Diskusi FORKOM NARWASTU Menyoal Bahaya Narkoba yang Merongrong Ketahanan Nasional

964 dibaca
Para tokoh diabadikan bersama di acara diskusi “Menyikapi Bahaya Narkoba yang Merongrong Ketahanan Nasional” yang diadakan pengurus FORKOM NARWASTU pada Jumat 20 Mei 2016 di Restoran Handayani Prima, Matraman, Jakarta Timur.

Diskusi “Menyikapi Bahaya Narkoba yang Merongrong Ketahanan Nasional” diadakan pada Jumat 20 Mei 2016 sejak pukul 10 sampai 16 WIB oleh pengurus Forum Komunikasi (FORKOM) Tokoh-Tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU di Restoran Handayani Prima, Matraman, Jakarta Timur. Dalam diskusi ini, pembicara Irjen Pol. Arman Depari (Deputi Bidang Pemberantasan BADAN NARKOTIKA NASIONAL/BNN), Laksdya TNI (Purn.) Fred Lonan (Mantan Wakil Gubernur LEMHANNAS dan mantan Wakil Kepala Staf TNI AL), Pdt. Dr. Ruyandi Hutasoit (Dokter dan Tokoh Anti Narkoba Nasional), dr. Parulian Sandy Noveria (RSKO Cibubur), Pdt. Jefri Tambayong, S.Th (Ketua Umum LSM GMDM) dan Jhon S.E. Panggabean, S.H., M.H. (Advokat senior, Penasihat NARWASTU, Ketua Umum MAPPHI/Masyarakat Peduli Penegakan Hukum Indonesia dan mantan Wakil Sekjen DPN PERADI). 
Acara ini dihadiri 50-an tokoh Kristiani, wartawan, tokoh masyarakat dan cendekiawan. Dan acara diawali  ibadah dengan pengkhotbah Pdt. DR. Nus Reimas (Pembina/Penasihat NARWASTU), peneguhan pengurus FORKOM NARWASTU oleh Pdt. Nus Reimas dan Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos dan makan siang bersama. Acara ini dipimpin panitia Ir. Albert Siagian, M.M. dan moderator diskusi DR. Tema Adiputra serta tim DR. Yosef Ariwibowo. 
Pengurus Pokja (kelompok kerja) FORKOM NARWASTU terpilih, yaitu Prof. Dr. Marten Napang, S.H., M.H., M.Si (Ketua), Sterra Pietersz, S.H., M.H. (Sekretaris) dan Jhon Panggabean (Bendahara) serta anggota Albert Siagian, Natalis Situmorang, Yosef Ariwibowo, Tema Adiputra, Pdt. Wilfred Soplantila dan Dr. Daniel Yusmick, S.H. Dalam renungan yang disampaikan  Pdt. Nus Reimas yang dikutip dari Kitab Yesaya 6:1-8 tentang dapat panggilan dari Allah dan siap diutus, Ketua Dewan Pembina LPMI ini mengajak para tokoh yang hadir agar peduli terhadap sesamanya dan bangsa ini.
“Kita harus saling peduli. Bukan saling membenci, tapi harus saling menjaga. Dalam hidup ini kita harus ada visi atau tujuan. Dulu Martin Luther King punya mimpi untuk memperjuangkan orang berkulit hitam, agar ada kebersamaan, bukan penindasan, dan sekarang terbukti Barrack Obama bisa menjadi Presiden Amerika Serikat (AS). Dulu Jokowi dan Ahok pun terpilih jadi pemimpin nasional, karena ada yang berjuang buat mereka. Dalam melihat hidup ini, lihatlah pertama Tuhan. Jangan lihat pertama uang atau kekuasaan. Sekarang kita lihat banyak acara-acara agama semarak, tapi hati mereka tak melihat Tuhan,” paparnya.
