Presiden Komisaris NASARI Group, Sahala R.H. Panggabean, MBA
Bicara Ekonomi, Koperasi, Kepemimpinan Ahok dan Pelayanan

710 dibaca
Sahala R.H. Panggabean, MBA saat menerima tanda kasih (penghargaan) sebagai salah satu “Tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU” dari Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos di kantor NASARI Group, Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Beritanarwastu.com. Pada Senin sore, 28 Maret 2016 lalu, Presiden Komisaris NASARI Group yang juga tokoh koperasi Indonesia, Sahala R.H. Panggabean, MBA menerima kunjungan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos di kantornya yang sejuk di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara. Di tengah kesibukannya yang luar biasa padat, pengusaha nasional yang tangguh dan banyak menerima penghargaan dari pemerintah lantaran prestasinya di bidang perkoperasian itu, banyak berbicara mengenai perekonomian Indonesia, NASARI Group yang dipimpinnya dan Forum Komunikasi dan Sinergi (FKS) Pomparan Si Raja Panggabean se-Indonesia. 
Juga ia bicara pembangunan bandara di Silangit, Siborongborong, Tapanuli Utara, pelayanannya di Gereja HKBP Kertanegara, Semarang, yang sudah emeritus dan kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Ahok (Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M.) yang dinilainya tegas dan layak didukung untuk periode berikutnya. Ketua Umum ASKOPINDO (Asosiasi Koperasi Simpan Pinjam Indonesia) ini saat berbicara soal koperasi, ia menerangkan, koperasi itu beda dengan PT. “Koperasi itu minim uangnya. Karena uangnya simpanan pokok anggota, simpanan sukarela, beda dengan uang yang ditaruh di bank. Koperasi tak begitu, karena sumber dananya dari anggota terbatas,” paparnya. 
 
Makanya, imbuhnya, koperasi pun memakai uang dari bank, dan ada kredit bank ke koperasi. Dan itu sudah diterima dari sejumlah bank, seperti Bank BNI, Bukopin dan Bank Niaga. Sahala menuturkan, untuk memajukan koperasi guna menyokong ekonomi kerakyatan, pemerintah perlu mensubsidi 7 sampai 8 persen bunga KUR (kredit usaha rakyat).  “Kita berharap agar koperasi jangan dihantam oleh pemodal-pemodal besar. Makanya di sini perlu regulasi oleh pemerintah untuk mendukung dan melindungi usaha koperasi agar kita jangan terpental. Apalagi segmen koperasi masyarakat berekonomi menengah ke bawah. Saya sudah sampaikan itu kepada Bapak Menteri Koperasi (Anak Agung Gde Ngurah Puspayoga) agar dana KUR dipakai dari bank, dan bunganya agar disubsidi pemerintah,” ujarnya.
 
Terkait dengan upaya Sahala untuk memperjuangkan eksistensi koperasi di Tanah Air, katanya, baru-baru ini ada diadakan sebuah forum diskusi group. Dan hadir di situ petinggi Bank Dunia, pemerintah dan tokoh-tokoh koperasi di Indonesia, baik dari forum maupun asosiasi. Dalam diskusi itu dibahas mengenai upaya guna memperkuat eksistensi koperasi, agar peraturannya atau regulasinya benar-benar melindungi dan mendukung. “Di Undang-Undang No. 25 Tahun 1992 tentang Koperasi, ada dimuat di situ tentang perlindungan koperasi dari negara di pasal 61 dan 63, tentang suatu usaha koperasi tak boleh diusahakan badan usaha lain,” terangnya.
 
Pengganti undang-undang itu kemudian adalah Undang-Undang No. 17 Tahun 2012, tapi itu dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi (MK) RI, karena roh koperasi dianggap sudah hilang dari situ. Dan katanya jadi mirip-mirip PT, dan melanggar roh koperasi. “Sehingga kita sekarang tetap kembali ke undang-undang lama, UU No. 25 Tahun 1992,” cetusnya. Menurut Sahala, di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Belanda dan Australia, ada perlindungan terhadap koperasi.
“Seperti pabrik susu, koperasi di sana dilindungi. Demikian juga perkebunan anggur, perkebunan gandum, peternakan dan pertanian di sana, koperasi berperan amat penting,” paparnya. Dibandingkan dengan PT yang modalnya kuat dan perseorangan, koperasi itu modalnya bersama. Kalau koperasi unsur sosialnya tinggi, dan PT ada devidennya. Sahala pun berharap agar di tahun 2016 ini pemerintah bisa terus melindungi usaha koperasi di Indonesia. “Kita memang tidak minta dikasihani, namun melalui koperasi kita harus dukung ekonomi rakyat. Kita pun terus imbau agar koperasi-koperasi di Indonesia bisa meningkatkan SDM-nya, administrasinya, dan sistem pengawasannya agar diperkuat. Dan kita harus jaga kepercayaan masyarakat,” tegasnya.
 
