Emanuel Dapa Loka
Bukan Wartawan Kristiani Biasa

600 dibaca
Emanuel Dapa Loka

Beritanarwastu.com. Harian Kompas pada akhir 2012 lalu telah mengadakan lomba menulis dengan tema Bahasa dan Kita. Acara ini diadakan dalam rangka Bulan Bahasa 2012. Dalam lomba itu, wartawan Kristiani yang juga mantan Ketua PERWAMKI (Persekutuan Wartawan Media Kristiani Indonesia), Emanuel Dapa Loka, dan kini Ketua Paguyuban Wartawan Katolik Indonesia (PWKI) meraih juara 3 dari 1.200 tulisan yang diterima panitia. “Tanpa banyak berharap, saya ikutkan tulisan saya berjudul Berbahasa, Jangan Hanya Berprinsip ‘Asal Bisa Dimengerti’. Di luar dugaan, saya ‘ditaruh’ di posisi juara 3. Saya senang bahwa yang saya pikirkan diapresiasi,” ujar mantan jurnalis Majalah Inspirasi, yang baru-baru ini sudah meluncurkan bukunya Orang-orang Hebat Dari Mata Kaki ke Mata Hati ini.

Eman, begitu ia akrab disapa, adalah salah satu pendiri PERWAMKI. Ia tamat dari SMA Katolik Anda Luri, Waingapu, Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada 1990. Setelah itu, ia masuk ke Seminari Menengah Petrus Kanisius, Mertoyudan, Magelang. Kelas di seminari ini disebut Kelas Persiapan Atas (KPA). Biasanya, yang tak mengikuti pendidikan seminari menengah, tapi mau jadi imam Katolik, mereka diwajibkan untuk masuk KPA. “Saya dari SMA non-seminari sehingga harus ikut KPA,” cetusnya.

Setelah KPA, imbuhnya, ia dan teman-temannya memasuki masa novisiat selama setahun (masa pendidikan khusus untuk menjadi calon imam, setelah itu baru terima jubah). “Setahun kemudian kami masuk dalam rumah pendidikan kongregasi di Yogyakarta, namanya Wisma Sang Penebus. Rumah ini adalah biara, para penghuninya kuliah filsafat dan teologi di Universitas Sanata Dharma. Pada tiga tahun pertama, para mahasiswa lebih banyak belajar filsafat daripada teologi. Namun, saya hanya kuliah 4 semester. Saya mengundurkan diri dari biara sekaligus dari Sanata Dharma. Mengetahui saya gagal jadi imam, mama saya ngambek, sempat tak mau makan selama tiga hari,” kenangnya.

Selepas dari biara, ia memeriksa dasar bakat dan kemampuannya. “Saya putuskan kuliah di bidang jurnalistik. Karena sebelumnya saya sudah beberapa kali menulis berita atau opini kecil-kecilan di beberapa media. Saya mengira, inilah bakat saya. Saya ambil jurusan jurnalistik di Akademi Komunikasi Yogyakarta (AKY). Jadi, saya hanya lulusan D3, meski ada yang mengira saya S1 sehingga ada pihak tertentu yang mau membiayai untuk ambil S2 ha...ha,” ujar Eman.

Saat kuliah dulu, Eman terbiasa menulis di koran atau majalah. Motivasi utamanya untuk mendapatkan uang dan agar diperhitungkan oleh teman-temannya. “Dan keduanya saya dapatkan. Bahkan, dari uang honor yang tidak seberapa, saya bisa berbagi dengan beberapa adik yang juga kuliah,” papar Eman yang punya ayah guru SD yang punya 10 anak. “Saat kuliah, saya rajin ikut seminar untuk bisa menulis berita seminar itu ke majalah yang biasa memuat tulisan saya. Ketika itu saya tak punya kartu pers, hanya modal nekad. Kalau panitia membolehkan saya ikut, saya senang. Tapi kebanyakan membolehkan,” kisah pria kelahiran Sumba, NTT, 18 Desember 1969 ini. Eman menikah dengan Ambrosia Suryani Gultom, dan punya satu anak Theresia Loise Angelica Dapa Loka.

Kemudian setamat kuliah, karena sudah sering menulis di Majalah Bahana, Eman dipanggil untuk bergabung di media Kristiani terbitan Yogyakarta itu pada akhir 1999 lalu. Lima tahun kemudian ia mundur dan bergabung di tabloid Mitra Indonesia. Ia lalu mendirikan media pendidikan Inside. Karya Eman lainnya di bidang tulis menulis, yaitu buku Artis juga Umat Tuhan (Penerbit Andi, Yogyakarta), dan In Providentia Dei: Narasi Kehadiran Rahmat Allah (Pustaka Nusatama, Yogyakarta).

               Tak hanya itu, ia pun editor novel Perempuan itu Bermata Saga (Elex Media Komputindo-Gramedia Group) karya abang Eman sendiri, Agust Dapa Loka. Novel ini memenangkan NTT Academia Award 2011 bidang humaniora. Juga editor novel remaja ilmiah populer Nanosamo karya Dr. Kebamoto dan editor beberapa buah buku. Saat ini, ia pun mengelola majalah Paroki Santa Clara Bekasi, Suara Clara.

Tentang aktivitasnya di bidang tulis menulis, Eman menuturkan, dengan tulisan ia hendak mengajak orang untuk berbahasa dengan baik. “Kalau berbahasa dengan baik, apa yang hendak disampaikan akan diterima dengan baik pula. Sayangnya banyak kaum terpelajar tak bisa membedakan hal-hal dasariah, seperti kata depan dan imbuhan. Atau menggunakan ungkapan secara sembrono. Salah satu yang saya kritik adalah penggunaan bentuk pasif dan ungkapan bus way. Bus way dan transjakarta disamakan begitu saja. Transjakarta adalah salah satu moda transportasi di Jakarta, sedangkan bus way adalah jalan khusus untuk transjakarta,” paparnya.

Eman adalah salah satu wartawan kebanggaan umat Kristiani. Selain menulis buku, memimpin organisasi pers, ia pun menulis di sejumlah media nasional, seperti Kompas, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Jakarta Post dan Gatra. Tak hanya itu, ia piawai sebagai moderator. Baru-baru ini, di Gedung LPMI, Jakarta Pusat, saat diadakan diskusi soal media religi dan peranannya dalam membangun persatuan bangsa oleh Kementerian Polhukam RI, PERWAMKI dan PWKI, Eman kembali menunjukkan kemahirannya sebagai moderator.

Mantan Ketua PERWAMKI yang juga Redaktur Pelaksana Majalah Berita Oikoumene, Markus P. Saragih, S.Sos berkomentar, penghargaan yang diterima Eman ini sangat patut diapresiasi. “Ini tentu kebanggaan buat PERWAMKI. Eman dapat penghargaan dari Kompas, itu luar biasa. Sebelumnya Jonro I. Munthe (Pemimpin Redaksi NARWASTU) dapat award sebagai Jurnalis Muda Motivator dari Majelis Pers Indonesia (MPI) pada 2009 lalu, itu berarti ada pengakuan institusi luar terhadap kader-kader PERWAMKI. Semoga penghargaan seperti ini bisa memacu teman-teman wartawan Kristen agar terus mengembangkan diri,” ujar Markus yang sukses mengadakan Mubes IV 2013 PERWAMKI di Bali.     

Berita Terkait