Bicara Spiritualitas, Karakter, Etika dan Moral Pemimpin

663 dibaca
Pdt. DR. Nus Reimas (kanan) tampak bersama Pdt. Erwin A. Nuh Tantero (kiri), dan saat menerima buku kesaksian hidup Ketua Majelis Pertimbangn PGLII dan tokoh lintas agama ini.

              Beritanarwastu.com. Pdt. Erwin Nuh Tantero, seorang Hamba Tuhan yang sekarang giat menggembalakan jemaat di Gereja Isa Almasih (GIA) Mangga Besar, Jakarta Barat, saat ini selain sibuk melayani anggota jemaatnya, ia pun  sedang menyelesaikan studi S3 (program doktor) di STT Jaffray, Jakarta. Dan judul disertasi yang sedang disusunnya, yaitu “Studi Spiritualitas Alkitab Sebagai Landasan Etika Moral Pemimpin dalam Membangun Kehidupan Kristen di Gereja Isa Almasih (GIA) Mangga Besar Jakarta Barat.”

Dalam kaitan penyusunan disertasi tersebut, pendeta berusia 68 tahun yang sudah banyak memakan asam garam kehidupan ini meminta pendapat dari sejumlah pemimpin gereja (pendeta) yang dianggap senior dan kompeten untuk berbicara mengenai spiritualitas dalam kaitannya dengan pelayanan para pemimpin Kristen. “Banyak pemimpin Kristen yang punya pengetahuan tinggi, namun karakter, etika dan moralnya tidak tersentuh dengan kebenaran Firman Tuhan. Sebabnya, saya mengkaji hal yang berkaitan dengan itu untuk penulisan disertasi ini,” kata Pdt. Erwin Tantero.

Peran spiritualitas atau keimanan (hubungan seseorang dengan Tuhan), sangat penting dikaji, karena itu memberi pengaruh di dalam kehidupan. Dan spiritualitas pemimpin berkaitan erat dengan karakter, etika dan moral pemimpin yang bersangkutan. “Karenanya, saya meminta kesediaan Pak Pdt. DR. Nus Reimas (Ketua Majelis Pertimbangan PGLII dan juga Pembina/Penasihat Majalah NARWASTU) untuk memberikan pendapat tentang spiritualitas,” kata Pdt. Erwin Tantero.

             Spiritualitas Alkitab dan landasan etika moral pemimpin itu penting di dalam membangun SDM (sumber daya manusia) agar kompeten. Itu juga penting untuk membangun kerohanian jemaat dan melibatkan mereka dalam pelayanan gereja bagi pertumbuhan gereja itu sendiri. Dalam kaitan itu, ada tiga pertanyaan yang disampaikan kepada Pdt. Nus Reimas. Pertama, apakah penjelasan makna spiritualitas Alkitab? Kedua, bagaimana Pak Pdt. Nus Reimas menjelaskan dasar-dasar Alkitab bagi spiritualitas Kristen? Ketiga, bisakah Pak Pdt. Nus Reimas memberi contoh dasar-dasar spiritualitas Alkitabiah, baik dari Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru?         

             Pdt. Nus Reimas menjelaskan, “Siapakah sesungguhnya manusia itu? Dia adalah ciptaan Tuhan paling mulia. Adam dan Hawa adalah ciptaan Tuhan paling mulia. Semua di dunia ini dilengkapi dulu, baru mereka ada atau diciptakan. Saat itu Allah menyediakan apa yang dibutuhkan Adam dan Hawa dalam kehidupannya. Namun ada aturan main atau etika, bahwa ada sebuah pohon yang tidak bisa dipetik buahnya. Ada aturan main dari Allah untuk mengatur kehidupan saat itu. Masalahnya kemudian, manusia merasa ada yang kosong dalam dirinya, sehingga dia ingin tahu, lalu memetik buah terlarang tersebut, dan dia tak bertanggung jawab,” terangnya.

           Manusia jatuh ke dalam dosa, karena dia dibisiki iblis. Mereka menabrak aturan yang dibuat Allah. “Dan sekarang Alkitab itu landasan etika moral manusia atau umat Kristen. Saat manusia jatuh ke dalam dosa dan dia korselet, maka dia sudah melanggar landasan Alkitab. Namun saat manusia jatuh ke dalam dosa, Allah sebagai Pencipta dan Pemilik kehidupan memperbaiki kehidupan dengan manusia. Allah mendekati dan menyapa Adam dan Hawa, Allah berinisiatif, untuk melihat kejujuran mereka. Masalah etika dan moral itu ada dalam kejujuran. Sekarang banyak orangtua dan anak, suami dan istri tidak harmonis, karena ada ketidakjujuran di antara mereka,” paparnya.