Koperasi, katanya, harus terus berbenah, namun pemerintah pun harus memperhatikan eksistensi koperasi. “Kalau untuk urusan simpan pinjam, itu mesti koperasi, jangan badan usaha lain. Melalui ASKOPINDO kami akan memperjuangkan apa yang harus diperhatikan pemerintah. Dan asosiasi ini akan terus berupaya untuk memajukan kesejahteraan dan kemajuan koperasi,” papar Sahala yang termasuk dalam “20 Tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU 2010 dan 2014.”
Saat berbicara tentang kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta, Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M. (Ahok), Sahala sebagai pengusaha nasional dan tokoh masyarakat menuturkan, “Memang gubernur DKI Jakarta yang satu ini agak berbeda dengan gubernur-gubernur sebelumnya. Ahok kalau dari tampilan berbicara seperti orang Batak, tegas, keras dan emosi. Namun saya memperhatikan pemimpin seperti itu sangat dibutuhkan warga DKI Jakarta. Dulu di dekat rumah kami di kawasan Pulo Mas, Jakarta Timur, setiap hujan turun selalu banjir. Nah, di masa Ahok jadi gubernur, ada perbaikan, dan tak ada lagi banjir. Itu harus kita apresiasi dari Ahok.”
Menurut Sahala, sebagai figur anak bangsa dari Kristen, Ahok banyak bekerja dan tegas berbicara. “Mari kita dukung dan doakan gubernur Ahok. Partai NasDem dan Partai Hanura sudah menyatakan mendukung dia, sekalipun katanya Ahok maju dari jalur independen. Kalau dia maju dari jalur independen, itu artinya ada perubahan politik dan pendidikan politik bagi bangsa kita. Di era Orde Baru hanya tiga partai politik, dan sekarang banyak, sehingga calon kepala daerah yang akan tampil pun bisa dipilih. Kita juga berharap agar tokoh-tokoh nasional, seperti pimpinan PDI Perjuangan yang katanya dekat ke Ahok bisa pula mendukung Ahok,” pungkasnya.
“Saya terus terang mengaku kagum terhadap Ahok. Meski demikian cara Ahok berkomunikasi ada kekurangan, perlu dipoles agar orang semakin senang. Saya lihat kepemimpinan Ahok mirip-mirip Ali Sadikin yang jenderal Angkatan Laut dan tegas, dan semua dilabraknya. Namun jelas ada perubahan di Jakarta di era Ali Sadikin, dan sekarang pun banyak orang menikmati hasil pembangunan di era Ahok. Kita berharap Ahok terus mendapat dukungan rakyat, dan DKI Jakarta butuh orang seperti dia. Ahok berani dan tidak takut mati. Kita doakan dia agar selalu dilindungi Tuhan,” cetusnya.
 
 Sahala Panggabean yang dulu bankir mengatakan, “Sejak tahun 2009 lalu saya mulai dipublikasikan di Majalah NARWASTU yang kita cintai ini. Bersamaan dengan itu pula banyak warga gereja dan orang Batak yang semakin mengenal saya. Mereka mengatakan, ‘Oh, Bapak ini iya, Tokoh Koperasi yang diberitakan di Majalah NARWASTU itu’. Saya juga kaget, dan itu disampaikan saat ada acara pesta, resepsi, melayat orang meninggal, acara gereja dan acara adat Batak. Ternyata dampak pemberitaan media massa itu luar biasa. Terima kasih atas pemberitaan NARWASTU selama ini untuk saya dan NASARI,” pungkas Pak Sahala Panggabean senyum, yang termasuk juga dalam “21 Tokoh Kristiani 2014 Pilihan NARWASTU”, lantaran perjuangannya yang gigih untuk menopang perekonomian rakyat di bidang koperasi.   
Baru-baru ini, di saat ia menginjak usia 66 tahun, Sahala mengatakan, pada 6 Maret 2016 lalu ia sudah mengikuti acara di Gereja HKBP Kertanegara, Semarang,  atas pensiunnya dirinya sebagai penatua (sintua). “Saya kemarin mengikuti acara pelepasan di gereja, kami ada empat sintua mengikuti acara pelepasan. Saya terharu mengikuti acara itu. Sekarang kalau saya merenung, ternyata saya sudah 32 tahun menjadi sintua. Saya sejak umur 34 tahun sudah ditahbiskan jadi sintua. Saya sangat bersyukur kepada Tuhan Yesus, karena saya diberikanNya berkat-berkat atas keluarga, usaha maupun kesehatan,” tukasnya.
Sahala Panggabean menambahkan pada 21 Mei 2016 ini, ia pun akan menikahkan anaknya nomor tiga. “Dari empat anak saya, ini anak yang terakhir menikah. Sebagai orangtua tentu saya bahagia bisa menikahkan anak saya, karena orangtua bertanggungjawab mengantarkan anak-anaknya mulai dari lahir, sekolah, kuliah, berkarier dan berumah tangga agar hidupnya bahagia. Dan ini kebahagiaan tersendiri bagi kami, karena ketika anak-anak kami menikah dan punya anak, lalu kami punya cucu, itu semua karena anugerah Tuhan,” terangnya. 
 
