Pdt. Halomoan Simanjuntak, S.Th
Dari HKI Menjadi Sekretaris Umum PGI Sumatera Selatan

494 dibaca
Pdt. Halomoan Simanjuntak, S.Th. Hamba Tuhan dari Gereja HKI.

 

                 BERITANARWASTU.COM. Pendeta yang satu ini dikenal memiliki integritas dalam mengemban tugas dan tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Ia pernah sukses menjabat sebagai MPH  Bendahara Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) Wilayah DKI Jakarta periode 2010-2015 lalu. Dan Pdt. Halomoan Simanjuntak, S.Th sempat dicalonkan sebagai Sekretaris Umum PGI Wilayah DKI Jakarta, namun pendeta yang kini melayani di Gereja HKI (Huria Kristen Indonesia) Palembang itu tak dikehendaki Tuhan mendudukinya. Dan ternyata rencana Tuhan beda dengan rencana Pdt. Halomoan, karena baru-baru ini ia justru dipercaya sebagai Sekretaris Umum PGI Wilayah Sumatera Selatan. 
               Saat dulu dicalonkan sebagai Sekretaris Umum PGI DKI Jakarta, ia mengusung visi ingin menciptakan gereja-gereja yang esa. Misinya mempersekutukan gereja-gereja di Jakarta dalam kasih dan saling peduli. Pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatera Utara, 53 tahun silam itu ingin pula membuat sebuah pembaharuan ke arah yang lebih baik di tubuh PGI DKI Jakarta yang menaungi sinode dan gereja-gereja.
             Bagi Pdt. Halomoan Simanjuntak, dunia pelayanan bukanlah hal yang asing. Sejak muda ayah tiga anak ini telah aktif dalam sebuah organisasi. Tak heran, jika kepiawaiannya berorganisasi mengantarkannya menduduki posisi cukup penting di kancah pelayanan
              Ketika menjabat sebagai Bendahara Umum PGI DKI Jakarta, jabatannya cukup rawan dan menggiurkan, namun jabatan itu bisa dilakoninya dengan sebuah kejujuran. Apalagi gelar pendeta melekat di depan namanya, tentu itu bentuk tanggungjawabnya sebagai abdi Tuhan. Ketika itu, tak jarang ada orang yang meragukan kemampuannya sebagai bendahara umum, karena titelnya hamba Tuhan. “Justru pendetalah yang bertanggung jawab atas semua pekerjaan itu. Kita mempertaruhkan jabatan, sekaligus sebagai pribadi, sebab kalau bekerja tidak maksimal tentu akan malu,” tegas Pdt. Halomoan.

 

 

               Tanpa banyak bicara, pendeta yang pernah melayani di Gereja HKI Pulomas, Jakarta Timur, periode 2001-2011 ini pun mampu membuktikan kinerjanya dengan baik, dengan melakukan pembaharuan soal pembayaran gaji yang tepat waktu. Sebab, menurutnya, sebelum ia menduduki posisi itu hampir setiap tahun jabatan bendahara umum mengalami pergantian pengurus sebelum masa jabatannya berakhir. Hal itu disebabkan kondisi keuangan yang tak stabil. Sehingga MPH bisa mendapatkan honor enam bulan sekali, bahkan bisa gajian tiga bulan sekali.  Tak heran, jika banyak orang enggan menduduki jabatan itu.
            Dan di eranya, selain dapat membayar gaji secara teratur setiap bulan, keinginannya yang lain sebagai bendahara umum adalah bisa meningkatkan standar gaji secara bertahap. Ia sadar keberhasilannya itu berkat dukungan dari tim dan berbagai pihak. Selain memiliki kinerja yang baik dan jujur, kemampuan manajerialnya pun tak diragukan. Suami dari Dra. Elita Rosmerima Purba ini pernah pula menjabat sebagai anggota Majelis Pusat Sinode HKI periode 2010-2015.

 

 

            Sebagai pendeta yang aktif menyoroti masalah sosial kemasyarakatan, Pdt. Halomoan pun pernah berbicara soal pendirian gereja di negeri ini yang kerap terganjal masalah perizinan.  “Kita harus memperjuangkan gereja-gereja yang belum mendapatkan IMB (Izin Mendirikan Bangunan) melalui FKUG (Forum Komunikasi Umat Beragama). Gereja-gereja yang masih dalam persoalan harus dibantu semaksimal mungkin, termasuk melakukan pendekatan kepada Pemerintah dengan jaringan yang ada. Misalnya, di lingkup jemaat ada pejabat eselon satu atau
dua, bahkan jenderal guna melakukan pendekatan personal. Hal itu berkaitan erat untuk berkomunikasi dengan Pemerintah,” kata pria yang ditahbiskan menjadi pendeta pada 18 September 1990 lalu itu.
                Menurut pendeta  yang pernah melayani di Gereja HKI Resort Jakarta III Menteng ini, persoalan yang dihadapi oleh gereja di Jakarta pada saat ini, salah satunya soal perizinan. Di samping akan mengupayakan gereja-gereja yang layak mendapatkan IMB, ia pun mengimbau gereja yang mungkin dianggap masih kurang layak untuk mendapatkan IMB agar bersabar. Misalnya, jumlah anggota jemaat hanya 20 jemaat dan bukan di atas 100 bahkan 300 jemaat. Pendeta yang tengah menyelesaikan program S2 PAK di UKI, Jakarta, ini dalam melayani jemaat juga  menerapkan program di gereja dengan prinsip ugahari atau kesederhanaan.
               Bagi Pdt. Halomoan, bisa berkiprah di ladang Tuhan merupakan sebuah anugerah. Maka jabatan yang diembannya bukan semata-mata sebuah titel tinggi. Justru semakin tinggi jabatan seseorang, maka harus bisa semakin rendah hati dan jujur.  “Lebih baik kita merendahkan hati dan jujur, karena itu yang diinginkan orang,” tukasnya.  Mantan Ketua Majelis Pertimbangan PGI Wilayah DKI, Ibu SAL Tobing Silitonga, S.E., M.A. yang mengenal baik figur Pdt. Halomoan, pernah mengatakan, Pdt. Halomoan seorang gembala yang peduli pada domba-dombanya. Dia sering mendoakan jemaat yang membutuhkan kekuatan iman. “Hotline Servis PGIW DKI” yang pernah dipimpin Ibu Tobing dulu pun cukup diperhatikan Pdt. Halomoan, apalagi Hotline Servis peduli terhadap warga gereja yang menghadapi masalah. 

 

Berita Terkait