 
Sebab, biaya tertinggi dari media cetak, selain gaji pekerja medianya, sudah tentu biaya cetak itu sendiri. Lagi-lagi di sinilah kelebihan media online dibandingkan media cetak. Media online tak perlu lagi memikirkan biaya cetak. Selain itu, media online amat cepat hanya hitungan detik saja bisa menyajikan berita. Maka lahirlah media-media online, seperti detik.com dan sejenisnya. Juga, dari segi waktu media online sangat cepat dalam menyampaikan berita. Baik juga audio visual, media online, bahkan bisa menggunakan streaming. Praktis dan fleksibel, itulah yang membuat media online dapat diakses dari mana saja, asal tersambung dengan internet. Mudah sekali, termasuk para pengkonsumsi beritanya.
Jadi nasib media cetak jelas terancam. Group Kompas Gramedia sendiri sudah sejak beberapa waktu lalu menutup beberapa medianya, seperti majalah Fortune, Chip dan Jeep. Koran Sinar Harapan juga tutup, sebelumnya harian Jurnal Nasional mengalami nasib yang sama. Tentu, salah satunya karena tak kuat lagi membiayai cetak. Bahkan, di Amerika saja media yang beroplah besar dan punya fanatik pembaca pun, semacam majalah Reader’s Digest, Rocky Mountain News, atau The Washington Post, surat kabar terkemuka pun tak cetak lagi. Sekarang berfotosintesis, berubah wujud menjadi online.

Seperti Buku
Perubahan ini mesti disikapi dengan bijak, termasuk para pengelola media cetak tak perlu menangisi keadaan ini. Sebab media online sendiri pun tetap ada kekurangannya, tak selalu tepat, oleh karena selalu mengutamakan kecepatan, berbeda dengan media media cetak harus diolah hati-hati sebelum dimuat. Selain itu, online bisa menimbulkan hal negatif jika tidak pintar-pintar menyikapi informasinya, banyak yang salah beritanya. Boleh saja, karena tak selalu menggunakan tak selalu menggunakan dalil Rudyard Kipling itu, 5W +1H.
Akhirnya, media cetak tak akan seluruhnya tutup. Jelas, akan terseleksi dan yang hebat tentu media cetak yang bisa bertahan. Hanya saja, menyikapi ini, media cetak mesti fokus, lebih pada segmennya. Ruang pengarapan terukur, walau ruangnya kecil. Sederhananya sekelas media-media Kristen, bisa lebih eksis cetak dibanding media nasional yang modalnya besar, karena segmented. Jadi, jika ada pertanyaannya, apakah bulan madu media cetak sudah berakhir? Belum tentu. Di Jepang media cetak, koran masih diminati masyarakatnya. Itu artinya media cetak tak sepenuhnya bangkrut. Kita bayangkanlah seperti buku cetak dulu.
Sebelum teknologi informasi berkembang pesat, didahului dengan media cetak. Tetapi sebelum media cetak juga didahului penerbitan buku. Pertanyaannya: Apakah buku cetak tak ada lagi? Tetap ada. Buku adalah teknologi informasi pertama, sudah ada sejak abad pertama. Bahkan, sebelum ditemukan kertas yang kita kenal sekarang ini, tentu itu juga berposes panjang. Dari papyrus hingga kemudian dicetak di atas kertas.
Apakah buku hilang? Kenyataannya buku tetap ada. Contoh lain, sebelum ada mobil teknologi yang awal adalah sepeda. Kemajuan otomotif yang sangat cepat berkembang, apakah sepeda hilang? Tidak juga. Sepeda tetap saja ada. Bahkan, sepeda menjadi sahabat bagi komunitas ini, artinya masih diminati. Mungkin, sekarang generasi digital melihat media cetak sudah ketinggalan zaman, lebih baik ebook atau mencari di Google. Tapi, nanti kerinduan versi cetak itu akan berulang. Sejarah selalu berulang.
Kenyataan memang, sebagian besar masyarakat kita tak lagi suka membaca buku atau media cetak. Tepatnya generasi kita ini tak suka lagi membaca berlama-lama. Maunya instant, maunya mencari berita gampang saja pada ompung google. Oleh kenyataan ini, media cetak mesti membaca tanda zaman. Tak boleh menutup mata pada kenyataan yang ada. Era baru, era digital, termasuk cetak digital printing telah membuat kita memasuki era yang serba praktis, yang amat berbeda dari era sebelumnya.  Tentu tak tepat kita menyalahkan era ini, mari sambut dan kita tetap berselancar di atasnya.
* Penulis adalah jurnalis, penerbit buku dan pengamat media.


Berita Terkait