Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th
Di Sidang Sinode Am IV Kembali Terpilih Jadi Ketua Sinode GKSI

1083 dibaca
Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th. Terus melayani di tengah gereja dan masyarakat.

BERITANARWASTU.COM. Sidang Sinode Am IV Gereja Kristen Setia Indonesia (GKSI) yang berlangsung di Kampus STT Arastamar Ngabang, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat (Kalbar), pada 17-21 November 2016 lalu, kembali memilih Pdt. Dr. Matheus Mangentang, M.Th sebagai Ketua Umum Sinode GKSI secara aklamasi untuk masa bakti 2016-2021.

Proses pemilihan berjalan lancar. Sebelumnya panitia nominasi telah membuka pendaftaran bagi kader-kader Sinode GKSI untuk mencalonkan diri sebagai ketua umum. Namun tampaknya mayoritas atau 800 orang peserta sidang yang merupakan perwakilan dari pendeta dan majelis GKSI dari 27 provinsi masih memberikan kepercayaan penuh kepada Pdt. Matheus Mangentang yang juga Ketua STT Setia ini untuk memimpin Sinode GKSI.

Pdt. Matheus Mangentang menerangkan kepada Majalah NARWASTU, sebelum persidangan sebenarnya sudah diungkapkannya bahwa ia tidak ingin lagi dipilih. Namun, karena kuatnya keinginan dari peserta akhirnya ia menerimanya. “Saat pra sidang saya sudah menyatakan mundur. Demikian pula saat pembukaan saya tegaskan tidak ingin dipilih kembali. Tetapi ternyata di hari keempat persidangan mereka secara aklamasi memilih dan menetapkan saya sebagai ketua sinode kembali. Jadi saya merasa ini adalah mandat Allah yang tidak bisa dielakkan,” kata pria yang baru-baru ini dinyatakan Pengadilan Negeri Kota Tangerang bebas murni dan nama baiknya harus dipulihkan.

Soalnya, ada sekelompok oknum yang sempat menudingnya melakukan penggelapan dan penipuan di yayasan tempatnya bernaung, namun setelah disidangkan ternyata fakta-fakta dan bukti-bukti hukum tak ada menyatakan ia melakukan pelanggaran hukum (Baca: NARWASTU Edisi September 2016). Lantaran itulah dalam amar putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Kota Tangerang Pdt. Matheus Mangentang dinyatakan bebas murni dan nama baiknya mesti dipulihkan.

Kuasa hukumnya yang juga advokat/pengacara senior, Said Damanik, S.H., M.H. juga menyatakan, ada niat-niat jahat dari oknum-oknum yang menyerang Pdt. Matheus Mangentang selama ini. “Dan seharusnya itu bisa dituntut balik. Namun Pak Matheus Mangentang seorang pendeta yang pemaaf,” ujar Said Damanik yang juga Sekretaris Dewan Kehormatan DPN PERADI dan pejuang HAM.

Said Damanik yang juga mantan Plt. Sekjen DPN PERADI menerangkan, ia mencermati kiprah Pdt. Matheus Mangentang selama ini cukup mulia sebagai pemimpin gereja. “Sebagai pelayan dan pemimpin gereja ia punya cita-cita untuk meningkatkan sumber daya manusia (SDM) orang-orang Kristen di desa-desa atau pedalaman agar punya pendidikan yang memadai. Dan saya perhatikan pelayanannya luar biasa dalam mempersiapkan Hamba-Hamba Tuhan untuk melayani orang-orang di pedalaman,” ujar Wakil Ketua Gereja, Masyarakat dan Agama-agama (Germasa) di GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Jemaat Gloria, Kota Bekasi itu.

“Jadi ketika ada yang menyerang dia, dan menudingnya melakukan penipuan dan penggelapan, saya lihat cukup aneh, dan ada niat jahat di situ. Buktinya di Pengadilan Negeri Tangerang ia diputuskan majelis hakim bebas murni dan nama baiknya harus dipulihkan,” pungkas Said Damanik yang masuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2013 Pilihan Majalah NARWASTU” dan Penasihat PERWAMKI (Perkumpulan Wartawan Media Kristiani Indonesia).

            Nah, sekaitan dengan acara Sinode GKSI, Pdt. Matheus Mangentang pun sempat mempertanyakan, apakah pemilihan secara aklamasi tersebut benar-benar murni keinginan peserta. “Akhirnya saya betul-betul melihat bahwa keinginan itu sangat tulus meminta kepada saya memimpin kembali. Sebab itu, saya tidak akan mengecewakan mereka atau kerinduan peserta persidangan. Dan berharap dapat menyatukan GKSI ke depan, dan saya yakin tantangannya sangat berat,” tukasnya.

Dalam waktu dekat, lanjut Pdt. Mangentang yang akan dilakukannya, yaitu mengadakan rakernas (rapat kerja nasional) pada Maret 2017, menyusun kepengurusan BPH (badan pekerja harian) GKSI masa bakti 2016-2021. Selain memilih pimpinan baru, sidang juga membahas dan mengevaluasi bersama-sama perjalanan GKSI di periode sebelumnya, serta menetapkan agenda ke depan bagi sinode gereja yang telah berdiri sejak 28 tahun lalu ini.

