BTP (Ahok), Benih Mati yang Berbuah

• Oleh: Dr. Antonius Natan 612 dibaca


BERITANARWASTU.COM.  Kembang papan beribu-ribu dikirim ke Balai Kota Pemprov DKI Jakarta, baru-baru ini, menyusul kembang papan dikirim ke kantor pemerintahan di berbagai daerah. Semua untuk dan karana Ir. Basuki Tjahaja Purnama (BTP), M.M. (Ahok). Berhari-hari pesta kembang terjadi, hingga taman dan jalan di sekitar Balai Kota dipenuhi dengan ribuan kembang dan juga balon merah putih. Herannya, pemenang pilkada tidak mengalami euphoria ini. Pemandangan menarik di sekitar Balai Kota Jakarta dan menjadi wisata dadakan bagi masyarakat ibukota. Biasa kembang dikirim untuk menyatakan duka, simpati atau kebahagiaan. Sepertinya kali ini sebagai pernyataan duka yang mendalam sebagai akibat kehilangan kesempatan pada pilkada putaran kedua, tetapi juga sekaligus pernyataan simpati.

Benih Mati yang Berbuah

Fenomena revolusi bunga BTP atau Ahok menunjukkan beliau sebagai benih yang mati, Ahok harus mati seperti benih/ biji yang ditanam dalam tanah. Dalam kesunyian dan kesendirian mendekam di tempat yang jauh dari keramaian dan kebisingan. Gelombang baru terjadi, perubahan atmosfir menjadi drastis, benih/biji yang mati mengalami metamorfosa dari dalam tanah sesungguhnya itulah proses transformasi menuju perubahan yang lebih baik terjadi bagi diri Ahok maupun masyarakat Indonesia. BTP Ahok akan berbuah lebat, menjadikan Indonesia raya yang baru.

Disadari atau tidak, berjuta doa dipanjatkan, setiap harinya bahkan terjadi setiap jam mungkin juga setiap menitnya banyak orang berbagai suku bangsa di Indonesia menghadap Yang Maha Kuasa, mengadukan persoalan dan kerinduan hati kepada Allah Sang Pencipta. Persoalan yang dihadapi Ahok bukanlah menjadi persoalan pribadinya saja, melainkan menjadi persoalan bangsa Indonesia. Banyak penduduk pulau-pulau di sebelah barat, selatan, utara dan timur di berbagai pelosok nusantara memperdengarkan jeritan doa-doa yang dipanjatkan bagi keselamatan Ahok.

Apakah Tuhan Allah Sang Pencipta tidak mendengar jeritan, isak tangis dan pengharapan banyak orang? Tentu sebagai umat yang beriman, kita percaya Tuhan Allah sangat peduli, dan waktuNya akan tiba menjadi jawaban. Itulah imanku dan iman Anda tentunya.

 

Transformasi Pasti Terjadi

Benih/biji yang terkubur dalam tanah mengalami proses perubahan dan seterusnya akan menumbuhkan tunas muda yang lembut tetapi nyata, selanjutnya akan berbuah lebat. BTP alias Ahok, tidak akan sia-sia berada dalam kungkungan di sel penjara. Keputusan hakim dan pengadilan bernuansa politik akan mendewasakannya. Tuhan mendengarkan doa tetapi kita hanya perlu memahami jalan pikiran Tuhan, Alkitab menyatakan dalam Habakuk 1:4, “Itulah sebabnya hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.

Dari satu sisi, Tuhan Allah Sang Pencipta Langit dan Bumi akan memberikan perubahan yang menggetarkan banyak jiwa, kemunafikan akan menunjukkan dirinya sejalan dengan waktu berlalu, kebohongan akan menguak topeng yang dipakainya, semua akan menjadi terjungkal, BTP adalah biji mata Tuhan yang ditetapkan bagi transformasi yang pasti terjadi di Indonesia. Kekuatan BTP berasal dari Tuhan, bukan dari manusia, kekuatan supranatural yang menyertainya telah terbukti selama ini berada dalam kehidupan pribadi, terbukti dalam integritas dan komitmennya serta terlihat ketegaran hatinya saat vonis dibacakan. M

Manusia dapat menyerah tetapi “roh” yang ada dalam diri BTP lebih besar dari persoalannya. Penantian dibutuhkan sebagai proses, wujudnya berupa kesatuan dari berbagai suku, agama dan ras yang terus mengumandangkan kebutuhan akan keadilan dan kemakmuran bagi bangsa Indonesia. Semua terjadi karena ada “orang orang benar” berdoa dan bertindak dalam kesatuan hati dan mewujudkan persatuan dalam menggapai cita-cita kemerdekaan Republik Indonesia. Indonesia akan berbuah karena benih yang mati itu akan tumbuh. Yohanes 12:24, “Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya jikalau biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.

 

·                     Penulis adalah Wakil Ketua I STT Rahmat Emmanuel, Jakarta.

Berita Terkait