Billy Graham Telah Tiada

• Oleh: DR. Eliezer H. Hardjo Ph.D., CM 753 dibaca


BERITANARWASTU.COM. Membicarakan momentum meninggalnya Reverend Billy Graham, yang nama lengkapnya, Dr. William Franklin Graham Jr. tentu pada saat Majalah NARWASTU kesayangan Anda ini hadir di hadapan Anda, telah usang dengan tenggang waktu lebih dari satu bulan, namun bagi Majalah NARWASTU inilah tulisan pertama tentang meninggalnya Rev. Billy Graham.

Rev. Billy Graham meninggal pada Rabu tanggal 21 Februari 2018 pukul 7.46 pagi waktu North Carolina, USA, di rumahnya dalam keadaan tidur, tenang. Dunia Kristiani ikut bersedih mendengar berita meninggalnya beliau, namun pada saat yang sama juga ikut bersyukur karena ia telah dipermuliakan bersama dengan Tuhan Yesus Kristus, Tuhan dan Juruselamat dirinya dan kita semua.

 

  

Rev. Billy Graham. Hamba Tuhan yang luar biasa.

 

Menulis tentang Billy Graham memerlukan berjilid-jilid buku dengan sejarah panjang dirinya menjadi seorang penginjil Amerika dan dunia, sehingga kolom ini hanyalah sekelumit kisah yang mudah-mudahan ikut menambah cerita tentang Billy Graham dari pandangan penulis. Wikipedia memuat catatan cukup lengkap tentang dirinya, keluarganya dan pelayanan semasa hidupnya. Kita mengutip sebagian darinya: Billy Graham dilahirkan di Charlotte, North Carolina, USA pada tanggal 7 Nopember 1918 dan meninggal di rumahnya di Montreat, North Carolina tanggal 21 Februari 2018, pada usia 99 tahun lebih, hanya tingal beberapa bulan lagi ia berusia 100 tahun, namun waktu Tuhan; Kairos, baginya untuk pulang ke rumah BAPA tidak menunggu menurut perhitungan dan kehendak manusia.

Billy menerima Kristus pada usia 16 tahun dalam serangkaian kebangunan rohani di Charlotte yang dibawakan oleh Evangelis Mordecai Fowler Ham. Pada 13 Agustus 1943 Billy Graham menikah dengan teman kuliahnya di Wheaton, yang bernama Ruth Bell, anak dari L. Nelson Bell, misionaris di China. Ruth meninggal dunia pada 14 Juni 2007, pada usia 87 tahun. Mereka hidup bersama dalam pernikahan selama 64 tahun. Dari pernikahan mereka lahir lima putera dan puteri: Virgina Leftwich (Gigi) Graham, Anne Graham Lotz, Ruth Graham, Franklin Graham dan Nelson Edman Graham. Franklin Graham yang meneruskan pelayanan Billy Graham, Billy Graham Evangelistic Association (BGEA) yang didirikan oleh Billy Graham tahun 1950, di samping Franklin sendiri mendirikan dan memimpin pelayanan dari Samaritan Purse, lembaga sosial khususnya menolong dalam bencana alam.

Jadi kelima putera puteri Billy & Ruth, semuanya terlibat dalam pelayanan, sungguh keluarga teladan. Billy Graham merintis pelayanan sebagai gembala di United Gospel Tabernacle. Pada tahun 1943-44 ia juga pernah melayani sebagai gembala di First Baptist Church di Western Springs, Illinois. Pelayanan evangelistik melalui kebangunan rohani dirintis di tahun 1947. Pada 13-21 September 1947, Billy Graham mengadakan KKR pertama di Civic Auditorium di Grand Rapids, Michigan yang dihadiri 6.000 orang.