Sekarang, kata Pdt. Nus Reimas, banyak pula orang yang menghina agama, dan ada kelompok tertentu saat merasa agamanya disinggung segera memunculkan reaksi. Sekarang pun ada bahaya narkoba, korupsi, teroris dan pelecehan seksual.  “Melihat masalah ini, kita harus melihat Tuhan. Makanya dalam hidup ini setiap pagi saya akan selalu awali dengan doa, agar dalam tugas pelayanan kita Dia memakai kita. Kalau kita selalu melihat Allah, maka kita akan melihat masalah itu kecil. Namun kita akan bisa melihat Allah kalau kita hidup kudus, dan kekudusan amat penting. Kita harus berupaya hidup kudus, karena Allah yang kita sembah itu kudus,” paparnya.
Pdt. Nus Reimas menerangkan, orang-orang kaya atau konglomerat tak akan bisa melihat Allah kalau hidup mereka tidak kudus sekalipun uangnya banyak. “Yesaya bisa melihat Allah, karena dia mau introspeksi dan rendah hati. Sehingga kita harus berupaya hidup kudus. Jangan kita seperti Kristen ‘Tomat’ atau tobat sebentar, tapi kumat lagi. Di tengah keadaan negeri, seperti sekarang kita harus hidup kudus. Percayalah bahwa apa yang berkenan di mata Tuhan, pasti akan dipakai dan diberkatiNya. Kalau kita punya visi dan selalu memohon kepada Tuhan agar kita dipakaiNya, pasti yang tak mungkin menjadi mungkin,” terangnya.
Menurut Pdt. Nus Reimas, Ester adalah wanita yang dipakai Tuhan untuk menyelamatkan bangsa Israel, dan dia dipakai Tuhan. Maria pun dipakai Tuhan untuk melahirkan Yesus Kristus. “Paulus juga dipakai Tuhan untuk memberitakan kabar baik sebagai rasul. Pak Arman Depari yang hadir di sini kita doakan juga agar dipakai Tuhan untuk memberantas narkoba di Indonesia. Kita perlu visi untuk pembaharuan di tengah bangsa ini. FORKOM NARWASTU ini dimulai dari bincang-bincang, dan sekarang bisa berbuat sesuatu untuk gereja dan masyarakat. Di tengah negeri yang terasa hancur ini tokoh-tokoh Kristiani harus bisa berbuat sesuatu,” paparnya.
 Kemudian saat Arman Depari berbicara, ia lebih dulu memperkenalkan dirinya sebagai anak kampung dari kota kecil Berastagi di Sumatera Utara. Menurut mantan Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Mabes Polri ini, sejak era pemerintahan Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) sudah dikatakan bahwa Indonesia darurat narkoba. Menurutnya,  Presiden RI juga mengatakan, situasi darurat narkoba saat ini terjadi di Indonesia yang punya penduduk 240 juta orang. Dan 2,8% masyarakat terkena narkoba atau menggunakan. Berarti ada 4 sampai 5 juta orang dari penduduk kita yang memakai narkoba.
Menurut mantan Kapolda Kepulauan Riau dan bekas Direktur Narkoba Polda Metro Jaya ini, dunia internasional mengatakan, kalau 2,5% itu sudah darurat. “Sehingga inilah tugas kita semua, termasuk warga gereja untuk ikut memberantas narkoba,” cetus Arman Depari yang pernah mengikuti kursus “Drugs Commander Team” dan “International Drugs Low Infrome” di luar negeri itu. Hasil survei Lembaga Kesehatan UI dan BNN menyimpulkan, 40-47 orang meninggal per hari, karena bahaya narkoba. Ada kekerasan seksual yang terjadi di masyarakat, itu juga bisa karena memakai narkoba. Dan yang paling banyak dipakai di Indonesia adalah ganja, cannatis, shabu dan ekstasi. “Kalau tak ada pencegahan, maka ini akan terus berkembang,” papar mantan Kapolres Langkat, Sumut, dan mantan Kepala Densus 88 Polda Sumut  ini.