             Sekarang, kata Pdt. Nus Reimas, ada orang ditahan KPK karena tidak jujur. Gereja pun bisa rusak karena ada orang-orang yang tidak jujur. Orang yang tidak jujur sering membuat akal-akalan. Banyak orang kalau sudah jatuh ke dalam dosa jadi “kreatif” untuk berbohong. “Adam dan Hawa pada mulanya menutupi ketelanjangan mereka dengan daun, karena mereka tidak jujur. Lalu Allah menggantinya dengan kulit binatang setelah ada binatang dikorbankan,” cetus Ketua Dewan Pembina LPMI ini dan dua periode Ketua Umum PGLII itu.

             Dalam bukunya Christian Leadership, Dr. Robert Clinton dalam hasil surveinya menuliskan, hanya 33,3% pemimpin Kristen yang hidup dari landasan etika dan moral Firman Tuhan. Sedangkan sisanya gagal menjadikan Alkitab atau Firman Tuhan jadi landasan etika dan moral hidup. Supaya kita hidup di dalam spiritualitas Alkitab, ada tiga hal yang perlu diperhatikan. Pertama, kita harus terus belajar agar punya pengetahuan yang memadai. Kedua, berpikir secara Alkitabiah, dan berupaya hidup di dalam kebenaran. Ketiga, kita mesti menggali nilai-nilai Alkitab saat berkhotbah.

            Dan kalau semua pemimpin gereja, pendeta atau pengkhotbah sudah hidup di dalam kebenaran, maka ia akan memiliki spiritualitas Alkitabiah. “Secara spiritualitas, orang-orang yang dipanggil itu, tak bisa sama dengan orang-orang dunia, dia mesti tampil beda. Dan dari Kitab Kejadian sampai Kitab Wahyu kita membaca ada cerita tokoh-tokoh Alkitab dengan nilai-nilai spiritualitas. Ketika spiritualitas sudah kita miliki, maka kita akan merasakan kehadiran Roh Kudus. Roh Kudus akan menuntun kita agar mengerti tentang sesuatu. Roh Kudus itu memberikan damai sejahtera di dalam kehidupan kita,” paparnya.

           Pdt. Nus Reimas menerangkan, di dalam kehidupan ini kita harus hidup dengan memaknai persekutuan dengan Tuhan dan punya spiritualitas. Agama jangan dibuat hanya sebagai formalitas, dan kebenaran harus dikatakan. Rasul Paulus mengatakan, kita adalah surat Kristus yang terbuka. “Saya sudah 44 tahun melayani.   Dan tiap pagi selalu saya awali dengan bangun pagi, lalu berlutut berdoa dan membaca Alkitab. Saya berdoa agar Tuhan memperlengkapi saya di dalam hidup dan pelayanan saya, dan saya diberikan hikmat dan saya ingin dipakai Tuhan jadi alatNya. Saya bersama istri tiap pagi membaca Alkitab sebelum keluar rumah. Sebelum keluar rumah, kabar baik itu harus dimulai dari rumah. Hubungan suami dan istri, dan hubungan orangtua dan anak-anak di rumah harus harmonis, agar bisa membawa kabar baik ketika keluar,” katanya.

Tokoh-tokoh Alkitab yang menarik diperhatikan kehidupan spiritualitasnya, menurut Pdt. Nus Reimas, pertama, Raja Daud. Saat mulai memimpin ia awali dengan baik, dan ia sempat membuat masalah di tengah perjalanan hidupnya, karena ia berdosa, berzinah dengan Batsyeba, lalu melakukan dosa lainnya, yaitu membunuh agar ia bisa mendapatkan Batsyeba sebagai istri. Daud melakukan dosa karena ia tidak taat kepada perintah Tuhan. Lalu Nabi Natan datang menegurnya, dan dia mau bertobat. “Ending-nya, setiap Natal, Yesus selalu disebut anak Daud,” katanya.

             Kedua, Daniel, seorang yang cerdas. Dia mencari kerja saat berada di pembuangan. Dia berhadapan dengan aturan kerajaan yang menyimpang dari nilai-nilai Alkitab, namun dia setia dan taat, serta Daniel tidak mau menajiskan dirinya. “Tuhan memberikan kecerdasan kepada Daniel dan ia menerapkan nilai-nilai spiritualitas dalam kehidupannya. Allah selalu berpihak kepada Daniel, karena dia menerapkan nilai-nilai Alkitabiah di dalam hidupnya. Daniel selalu berdoa tiga kali sehari, dia konsisten dan setia. Saat dia dimasukkan ke gua singa, ia selamat. Dia selalu membangun komunikasi dengan Tuhan,” katanya.

