Bersukacita di Dalam Tuhan

• Oleh: Hojot Marluga 170 dibaca
• Penulis adalah jurnalis, motivator dan penulis buku.

Beritanarwastu.com. 1 Tesalonika 2: 13-20

 

Memiliki suka cita amat sangat ditekankan Paulus. Memiliki Roh, yaitu memiliki kasih di dalam hati. Firman Tuhan mengajarkan agar memiliki kasih di dalam Tuhan. Di kehidupan ini kita diperhadapkan banyak problem. Itu sebabnya, tak sedikit orang mencari penenang, tak sedikit yang menggunakan narkoba, alasannya ingin bahagia, ingin mengubah sesuatu dalam hidup mereka jadi bahagia, namun tenyata, bukan membawa suka cita malah menghancurkannya.

Semuanya berawal dari kekhawatiran. Kekhawatiran adalah pencuri yang paling jahat, begitu dahsyat karena kehilangan suka cita. Kekhawatiran juga membuat kita kehilangan iman. Kitab Suci mengatakan, damai sejahtera dan sukacita yang sejati, yang melampaui akal ada di dalam Yesus Kristus. Kekhawatiran membuat seseorang larut dalam kesedihan, murung sehingga suka cita dan damai sejahtera menjadi hilang. Orang-orang yang tak memiliki kekayaan bisa menjadi korban kekhawatiran dan kehilangan iman.

Jikalau kita memikirkan apa yang Kristus pikirkan, yaitu bagaimana hidup mempersembahkan yang terbaik bagiNya, kita bisa mentaati firmanNya. Jika suka cita meluap di hati, mentaati perintah melalui firmanNya, bukan lagi perkara berat. Kita malahan dengan senang hati dan tanpa beban mengerjakannya. Karenanya, kita tak boleh hidup bergantung kepada kekayaan materi.

Kehidupan manusia tidak tergantung kepada harta kekayaan yang berlimpah-limpah, karena hidup manusia itu terdiri dari roh, jiwa dan tubuh, roh dan jiwa itu kekal tetapi tubuh itu sementara. Kepuasan hidup itu tergantung kepada kepuasan hubungan dirinya dengan Tuhan. Ini membuktikan bahwa hidup manusia tidaklah tergantung kepada harta kekayaan yang berlimpah-limpah.

Di sinilah penting kita menyadari hidup ada batasnya. Hidup ini harus mengandalkan firmanNya, karena hanya firmanNya yang dapat memandang kehidupan manusia, masa kini dan masa depan. Bahkan firmanNya memandang orang-orang serakah sebagai orang bodoh. Mengapa orang bodoh? Karena hanya memikirkan kehidupan masa kini, tak memikirkan keabadian.

Filipi 4:4, “Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah!" Paulus mengingatkan kita agar senantiasa bersukacita dalam Tuhan, bahkan diulang dua kali. Mengapa sampai diulang dua kali? Maksudnya agar kita bisa bersukacita senantiasa dalam keadaan apapun, kita diminta bangkit dari kegagalan. Maknanya, kalau kita mengalami kegagalan, apa yang perlu kita lakukan agar kita dapat bangkit dari kegagalan.

Hidup dengan suka cita, kita rasakan penyertaanNya, kita masih diberi waktu menghirup atmosfir pengharapan, dan kita diminta berpengharapan sebab masih diberiNya kesempatan. Tetaplah antusias, sebab hari baru yang diberi menandakan masih ada kesempatan untuk merengkuh hidup yang lebih baik. Maka meski seribu macam keadaan membuat kekhawatiran, tetapi satu alasan untuk jangan khawatir cukup untuk tetap mensyukurinya. Kita ucapkan terima kasih padaNya karena kita masih diberikan nyawa.

Tak ada alasan kita tak berterima kasih, dalam keadaan apapun kita semestinyalah bersyukur padaNya, dan tak ada dasar kita putus asa. Lagi, seseorang bisa bersukacita jika bisa menyatukan kekuatan emosi dan spiritual, berani bertahan dalam penderitaan dan senantiasa bersukacita di dalamNya. Suka cita ada karena ada kasih Tuhan di hidupnya. Di sinilah sikap atau cara berpikir dalam menghadapi segala keadaan, yang tidak tergantung pada keadaan. Akhirnya, kabar suka cita itu adalah memiliki Injil di hati, jadi Injil bukan fisik tetapi esensi, pembawa suka cita.

Berita Terkait