Menurut Arman Depari, dampak dari bahaya narkoba ini, bisa kekerasan di jalanan, pelecehana seksual, kekerasan dalam rumah tangga, banyak terjadi persoalan dalam hubungan suami dan istri serta anak-anak, narkoba juga menyerang susunan syaraf otak, dan narkoba mengarah pada penyakit HIV/AIDS. Katanya lagi, estimasi kerugian negara secara ekonomi akibat bahaya narkoba ini pada 2014, yakni Rp 63,1 triliun.  Atas masalah narkoba itu pula Arman Depari mengajak para pemimpin untuk menjaga fisiknya agar sehat dan mentalnya tidak rusak. “Bagaimana mungkin dia bersaing dengan orang sehat, kalau dia pakai narkoba,” tegas lulusan Akademi Kepolisian (Akpol) pada 1985 ini.
Katanya lagi, orang sekarang gampang untuk mendapatkan narkoba. Dan ada pengaruh orang-orang dari luar negeri yang membuat peredaran narkoba semakin marak. Dan di LP-LP (lembaga pemasyarakatan) banyak juga sekarang orang Kristen yang masuk karena terlibat narkoba. “Kita pun meminta agar para tokoh Kristen dan pendeta tahu soal itu,” kata pria yang sudah banyak mengikuti kursus dalam menangani bahaya narkoba di luar negeri ini. Ada lokasi-lokasi di DKI Jakarta ini, seperti Kampung Ambon, Matraman, Teluk Gong dan Kampung Bali yang rentan dalam peredaran narkoba. Bahkan, pengedar narkoba ada yang nama-namanya dari Alkitab.
Arman Depari pun menegaskan, bagaimana mereka punya kasih atau peduli terhadap sesama kalau mereka tak punya hati nurani, dan justru menyebarkan narkoba di tengah sesama. Dan kita harapkan agar ormas-ormas Kristen, seperti PGI dan KWI serta yang lainnya bisa ikut memberantas narkoba. Ibu Khofifah Indar Parawansa (Menteri Sosial RI), karena peduli pada masalah narkoba, ia sampai membentuk Laskar Muslim Antinarkoba. “Jadi kita harus peduli pada persoalan narkoba. Saya sudah 10 tahun di BNN, dan kita harus lawan pengedar narkoba atau bandarnya. Dan narkoba datangnya seperti pencuri malam. Kita tidak tahu apakah pas anak kita tidur di kamar, ada di sana narkoba,” tukas Arman Depari yang pernah ditugaskan negara untuk ikut dalam Pasukan Perdamaian PBB ke Kamboja dan Yugoslavia.  
Fred Lonan juga menyampaikan bahwa Menkopolhukam RI sudah mengatakan, bahaya narkoba lebih berat dari bahaya terorisme . Jadi dalam konteks ketahanan nasional, bahaya narkoba sangat berbahaya bagi negeri ini. Dan ini menjadi persoalan serius di negeri ini. Sehingga selain pemerintah dan aparat hukum, tokoh-tokoh agama dan tokoh-tokoh masyarakat atau gereja harus ikut mengupayakan pemberantasan narkoba. BNN, katanya, harus diperkuat di dalam pemberantasan bahaya narkoba.
Demikian juga Parulian Sandy Noveria dan Ruyandi Hutasoit mengatakan, keluarga-keluar, terutama orangtua harus mencermati anak-anaknya agar terhindar dari bahaya narkoba. “Dalam konteks medis, narkoba itu bermanfaat untuk menghilangkan rasa sakit, namun dari sisi hukum narkoba zat yang dilarang. Pecandu narkoba  pada dasarnya menghancurkan rumah tangganya, dan membuat kekacaaun di tengah masyarakat. Sehingga harus ada tekad untuk memberantas narkoba,” ujar Pdt. Ruyandi Hutasoit yang juga Ketua Dewan Pembina PDS.
