Bolehkah Orang Kristen Bercerai Karena Zinah?

• Oleh: Pdt. Dr. Tjepy Jones B. 1141 dibaca
• Penulis adalah Gembala Sidang dari Cibubur City Blessing Cibubur. Tjepy Jones

Beritanarwastu.com. Maleakhi 2:15-16,Bukankah Allah yang Esa menjadikan mereka daging dan roh?

Dan apakah yang dikehendaki kesatuan itu? Keturunan ilahi! Jadi jagalah dirimu! Dan janganlah orang tidak setia terhadap isteri dari masa mudanya. Sebab Aku membenci perceraian, firman TUHAN, Allah Israel...”

Allah membenci perceraian, karena pernikahan itu sendiri adalah rencana Ilahi. Ketika Rasul Paulus berbicara tentang hubungan suami istri, di akhiri dengan kalimat “rahasia ini besar, tetapi yang aku maksud ialah hubungan Kristus dan jemaat” (Efesus 5:32). Jadi pernikahan Kristen adalah gambaran Kristus Yesus dan jemaatNya. Tetapi ada pernyataan Tuhan Yesus dalam Matius 19:9 mengatakan, bahwa barangsiapa menceraikan isterinya, kecuali karena zinah, lalu kawin dengan perempuan lain, ia berbuat zinah. Apakah ini pengecualian? Tentu tidak, karena Mazmur 89:35, ”Aku tidak akan melanggar perjanjian-Ku, dan apa yang keluar dari bibir-Ku tidak akan Kuubah.

Maka kalaupun sampai terjadi perceraian itu masuk ke dalam kategori karena ketegaran hati manusia, bukan karena diizinkan Tuhan (Matius 19:8). Mari kita lihat apa maksud pernyataan Tuhan Yesus itu. Dalam Matius 19:6, dikatakan, “Apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan manusia.” Mengapa tidak boleh? Mengapa bukan tidak bisa? Karena memang bisa, pertama diceraikan oleh maut, selanjutnya manusiapun dapat melakukannya dengan berbagai alasan. Salah satu yang sering dijadikan alasan adalah ketika terjadi perselingkuhan yang dilakukan oleh salah satu dari pasangan suami istri.

Firman Tuhan di dalam 1 Korintus 6:16, mengatakan, seseorang yang mengikatkan diri pada perempuan cabul menjadi satu tubuh dengannya. Artinya, kovenan pernikahan mereka menjadi rusak karena perselingkuhan itu. Di titik ini tidak sedikit orang Kristen yang mengambil langkah untuk melegalkan rusaknya kovenan ini dengan cara mengurus perceraian, tetapi perintah Tuhan adalah tegas, ”Tidak boleh bercerai!” Perintah ini memberi harapan sekaligus mengandung kuasa untuk memulihkan rusaknya kovenan itu. Perlu diingat bahwa setiap Firman Tuhan itu mengandung kuasa di mana Dia sendiri yang akan melakukannya dan pasti berhasil (Yeremia 55:11) asalkan kita mau percaya.

Sama halnya ketika Tuhan Yesus berkata kepada Petrus di tengah angin kencang di dalam perahu “datanglah!”, lalu Petrus datang dan berjalan di atas air. Bukan karena kemampuan Petrus tetapi karena kata “datanglah” adalah Firman Allah yang dipaket dengan kekuatan untuk menopang tubuh Petrus untuk mengatasi hukum gravitasi sehingga tidak tenggelam. Sampai pada saat Petrus menjadi bimbang, karena tiupan angin, baru Petrus mulai tenggelam lalu Tuhan tolong, seharusnya Petrus tetap fokus pada perkataan “datanglah” itu. Ibrani 1:3, “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firmanNya yang penuh kekuasaan.”

Dengan demikian di dalam Firman “tidak boleh menceraikan”, juga dipaket dengan kuasa untuk mengampuni bagi yang dirugikan. Juga kuasa untuk menerima pengampunan bagi yang berbuat salah, asal mau percaya. Ada kasus di mana salah satu pihak tidak mau tunduk akan Firman Tuhan, baik di pihak yang tidak rela mengampuni atau pihak yang tidak bisa menerima pengampunan, dan larut dalam emosional masing-masing yang berlebihan. Maka perceraian pasti terjadi, dan inilah yang dimaksud Tuhan Yesus sebagai kedegilan hati yang adalah wujud dari ketidakpercayaan seseorang yang juga pemberontakan terhadap Firman Tuhan.

Maka di sinilah maksud pernyataan Tuhan Yesus dalam Matius 19:9, bahwa di dalam kedegilan hati setelah terjadi perzinahan, pihak yang dirugikan oleh pasangannya yang berbuat berzinah ini sudah tidak lagi berada di dalam kovenannya yang lama. Di lain pihak, pasangannya sudah menjadi satu daging dengan orang lain karena perzinahan. Jadi kalau pihak yang dirugikan ini menikah lagi, maka dia tidak sedang berbuat zinah. Tetapi perlu diingat bahwa ini bukanlah persetujuan cerai dari Tuhan, tetapi lebih kepada pernyataan bahwa orang yang pasangannya ini berzinah berada di dalam posisi terlepas dari kovenan karena perbuatan pasangannya.

Di atas semua itu yang terbaik adalah usahakanlah perdamaian dan hidup saling mengampuni (Efesus 4:32). Itulah kehendak Tuhan yang sempurna bagi kedua pihak yang bermasalah. Tuhan siap memulihkan setiap persoalan kita dengan kuasaNya. Amin 

Berita Terkait