Cerita Hidup Ahok Yang Sarat dengan Nilai juang, Nasionalisme dan Pesan moral

212 dibaca


Beritanarwastu.com. Film berjudul "A Man Called Ahok/Orang Memanggilnya Ahok" adalah sebuah film khas Indonesia, yang sarat dengan pesan-pesan moral, nasionalisme, prososial dan nilai-nilai juang. Film ini bercerita tentang masa kecil hingga dewasa Ahok (Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M.), mantan Gubernur DKI Jakarta, mantan anggota DPR-RI dan bekas Bupati Belitung Timur, Bangka Belitung, yang kini jadi perbincangan publik di negeri ini.

        Film yang diangkat dari kisah nyata seorang anak bangsa dari etnis Tionghoa dan Kristen ini, terasa cukup menginspirasi dan memotivasi. Ahok adalah figur anak negeri yang visioner, pekerja keras dan cinta NKRI. Film Ahok yang diangkat dari buku karya Rudi Valinka dengan durasi 1 jam 42 menit ini, banyak menceritakan tentang perjuangan keluarga Ahok dalam membangun bisnis timah, usaha apotik dan membantu orang-orang miskin di daerah asalnya.

           Di sisi lain, digambarkan sikap tegas ayah Ahok, Kim Nam, yang antikorupsi terutama terhadap oknum aparat pemerintah. Dan sikap ayahnya itu sudah diamati Ahok sejak ia duduk dibangku SMP. Di pihak lain, Ahok memperhatikan sifat ayahnya yang suka membantu orang-orang miskin dan orang susah. Karena itulah ia bertekad terjun ke dunia politik, yang awalnya dari anggota DPRD Kabupaten Belitung Timur, hingga bupati di daerah yang masuk wilayah Provinsi Bangka Belitung itu. Melalui politik Ahok bertekad mensejahterakan rakyat miskin, karena kekuasaan yang diperoleh lewat politik amat efektif guna mensejahterakan rakyat. Ahok pertama kali tampil ke panggung politik lewat Partai Perhimpunan Indonesia Baru (Partai PIB).

 

  

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos (kiri) diabadikan dalam sebuah kesempatan bersama Ahok (kanan). 

 

            Banyak kisah yang menyentuh diputar dalam layar perak ini, seperti dialog Ahok dengan sang ayah, "Sebenarnya apakah kita orang Indonesia atau Cina, Pa?" Jawaban tegas ayahnya, "Jangan pernah berhenti mencintai negeri ini." Film ini diakui adik Ahok, Basuri Tjahaya Purnama cukup menyentuh hatinya, sampai ia meneteskan air mata mengingat kehidupan keluarga mereka yang sangat mencintai rakyat di negeri ini.

            Ahok yang di dalam film ini diperankan artis Daniel Mananta cukup berhasil memainkan tokoh Ahok. Terutama bahasa tubuh dan suaranya. Hanya saja, Ahok yang termasuk dalam "21 Tokoh Kristiani 2012 Pilihan Majalah NARWASTU" di film ini kurang disorot dalam aktivitas kerohaniannya di gereja, padahal ia sejak kecil adalah anak yang rajin bersekolah minggu, hingga imannya teguh sebagai pengikut Kristus sampai sekarang. Namun film ini patut diapresiasi sebagai karya anak bangsa, yang memperlihatkan ke dunia internasional bahwa etnis Tionghoa-Kristen pun punya kontribusi signifikan di negeri ini. KKH

Berita Terkait