 Billy baru berumur 28 tahun waktu itu. Ia mengadakan altar call di setiap akhir khotbahnya dan tiap kali beribu-ribu orang memenuhi panggilan tersebut. Billy menyebut rangkaian KKR-nya sebagai Crusade (catatan: tidak perlu diterjemahkan di sini). Sejak itu tercatat Billy Graham melaksanakan tidak kurang dari 400 kali KKR di 185 negara, di lima benua. Amat disayangkan tidak kesampaian di Indonesia oleh karena adanya berbagai hambatan. Billy Graham juga tercatat sebagai pendiri Lausanne Movement bersama dengan John Stott, kawan baiknya. Salah satu kongres Lausanne Movement dihadiri oleh perwakilan dari 150 negara dengan jumlah peserta 2700 orang yang terdiri dari para pemimpin dari berbagai denominasi gereja, para hamba Tuhan dan anggota jemaat yang diadakan di Lausanne, Swiss pada tanggal 16-25 Juli 1974, dan sejak itu Lausanne Movement secara rutin mengadakan konferensi internasional berkala.  

 Sejak tahun 2010 Billy Graham tidak lagi tampil di publik untuk mengadakan KKR oleh karena mengalami gangguan di penglihatan dan pendengarannya.  Billy Graham pernah menjadi penasihat spiritual dari 12 Presiden Amerika Serikat dari mulai Presiden Harry S. Truman sampai Barack Obama. Berbagai penghargaan dan gelar diterimanya. Terlalu banyak untuk disebutkan.

     Billy Graham merupakan fenomena. Berjuta-juta orang menghadiri KKR yang dipimpinnya dan berjuta-juta orang juga menerima Kristus melalui pelayanannya. Jauh lebih banyak dari semua orang baik yang tercatat dalam Perjanjian Baru maupun sejarah manusia modern. Ia sangat berkomitmen dalam memenuhi panggilan melaksanakan Amanat Agung Kristus. Hidupnya dipersembahkan untuk memenuhi tugas panggilan tersebut, tidak kurang dari 70 tahun ia melakukannya dengan setia sejak KKR pertama yang diadakannya

     Ia juga dikenal sebagai tokoh Kristiani panutan yang tidak pernah terlibat skandal, baik wanita maupun manipulasi uang. Tentunya tidak mudah baginya untuk menolak setiap godaan dan pencobaan yang datang silih berganti dengan ketenaran yang dimilikinya. Ia juga rendah hati, namun sangat tegas melawan kejahatan dan ketidakadilan. Billy Graham telah meninggalkan legacy, bukan saja bagi anak-anak, cucu-cucu dan keturunannya bagaimana menjadi hamba Tuhan yang benar dan setia. Ia adalah teladan bagi kita semua. Ia adalah surat Kristus (2 Korintus 3: 3) yang terbuka bagi manusia zaman ini.

      Ungkapan-ungkapan yang dikemukakannya menjadi kutipan berharga yang berulangkali dikutip dalam berbagai kesempatan. Di antaranya, “Aku tidak akan masuk sorga oleh karena aku berkhotbah kepada orang banyak atau membaca Alkitab berkali-kali. Aku akan pergi ke sorga seperti halnya penyamun di kayu salib yang berkata pada saat-saat terakhir, “TUHAN, ingatlah akan aku.” Kemudian, “Suatu hari Anda akan membaca atau mendengar bahwa Billy Graham mati. Jangan percaya satu katapun tentang berita itu. Karena aku akan lebih hidup dari sekarang aku hidup. Aku hanya perlu merubah alamat rumahku, karena Aku pergi ke rumah dan tinggal bersama dengan TUHAN-ku.”

Billy Graham telah tiada, namun bukan karena ia mati, melainkan karena ia hidup dalam dunia lain, di sorga yang mulia, dimana kita semua akan bertemu dengannya. Billy Graham telah tiada di dunia, namun Amanat Agung belum berakhir, dan kita semua yang harus meneruskannya.  “Goodbye Billy, thank you for your exemplary life in Christ. Till we meet again in the most glorious place of our Father in Heaven.”

 

·         Penulis adalah salah satu Pembina/Penasihat Majalah NARWASTU.

Berita Terkait