           Ketiga, Yusuf. Sejak kecil ia sudah dikatakan bahwa Yusuf bakal menjadi pemimpin. Ancaman yang ia hadapi berat. Kakak-kakaknya iri ke dia, dia dijual ke Mesir, lalu dijadikan budak. Di Mesir dia difitnah dan dimasukkan ke penjara. Saat di penjara pun ia menunjukkan integritasnya, hingga ia kemudian bisa menafsirkan mimpi Raja Firaun dan ia diangkat menjadi Perdana Menteri yang menjadi berkat bagi Israel dan Mesir. Luar biasa hidupnya. Yusuf pemimpin yang konsisten dan setia.

           Keempat, Ayub seorang yang saleh, jujur dan terkaya. Ia tiap hari memberikan waktunya untuk berdoa bersama keluarganya kepada Tuhan. Suatu saat ia menghadapi masalah dan penderitaan. Hartanya habis, anak-anaknya habis dan dia menderita sakit. Istri dan teman-temannya mengolok-oloknya. Meskipun demikian dia tetap memuji Tuhan. Spiritualitasnya tinggi. Ayub mengatakan, Tuhan yang memberi, dan Tuhan juga yang mengambil, terpujilah Tuhan. “Ahok (Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M., Gubernur DKI jakarta) pun pernah mengatakan itu,” paparnya.

             Ayub, kata Pdt. Nus Reimas, tahu bahwa Tuhan sanggup melakukan segala sesuatu bagi umat yang dikasihiNya, dan tak ada rencana Tuhan yang gagal. “Tokoh-tokoh Alkitab itu luar biasa, dan kehidupan mereka layak kita contoh untuk kehidupan sekarang. Dalam hidup ini tak ada rancangan Tuhan yang salah. Tuhan tidak pernah salah memimpin umatNya. Kita harus berupaya hidup percaya dan taat pada kebenaran itu, dan mengajarkan kebenaran, serta menjadi pelaku kebenaran itu,” katanya.

             Pdt. Nus Reimas menerangkan, kalau pendeta atau pemimpin gereja punya spiritualitas yang sehat, maka akan melahirkan gereja yang sehat, dan tentu anggota jemaat yang sehat juga. Ilmu pengetahuan boleh bertambah tinggi, tapi Alkitab tetaplah landasan hidup kita. “Ketika kita sebenarnya berdoa, kita sebenarnya berbicara menyampaikan isi hati kita kepada Tuhan. Dan saat kita membaca Alkitab, maka Tuhan yang berbicara kepada kita. Alkitab harus kita jadikan jadi ‘roti’ dalam kehidupan kita sehari-hari,” paparnya.

             Orang atau pemimpin yang punya spiritualitas itu akan selalu bergaul erat dengan Tuhan, bahwa Tuhan itu kudus. Dunia bisa saja semakin individualistis, materialistis dan egois, dan tidak peduli kepada orang lain. Namun saat kita punya spiritualitas, maka ada Roh Kudus di dalam hati kita, yang membuat kita mengasihi sesama. Orang yang punya spiritualitas dia akan punya integritas, etika dan moral. “Tuhan pasti akan mencurahkan berkat-berkatNya kepada orang yang punya integritas atau yang hidupnya bersih. Ibarat sebuah gelas, kita tak mungkin menuangkan air minum ke gelas kotor. Demikian juga berkat Tuhan akan dicurahkan kepada yang hidupnya bersih,” paparnya.

              “Hari-hari ini banyak orang terlihat hidupnya rohani, namun perilakunya penuh dengan dosa. Ada orang membungkus hidupnya dengan hal-hal yang rohani agar terlihat berperilaku salah. Sekarang banyak politisi atau pemimpin terjatuh pada korupsi, juga jatuh pada dosa: harta, tahta dan wanita (seks), karena spiritualitas atau hubungannya dengan Tuhan itu gersang atau kering. Sekarang banyak orang berlomba mencari kebutuhan jasmani, bukan kebutuhan rohani (spiritualitas), karena dari kebutuhan jasmanilah manusia merasa bisa mendapat pujian dan kehormatan. Karena itu, di dalam hidup ini, agar kita punya spiritualitas yang baik dan berkualitas, kita harus hidup bergantung kepada Tuhan. Kita beribadah seharusnya agar bisa memuliakan Tuhan, bukan semata-mata agar dapat berkat,” tukasnya. KS 

Berita Terkait