Ir. Tjandra Tedja, M.Sc
Bicara Kemerdekaan dan Doa untuk Indonesia

1291 dibaca
Ir. Tjandra Tedja, M.Sc.

BERITANARWASTU.COM. Ir. Tjandra Tedja, M.Sc yang kini menjabat sebagai Operasional Director  PT. Imoca yang ditemui oleh Majalah NARWASTU pada Rabu, 6 September 2017 lalu, di Starbucks Plaza Senayan, berbicara tentang kemerdekaan Indonesia yang sudah 72 tahun. Menurut pria yang termasuk figur cerdas dan kritis ini, bangsa Indonesia sudah merdeka secara de jure, dan sudah dideklarasikan proklamasinya, tetapi secara de facto masih banyak yang belum merdeka.

Hal itu, katanya, bisa dilihat dari adanya perbedaan kaum minoritas dan mayoritas. Itu berarti belum 100% merdeka. Menurut Tjandra, karena masih ada perbedaan perlakuan jika orang berbeda agama. Hal seperti itulah, walaupun sudah merdeka 72 tahun lalu, tapi belum merasakan benar-benar kemerdekaan. Dan ini bukanlah hal yang aneh, karena Amerika Serikat pun mengalami hal yang sama. Ketika Amerika sudah merdeka tetapi warganya tetap melewati masa perbudakan dan segala macam sampai saat ini.                                                      

Berbicara tentang pembubaran ormas radikal yang ingin mengganti ideologi Pancasila dengan ideologi lain, menurut Tjandra, keputusan Pemerintah itu sudah sangat baik. “Karena kita harus menempatkan Pancasila sebagai nilai-nilai dalam organisasi, dan Pancasila tidak tergantikan dengan apapun juga,” tegas pria yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2011 Pilihan NARWASTU” itu. Dalam mengisi kemerdekaan RI ke-72 tahun, ujarnya, diharapkan kepada Presiden RI Jokowi bahwa masih banyak yang harus dibenahi sekarang di negeri ini, seperti pemerataan ekonomi. Dan, katanya, bukan sekadar masuknya investor di atas kertas. Tetapi harusnya kemerdekaan harus benar-benar bisa dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.

Karena, imbuh Tjandra Tedja, saat ini terlihat kemerdekaan hanya milik segelintir orang, dan belum merata sampai ke level paling bawah, yang belum menikmati 100% apa itu kemerdekaan. Dan umat Kristiani di Indonesia seharusnya bisa mempraktikkan ajaran kasih yang sudah diajarkan oleh Tuhan Yesus. Ironisnya setuju atau tidak setuju, suka atau tidak suka, umat Kristeni di Indonesia sudah diajarkan tentang kasih, tetapi ada orang yang belum mempraktikkan kasih itu sendiri. Di kemerdekaan Indonesia ke-72 tahun ini, seharusnya kasih itu benar-benar dipraktikkan,” terangnya.

Seperti gereja-gereja harus benar-benar menggembalakan domba-dombanya. “Bukan hanya gereja yang besar, tapi jemaatnya yang tidak tergembalakan pun mesti diperhatikan. Jadi seharusnya domba-domba diberi  makan dan digembalakan. Di Indonesia ini masih kurang perhatian itu, tapi ada beberapa gereja yang sudah melakukannya dengan baik. Tetapi masih banyak yang belum melakukannya,” cetusnya.

Bicara kekuatan doa bagi Indonesia, menurut Tjandra Tedja, doa adalah bagian kehidupan dari umat Kristiani. Tetapi tergantung bagaimana umat Kristiani menghidupi doanya. “Karena ada doa yang hanya muncul di mulut, tetapi tidak dihidupi doanya. Contoh, Tuhan pulihkan negeri kami, tetapi apa yang dia lakukan setelah memanjatkan doa itu,” tukas pria kelahiran Jakarta, 7 Januari 1965 ini.

Tjandra Tedja menerangkan, doa itu benar-benar punya manfaat dan dampak jika doa itu bukan sekadar hanya dipanjatkan. Tetapi doa itu dihidupi. “Jadi semisal kalau umat Kristiani bersama-sama berdoa di hari kemerdekaan RI ke-72 tahun ini, agar Tuhan lebih memberkati Indonesia. Dan bukan sekadar memanjatkan doa, tetapi melakukan apa yang bisa ia lakukan supaya benar-benar bisa memberkati Indonesia. Prinsip doa adalah, ora  et labora. Selain berdoa juga harus bekerja,” tegasnya. JK

Berita Terkait