Sidang Sinode Am IV GKSI dibuka oleh Rubertus Santo, Asisten III Setda Provinsi Kalbar mewakili Gubernur Kalbar. Dan hadir pula Pjs. Bupati Landak  Jakius Sinyor yang juga sebagai pemateri sidang.
Sementara saat pembukaan sidang hadir hadir Pembimas Kristen Kanwil Kemenag Kalbar, Yohanes  Kalvin Pieter, Ketua PGI Wilayah Kalbar, Pdt. Daniel Alpius, Mitra GKSI Misi Korea Pauluna Song, Bimas Kristen Kemenag Landak, Hariyanto Uar, anggota DPRD Kalbar Markus Amid, anggota DPRD Landak Cahyatanus, dan undangan lainnya.

Kepada Majalah NARWASTU Pdt. Matheus Mangentang menerangkan, dalam acara Sidang Sinode Am IV GKSI itu, ada hadir sekitar 800 utusan dari seluruh Indonesia, termasuk utusan dari luar negeri. Kalaupun ada yang berhalangan hadir, itu hanya 20% wakil dari GKSI. “Dan kalau kita divalidasi, maka sidang ini yang sungguh-sungguh sah, dan bukan sidang rekayasa, yang mengajak warga gereja lain masuk, seperti sidang yang pernah ada kita dengar. Selama ini pun hubungan kami dengan Bimas Kristen Kementerian Agama RI cukup baik. Juga hubungan dengan PGI Wilayah Kalbar, dan Pemerintah Daerah (Pemda) Kalbar pun mengapresiasi acara ini, dengan hadirnya bupati dan perwakilan Gubernur Kalbar,” pungkas Pdt. Matheus Mangentang. Tak hanya itu, Pdt. Matheus Mangentang bersyukur, karena Sinode GKSI terus mendapat dukungan dari banyak mitra, baik dari dalam maupun luar negeri.

 

Harapan Pdt. Matheus Mangentang ke depan, katanya, adalah menjalankan misi gereja agar visinya terwujud di tahun 2030 untuk membangun kesejahteraan dan iman umat agar semakin meningkat. “Bersama Pemerintah kami ingin melayani masyarakat, terutama yang ada di pedalaman agar pendidikan dan kesejahteraan mereka semakin meningkat. Perlu perhatian untuk melayani saudara-saudara kita yang ada di desa-desa atau pedalaman,” pungkas Pdt. Matheus Mangentang, yang termasuk pula dalam “Tokoh Kristiani 2011 Pilihan NARWASTU.”

Berbicara tantangan atau kesulitan yang dihadapi warga gereja dan bangsa ini di Tahun Baru 2017, Pdt. Matheus Mangentang menerangkan, setiap pergantian tahun, selalu ada tantangan atau pergumulan yang harus kita hadapi. Dan kita harus terus berdoa dan meningkatkan iman kita agar Tuhan terus menyertai dan menolong kehidupan kita, baik di dalam berkeluarga, bergereja, berbangsa dan bernegara. “Kita harus punya iman yang teguh dalam menghadapi Tahun Baru 2017,” tukasnya.

Selain itu, imbuhnya, kita mesti terus bekerja secara nyata untuk mengupayakan kesejahteraan keluarga, umat, dan bangsa kita. “Kita sebagai warga gereja, di Tahun Baru 2017 ini mesti meningkatkan persekutuan sesama umat. Kita harus tetap menjadi berkat di tengah sesama, sekalipun tekanan atau kesulitan yang kita hadapi semakin berat. Yang tak kalah pentingnya, kedepankan toleransi, kasih, nilai-nilai kebangsaan dan kita harus merangkul sesama dan mampu menjaga kebersamaan,” tegas anggota MPL (Majelis Pekerja Lengkap) PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) ini.

Kesepakatan para pendiri bangsa ini, ujarnya, yakni menegakkan Pancasila dan UUD 1945 harus diperhatikan semua pihak. “Sehingga kemajemukan di Indonesia, baik agama maupun suku mesti dihargai. Sebab itu, warga gereja mesti makin tekun berdoa untuk kesejahteraan, kedamaian dan keamanan bangsa ini. Jemaat Kristen harus terus berupaya menjadi garam dan terang di manapun ia berada. Jangan sesekali lelah berdoa, teruslah berdoa untuk negeri ini,” terangnya.

Para pemimpin gereja atau gembala diminta Pdt. Matheus Mangentang juga agar terus menggembalakan dan membina umatnya agar semakin tekun beribadah atau bersekutu kepada Tuhan. Di sisi lain, harus terus menyatakan kasih kepada sesama, seperti ajaran Yesus Kristus. Menurut Pdt. Matheus Mangentang, saat ini ada 70.000 anggota jemaat Sinode GKSI yang tersebar di Indonesia, dan lebih banyak berada di daerah-daerah atau pedesaan. “Kami mengajak mereka untuk terus menyatakan kasih dan berdoa untuk gereja, masyarakat dan bangsa ini,” pungkas Pdt. Matheus Mangentang.  KT

Berita Terkait