Menurut Sahala Panggabean, dia tak berhenti untuk melayani masyarakat dan bangsa ini. Selain memimpin NASARI Group yang sudah tersebar di seluruh Tanah Air, ia pun sejak beberapa tahun lalu sudah dipercaya menjadi pimpinan di tengah keluarga besar marga Panggabean se-Indonesia. “Memimpin keluarga besar Panggabean tak pernah saya bayangkan, semua itu kepercayaan dan berkat dari Tuhan. Kita tahulah, di marga Panggabean banyak tokoh penting dan orang terhormat. Ada jenderal, mantan hakim agung, pengusaha besar, pengacara, mantan petinggi KPK, orang-orang pintar dan pengacara. Mempersatukan  itu, kan, tidak mudah,” paparnya.
Katanya, pada 9-10 Juli 2016 ini Forum Komunikasi dan Sinergi (FKS) Pomparan Si Raja Panggabean se-Indonesia (PORAPI) akan mengadakan Rakernas (rapat kerja nasional) di Sibolga, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Saat ini ada 10 DPW yang tergabung di Forum Komunikasi dan Sinergi (FKS) Pomparan Si Raja Panggabean se-Indonesia. “Dalam rakernas itu akan dibahas lagi mengenai visi dan misi organisasi ini agar semakin mampu dalam melayani dan mensejahterakan anggotanya. Tentunya kita bercita-cita agar organisasi ini mampu mensejahterakan keluarga besar Panggabean, misalnya, lewat koperasi,” terangnya.
 
Menurutnya, melalui organisasi dan infrastrukturnya, warga atau anggota Panggabean bisa semakin sejahtera. “Seperti masyarakat di Tarutung, kan, bisa diberdayakan dengan keterampilan tenun ulos (kain khas Batak) dan kacang sihobuk. Dari Sibolga bisa diupayakan untuk membuat abon ikan. Dengan dibangunnya bandar udara (Bandar) Silangit, Siborongborong (Tapanuli Utara), ini juga semakin mempercepat hubungan dari Jakarta menuju Tarutung. Saya sudah berbicara dengan Bupati kita di Tapanuli Utara, Pak Nikson Nababan, dia meminta saya agar ikut membantu mensejahterakan masyarakat lewat usaha koperasi di sana. Tentu ini harus kita sambut baik,” katanya. 
Di sisi lain, katanya, melalui Rakernas Forum Komunikasi dan Sinergi (FKS) Pomparan Si Raja Panggabean se-Indonesia ini, mereka ingin memotivasi agar generasi muda dari Panggabean bisa bangkit dan lebih berprestasi untuk ikut membangun gereja, masyarakat dan bangsa ini. “Generasi muda sekarang sudah lebih tinggi pendidikannya, bahkan ada yang sekolah di luar negeri, dan mereka jangan kalahlah dengan tokoh-tokoh tua di keluarga besar Panggabean. Orang-orang tua yang dulu, kan, bisa menjadi orang-orang hebat di Indonesia. Kita pun berharap generasi muda Panggabean bisa ikut menjadi generasi hebat di Indonesia ini,” terangnya.
 
“Di Rakernas keluarga besar Panggabean itu, akan kita upayakan undang tokoh-tokoh masyarakat, kepala daerah seperti Bupati Tapanuli Utara agar ikut juga memberikan motivasi dan arahan terhadap rakernas yang akan kita adakan. Jadi organisasi Panggabean ikut bersinergi membantu pemerintah, gereja dan masyarakat untuk mengupayakan kesejahteraan bangsa ini,” paparnya. Sahala Panggabean juga memuji kepemimpinan Presiden RI, Joko Widodo dengan Nawacita-nya, sehingga daerah seperti Tapanuli Utara cepat diperhatikan dengan membangun bandara Silangit. “Kita berterima kasih kepada Pak Presiden Jokowi,” paparnya. 
KT


Berita Terkait