Ketua DPD PIKI DKI Jakarta, T.P. Jose Silitonga, S.H., M.A., M.PdK
Bicara Ahok, PIKI dan Kasus Aceh Singkil

660 dibaca
T.P. Jose Silitonga, S.H., M.A., M.PdK tampak bersama sejumlah cendekiawan di sebuah acara DPD PIKI DKI Jakarta.

Beritanarwastu.com. Meskipun sehari-harinya sibuk sebagai advokat senior, namun perhatian Ketua DPD PIKI (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia) DKI Jakarta ini tetap tinggi dalam menyoroti persoalan gereja, masyarakat dan bangsa. Mantan Ketua Forum Peduli Jemaat HKBP dan salah satu Penasihat PERWAMKI (Perkumpulan wartawan Media Kristiani Indonesia) ini, baru-baru ini menyoroti kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. (Ahok) yang dinilainya, cukup fenomenal dan berani bersikap sebagai kepala daerah.

Ahok, dinilai Jose, seorang kepala daerah yang bicara tegas, tidak mau mendengar para pembisik dan menjalankan kepemimpinannya sesuai dengan koridor yang ada. Dia naik gubernur setelah Gubernur DKI Jakarta di atasnya Jokowi naik menjadi Presiden RI. Tentu saja Ahok menjadi sorotan karena ia seorang Kristen yang taat, Tionghoa, nasionalis dan tegas. Dan Ahok tahu persoalan masyarakat DKI Jakarta dan tahu pula kebutuhan masyarakat, sehingga namanya terus disorot media massa. Tak heran, ia pun disebut-sebut sebagai salah satu calon presiden Indonesia mendatang.

“Ahok harus kita dukung. Dia beda dengan gubernur-gubernur sebelumnya. Meskipun ada juga yang tak suka dengan gaya bicara Ahok yang agak emosional, namun itulah ekspresinya. Kami dari DPD PIKI DKI Jakarta pun menyoroti kepemimpinannya selama ini. Dan kami ingin beraudiensi dengan Ahok sebagai kaum intelektual Kristen di DKI Jakarta. PIKI sebagai kaum intelektual harus memberikan masukan kepada Ahok agar tahu pula pemikiran dan solusi dari kaum cendekiawan,” ujar Jose Silitonga.

Hanya saja, Jose pun mengkritisi eksistensi PIKI yang selama ini, menurutnya, kurang bergaung sebagai kaum cendekiawan yang berpengaruh di tengah gereja, masyarakat dan bangsa. “Jangan yang muncul di DPP PIKI misalnya hanya dari mantan aktivis GMKI dan GAMKI. Karena dari kelompok Bethel, Pentakosta dan Injili pun banyak kaum intelektual kita. Intelektual mesti punya komitmen, punya integritas, cerdas, punya kapasitas dan punya jaringan,” ujar salah satu Ketua DPP PDS pimpinan Tilly Kasenda ini.

Supaya peran dan keberadaan PIKI semakin bergaung dan punya wibawa di tengah masyarakat, kata Jose, maka perlu ada refleksi dan introspeksi. “Seperti di Kongres PIKI pada April 2015 lalu, saya sudah sampaikan agar PIKI melakukan reformasi dan harus punya paradigma berpikir baru. Jangan yang muncul di PIKI hanya kader-kader titipan. Seperti DPD PIKI DKI Jakarta, mestinya harus dirangkul DPP PIKI, namun dalam kenyataannya tidak ada pendekatan kepada kami. Karena PIKI DKI Jakarta adalah barometer,” paparnya.

Jose menegaskan, dibandingkan dengan DPP PIKI  era Cornelius D. Ronowidjojo dan Sterra Pieterz, Jose menilai, PIKI sekarang kurang komunikasi dengan DPD-DPD. “Kalau DPP PIKI yang lalu cukup gencar dengan diskusi-diskusi intelektual, bahkan kerja sama dengan teman-teman wartawan yang tergabung di PERWAMKI, dan saya salah satu Penasihat PERWAMKI. Dari diskusi itulah muncul pokok-pokok pikiran yang dipublikasikan di media, seperti media Kristen, sehingga umat kita tahu apa yang dipikirkan PIKI,” pungkasnya.

Jose menambahkan, meskipun DPD PIKI DKI Jakarta ada kelemahan, namun akan tetap menyampaikan pemikiran-pemikiran yang mencerahkan kepada umat, termasuk soal kepemimpinan gubernur di DKI Jakarta. Dan pemikiran itu, ujarnya, bisa disampaikan lewat diskusi-diskusi, lalu disebarluaskan lewat media. “Mestinya DPP PIKI yang baru bisa melakukan itu. DPP PIKI kita harapkan harus peka dengan persoalan negeri ini, apakah di bidang ekonomi, penegakan hukum, pendidikan, bahaya narkoba, persoalan sosial dan peduli terhadap empat pilar persatuan bangsa (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI),” tukasnya.

