Marsma TNI (Purn.) Ibnu Kadarmanto, M.Si
Di Usia Senja Semakin Giat Melayani

1097 dibaca
Marsma TNI (Purn.) Ibnu Kadarmanto, M.Si

Beritanarwastu.com. Marsma TNI (Purn.) Ibnu Kadarmanto, M.Si, salah seorang pengurus Forum Diskusi Daniel Indonesia (FDDI). Dalam sebuah pertemuan FDDI ia mengatakan, bahwa kalau kita semakin dekat kepada Tuhan Yesus, pasti iman kita akan semakin bertumbuh. Namun, kata mantan Direktur Kerjasama Bidang Luar Negeri BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara/Kini: BIN) ini, tantangan yang kita rasakan pun bila semakin dekat kepada Tuhan akan semakin banyak. “Iman kita memang makin diuji agar naik kelas bila kita semakin dekat kepada Tuhan,” ujar anggota jemaat Gereja Kristen Indonesia (GKI) dan jenderal purnawirawan bintang satu itu.

Menurut pria kelahiran Solo, 16 April 1944 yang juga bekas Staf Khusus Bidang Ketahanan KABAKIN ini, kita harus kuat menghadapi tantangan hidup ini. Supaya kita kuat, katanya, kita harus banyak berdoa, beribadah dan membaca Alkitab. Lelaki berdarah Jawa yang juga sering mengikuti ibadah di Gereja Duta Injil ini, sekarang aktif pula menyampaikan Firman Tuhan di berbagai kegiatan ibadah, misalnya, di Full Gospel Busines Men’s Fellowship International. Ibnu pun giat membaca buku-buku kerohanian.

Dalam sebuah ibadah yang diadakan FDDI, Ibnu Kadarmanto pernah menyampaikan renungan di tengah kaum muda dan tokoh senior Kristiani dengan mengutip Yesaya 40:4-5. Menurut Ibnu, sekarang ini tanda-tanda zaman sudah semakin nampak dengan maraknya berbagai bencana alam, dan peristiwa yang menyedihkan di berbagai tempat di Indonesia. Kita sebagai anak-anak Tuhan, imbuhnya, harus “meratakan jalan” bagi Tuhan dengan menyatakan berita keselamatan, bahwa hanya Tuhan Yesus yang bisa menyelamatkan umat manusia supaya bisa masuk ke surga. Dalam berkomunikasi dengan sesama pun, tukas Ibnu, kita harus memahami buah-buah Roh, dan kasih harus dinyatakan kepada umat manusia.

Ibnu Kadarmanto yang juga pengamat Pengkaji Ketahanan Nasional/PKN, merupakan lulusan S2 PKN dari UI, Jakarta. Ibnu juga salah satu sosok perwira tinggi TNI yang sudah purnawirawan yang peduli terhadap gereja, masyarakat dan bangsa ini. Di sebuah tulisannya berjudul Anak-anak Tuhan Harus Jadi “Garam” dan “Terang” Bagi Bangsa, yang pernah dimuat di Majalah NARWASTU, Ibnu  yang juga aktif di MUKI (Majelis Umat Kristen Indonesia) DKI Jakarta menulis, ada dua ayat di Alkitab, yaitu 1 Petrus 2:9 dan Matius 5:13-16 yang bisa menjadi pendorong patriotisme (motivasi kejuangan) bagi anak-anak Tuhan (warga gereja) dengan mengoptimalkan potensinya dan talentanya agar menjadi pemimpin, penyelamat dan penuntun bangsanya, termasuk di Indonesia.

Kebetulan, anak-anak Tuhan di Indonesia masuk dalam kelompok “minoritas”. Tapi perlu diingat, bahwa sering terjadi apa yang dilakukan Tuhan di dunia ini, justru kelompok yang kecil dan terlupakan yang sering dipakai Tuhan untuk mengingatkan dunia yang megah dan kuat, agar manusia yang bermegah dipermalukan dan hanya Tuhan saja yang pantas diagungkan dan dipermuliakan. Artinya, justru karena minoritas, Tuhan ingin “mengasinkan” anak-anakNya (menganugerahkan kualitas), kalau anak-anakNya sangat menyadari bahwa mereka harus bertekad untuk menjadi partner Tuhan untuk mewujudkan kehendakNya, agar dunia terjadi sesuai dengan kehendakNya.

Sebab itu, kalau kita masuk dalam kelompok minoritas, itu bukan kelemahan, tapi bahkan akan menjadi kekuatan yang berguna bagi Kerajaan Tuhan. Sesuatu yang istimewa dan unik kebanyakan jumlahnya minor.  Jadi jangan rendah diri karena masuk dalam golongan minoritas. Kualitas yang kecil itu akan mengubah sesuatu yang besar. Sebab itu mari kita kejar hidup yang berkualitas secara rohani, menjadi teladan dan penggerak moral dan mental Alkitabiah yang dikehendaki Tuhan.

Anak-anak Tuhan di manapun berada telah dinubuatkan Tuhan sebagai teman sekerja Tuhan di Indonesia, agar mereka menjadi garam dan terang, agar memimpin bangsanya dengan kepemimpinan yang melayani, seperti kepemimpinan Tuhan Yesus, sehingga bangsanya akan hidup sesuai dengan kehendakNya, dan kita yakin suatu bangsa yang takut akan Tuhan dan melakukan kehendakNya, pasti berkat akan melimpah ruah, dan akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lainnya.

Kalau garam tidak asin akan dibuang, karena tidak bermanfaat keberadaannya di dunia ini, dan Tuhan akan membuang orang-orang yang tidak bermanfaat bagi KerajaanNya. Dengan demikian, nation and character building (pembangunan karakter bangsa) seharusnya dimotori oleh anak-anak Tuhan, oleh orang-orang yang sudah kenal, dan akan lebih berusaha mengenal betul bagaimana karakter dan kehendak Tuhan. Karena Tuhan mengatakan,  melalui umatNya-lah, berkat itu akan diturunkan kepada bangsa itu.

Anak-anak Tuhan harus jadi “garam” kehidupan bangsanya. Artinya, walaupun minoritas harus bisa merubah suasana kehidupan yang busuk menjadi segar, dan tidak berbau. Garam kalau terlalu banyak tak akan menyedapkan, justru dengan secukupnya, garam akan menyedapkan masakan. Garam juga berpotensi untuk mencegah pembusukan. Bagaimana perkembangan penguasa kegelapan dan kebusukan masa sekarang ini di Tanah Air kita semakin membuat banyak orang khawatir  menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

Perkembangan kehidupan bangsa kita, terasa semakin lama semakin memprihatinkan. Konflik-konflik antarkelompok dan perorangan semakin meningkat, serta bermacam bentuk kejahatan dan kebobrokan moral dan mental terjadi. Bangsa Indonesia memiliki ideologi Pancasila yang sangat bagus sebagai panduan berbangsa dan bernegara. Katanya, bangsa Indonesia memiliki wawasan kebangsaan yang berketahanan nasional, bangsa Indonesia memiliki wawasan nusantara untuk memedomani bagaimana mengelola sumber kekayaan alam yang adil dan bijaksana, bangsa Indonesia memiliki budaya nasional yang menjunjung tinggi kegotongroyongan dalam suasana kekeluargaan, namun semua itu tak akan terwujud kalau tidak dipimpin oleh pemimpin yang takut kepada Tuhan dengan membimbing dan melayani rakyatnya. 

Berita Terkait