Buku 80 Tahun Chris Kaligis Diluncurkan Saat Ulang Tahun

500 dibaca
Pak Chris Kaligis (tengah) diapit menantu Y. Deddy A. Madong, S.H., M.A. (kiri) dan penulis buku Markus Saragih, S.Sos (kanan).

            Beritanarwastu.com.  Banyak cara dilakukan orang untuk memberi kejutan kepada orang yang mereka kasihi di momen-momen penting dalam kehidupan, seperti ulang tahun kelahiran, ulang tahun pernikahan, kenaikan pangkat, mendapatkan keturunan dan sebagainya. Seperti yang dilakukan oleh advokat/pengacara senior dan aktivis HAM serta Ketua III PGLII, Y. Deddy A. Madong, S.H., M.A.

              Bersama keluarga besar, Deddy, panggilan akrabnya, memberikan kejutan kepada sang mertua, Pak Chris Kaligis, berupa buku biografi berjudul “80 Tahun Chris Kaligis”, yang diluncurkan saat perayaan hari ulang  tahunnya  ke-80 di salah satu restoran di bilangan Jakarta Selatan, pada Sabtu, 13 Mei 2017 lalu. Tidak hanya keluarga, dan sahabat, dalam acara ini harir pula para pensiunan BNI yang rata-rata telah memasuki usia sepuh. Adanya buku ini sudah pasti mengejutkan Chris Kalagis, karena sebelumnya tidak pernah mengira bakal ada buku biografi atau perjalanan hidupnya yang akan dibagikan.

Buku biografi yang ditulis oleh jurnalis senior lulusan IISIP Jakarta dan mantan Ketua PERWAMKI, Markus Saragih, S.Sos yang juga Redaktur Pelaksana Majalah Berita Oikoumene PGI ini, berisi perjalanan hidup Chris Kaligis, pensiunan bank terkemuka di Indonesia, Bank Nasional Indonesia (BNI). Bukan sekadar buku biografi biasa, buku ini lebih menonjolkan sikap-sikap inspiratif yang dilakukan Chris dalam perjalanan hidupnya selama 80 tahun. Salah satu kisah inspiratif, yaitu tatkala Chris diterima sebagai karyawan BNI di Makassar (Halaman 3).

Saat itu, pria kelahiran 8 Mei 1937 ini langsung mencari gereja terdekat untuk berdoa mengucap syukur, karena diterima bekerja di Bank BNI Cabang Makassar. Mengucap syukur melalui doa dirasakannya sebagai sesuatu kewajiban. Dia percaya bahwa berkat pekerjaan yang diterimanya adalah anugerah Tuhan. Hal lain ketika Chris mendapat tugas khusus, yaitu terbang ke London, Inggris, untuk mengikuti sebuah pertemuan internasional. Dirinya merasa bingung lantaran itu kali pertama pergi ke negeri orang, tanpa mengenal seluk-beluk negara tersebut. Dalam kebingungannya itu hanya berdoa kepada Tuhan Yesus yang bisa dilakukannya.

Meniti kariernya yang gemilang di BNI tidak membuat Pak Chris melupakan pentingnya pengembangan spiritualitas. Sekitar tahun 80-an, bersama-sama rekan seiman di BNI, mereka mendirikan Badan Pembinaan Kerohanian Kristen dan Katolik. Hingga kini lembaga tersebut masih berjalan. Sekali sebulan diadakan ibadah di lantai 3 Gedung BNI, Jakarta, dengan mengundang pengkhotbah, baik pendeta maupun pastor. Tidak hanya ibadah rutin, perayaan Natal karyawan BNI pun kerap dilaksanakan dengan penuh kemeriahan.

Salah satu cerita inspiratif lainnya juga muncul ketika memasuki masa pensiun (Halaman 7). Pak Chris dipercaya untuk mengelola Hotel Sangga Buana di Cipanas, Jawa Barat, milik BNI. Sebuah hotel yang dalam kondisi mengkhawatirkan, lantaran terus merugi. Namun, kepercayaan dari pihak BNI tidak langsung diiyakan. Pak Chris merasa tidak memiliki kompetensi untuk mengelola sebuah hotel. Ibarat permata yang kemilaunya bisa dilihat semua orang, pihak BNI tetap bersikukuh meminta Chris untuk duduk sebagai pengelola hotel.

Pengalaman ayah dari empat orang putri ini dalam membina karyawan menjadi salah satu modal besar yang dinilai bisa digunakan untuk “membangkitkan” hotel yang tengah dalam masa kritis tersebut. Setelah hal itu digumuli dalam doa, akhirnya dengan sebulat hati Chris menerima kepercayaan tersebut. Dan selama 7  tahun mengelola hotel, perubahan ke arah yang lebih baik terus terjadi. Fasilitas yang ditawarkan pun kian beragam dan keuntungan pun mulai bisa dinikmati.

Begitu juga dari sisi pelayanan. Di usia yang lanjut, justru membuat Pak Chris kian getol melayani di gereja. Tidak tanggung-tanggung, Pak Chris dipercaya sebagai Pimpinan Persekutuan Kaum Lanjut Usia (PKLU) di GPIB Cinere, Jakarta Selatan. Di bawah kepemimpinannya, pelayanan kaum lansia kian semarak. Bahkan, ia pernah membawa rombongan lansia pelayanan sampai ke Manado. Bagi Chris, pelayanannya di dunia lansia lebih sebagai ucapan syukur dan tanggung jawab atas apa yang sudah Tuhan berikan kepadanya. “Kita, kan, selalu dapat berkat dari Tuhan, ada ‘kerjaan’ yang berkaitan dengan memuji Tuhan, masa kita tidak mau,” begitu pesannya sekaligus otokritik yang patut kita cermati dari Pak Chris. TK

Berita Terkait