Jose Silitonga yang juga kuasa hukum dan kini diminta sebagai Dosen Luar Biasa untuk mata kuliah “Aspek Hukum Dalam Ekonomi” di Sekolah Tinggi Manajemen Transportasi Trisakti, Jakarta, menerangkan, pemikiran-pemikiran PIKI, selain disebarluaskan ke media, juga mesti disampaikan ke lembaga-lembaga negara, seperti parlemen, eksekutif, yudikatif, ormas-ormas, parpol dan tokoh-tokoh agama. “Karena dengan pemikiran pun kita bisa ikut mempengaruhi bangsa ini agar lebih baik,” terang pengacara yang kerap mengadvokasi warga gereja yang mendapat perlakuan tidak adil itu.

“Seperti dalam kasus pembakaran gereja di Aceh Singkil, pernahkah PIKI berbuat sesuatu atau misalnya memberikan refleksi kepada umat kita, apakah yang sebenarnya terjadi di sana. Peran PIKI sesungguhnya sangat penting di situ. Di zaman dulu saja Yesus dikejar-kejar dan dianiaya, apalagi gereja-gereja sekarang banyak mendapat tantangan dan kesulitan dalam hal beribadah. Nah, di sinilah PIKI perlu memberikan solusi terhadap umat, bagaimana menyikapi lingkungan. Di Aceh Singkil itu tetap warga gereja harus bersikap bijaksana dan menghargai budaya setempat. Menurut saya, kita jangan hanya menyalahkan masyarakat yang melakukan aksi anarkisme itu, sekalipun hukum harus ditegakkan,” katanya.

Jose menambahkan, kalau pendekatan ke masyarakat setempat baik, hubungan dengan tokoh-tokoh agama di sana harmonis dan komunikasi dengan pemerintah daerah setempat baik, “Saya yakin tak akan terjadi aksi penutupan atau pembakaran tempat ibadah Kristen di sana. Alkitab sudah mengatakan, agar kita cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati. Juga kita harus menjadi garam dan terang dunia. Makna dari cerdik dan tulus, lalu makna garam dan terang itu amat dalam,” tukas anggota Dewan Penasihat LBH Pers Indonesia itu.

Paradigma gereja-gereja pun mestinya berubah. “Jangan hanya mengurus sinodenya masing-masing, tapi perlu persatuan antargereja, dialog dengan masyarakat yang lain agama dan peduli lingkungan. Dan tampilkanlah kasih dengan tulus, bukan kasih yang pura-pura. Apakah ketika ada saudara kita yang tidak seiman dengan kita lapar, kita memperhatikannya. Apakah ketika mereka mendapat kesulitan kita memperhatikan mereka. Itulah ajaran Yesus dan pikiran Kristus. Kalau kasih yang sejati ditampilkan di sana, saya yakin akan tercermin kasih dan karakter Yesus,” paparnya.

Di sisi lain, kata Jose, di Tahun Baru 2016 ini kita mesti sadar bahwa tantangan bangsa ini semakin berat, termasuk dalam hal hukum dan ekonomi. “Jadi selain giat dalam bekerja, kembangkan diri, kita juga harus lebih peka kepada lingkungan serta makin tekun berdoa. Kita harus terus menerus meminta bimbingan dan hikmat dari Tuhan dalam menjalani kehidupan ini. Kuasa doa itu sangat dahsyat di dalam kehidupan ini. Asal kita mengimani kuasa doa itu. Kita jangan andalkan kuasa dunia, andalkan Tuhan. Yang ada di dunia ini hanya alat Tuhan. Dan kita jangan salah berdoa, mintalah kepada Tuhan apa yang memuliakan namaNya, bukan yang memuliakan kita,” tegasnya.

Saat ditanya pendapatnya, apa yang biasa dilakukan saat pergantian tahun, Jose menuturkan, “Setiap saya memasuki tahun yang baru dan meninggalkan tahun yang lama, tentu yang pertama keluar dari mulut saya adalah: Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikan saya kesempatan untuk memasuki tahun yang baru. Dan saya bersyukur karena selama tahun yang lalu ada berkat, sukacita, kesehatan dan pelayanan yang diberikan Tuhan kepada saya, itu saya syukuri,” papar peraih award sebagai “Pahlawan Bumi 2003” dari WALHI ini.

“Sekalipun ada orang yang meminta bantuan hukum kepada saya tapi tidak bayar fee, itu saya syukuri, karena Tuhan memberi rezeki kepada saya dari tempat lain. Jadi tetap bersyukur dalam menghadapi tahun baru. Bagi saya, Tahun baru 2016 adalah tahun berkat Tuhan. Kita harus hadapi dengan selalu bersyukur, tekun berdoa dan selalu bersukacita, karena itulah yang diinginkan Tuhan dari setiap orang percaya. Kalau ada kesalahan-kesalahan yang kita lakukan di tahun yang lama, kita harus berubah lebih baik di tahun baru. Kita minta juga kepada Tuhan agar Dia terus menguatkan, membimbing, menolong dan memberkati kita di Tahun Baru 2016,” tegas pria yang termasuk dalam “Tokoh Kristiani 2007 Pilihan NARWASTU” ini. TK

 

 

Berita Terkait