Pemakai atau pecandu narkoba, kata Ruyandi, cenderung pembohong, suka berdalih dan pencuri. Dan orangtua sangat disusahkan oleh anak pecandu narkoba. “Banyak pecandu narkoba setelah menjalani rehabilitasi justru kembali kambuh. Dan menurut BNN, banyak pecandu saat direhabilitasi kambuh lagi. Dan hanya Yesus satu-satunya yang mampu menyembuhkan pecandu narkoba. Dan orang tua atau keluarga punya peran penting dalam menjaga anak-anaknya agar jangan terjerumus pada bahaya narkoba. Roma 13 ayat 2 mengatakan, pemerintah harus pakai pedang (hukum) untuk memberantas kejahatan. Narkoba adalah kejahatan,” paparnya.
Orangtua, kata Ruyandi, harus lahir baru, atau mau mengajak anak-anaknya beribadah atau berdoa bersama agar terhindar dari kejahatan. Di Eropa banyak generasi muda tak mau lagi beribadah di gereja atau persekutuan doa, karena kurangnya perhatian dari orangtua. Sedangkan Pdt. Jefri Tambayong menyebutkan, Indonesia kini adalah negara urutan ketiga yang paling berbahaya karena masalah narkoba setelah Kolombia dan Meksiko. “Kita lihat polisi sendiri pun sampai tewas dibunuh oleh bandar narkoba, karena mereka sudah luar biasa mengerikan. Sehingga perlu upaya bersama guna memberantas narkoba,” ujar Hamba Tuhan dari GBI ini.
Pdt. Jefri menambahkan, saat berbicara di BNN ia telah menegaskan agar semua pihak bersama-sama maju di dalam pemberantasan narkoba. “Kita ini darurat narkoba. Bahkan, bisa sampai 40 sampai 70 orang meninggal setiap hari karena masalah narkoba. Penjara-penjara kini banyak dihuni orang yang bermasalah karena narkoba. GMDM kini banyak menangani anak-anak muda yang terjerumus bahaya narkoba. Bahkan, yang mengerikan ada pendeta dan pelayan gereja yang jadi pecandu narkoba. Sehingga ini patut jadi perhatian kita bersama,” paparnya.
Jhon Panggabean menegaskan, untuk memerangi bahaya narkoba dari tengah lingkungan kita, maka sangat penting diperhatikan peran dari orang tua untuk mendidik dan mendoakan anak-anaknya. “Selain perlu peran dari aparat hukum untuk tegas terhadap pengedar narkoba, kekuatan doa itu sangat penting di dalam memberantas narkoba,” papar mantan Ketua DPC PERADI Jakarta Timur dan kini Ketua Umum Keluarga Besar Panggabean se-Jabodetabek ini.
Dalam kesempatan itu, sejumlah tokoh masyarakat, seperti Drs. KRT N.J. Sembiring menuturkan, untuk memberantas narkoba perlu diperhatikan pembinaan mental, spiritual generasi muda di sekolah, gereja dan keluarga. “Kita harus ikut memikirkan pemberantasan narkoba,” ujarnya. Brigjen TNI (Purn.) Drs. Harsanto Adi S., M.M., M.Th juga menuturkan, bahaya lain di negeri ini selain intoleransi, korupsi, teroris dan persoalan syariah, adalah bahaya  narkoba. “KPK itu didukung dengan dana besar untuk memberantas bahaya korupsi, sehingga aparat hukum kita, seperti BNN perlu didukung dengan dana besar pula,” ujar mantan Asisten Deputi VII Menkoplhukam RI ini.
Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S. pun mengatakan, perlu  gerakan sosial budaya di dalam pemberantasan narkoba. “Kita harus dukung pemberlakuan hukuman mati terhadap pelaku atau bandar narkoba, karena kejahatannya luar biasa. Bisa sekarang tiap hari meninggal 50 orang, karena narkoba,” papar mantan Hakim Agung RI dan Ketua Umum DPP Kerukunan Masyarakat Batak (KERABAT) ini. Sedangkan Sekretaris Dewan Kehormatan DPN PERADI, Said Damanik, S.H., M.H. berpendapat, FORKOM NARWASTU ini sebuah forum yang amat bagus untuk membicarakan persoalan bangsa, masyarakat  dan gereja.
“Melalui FORKOM NARWASTU kita harus menyuarakan suara kenabian, suara kasih atau kepedulian kepada sesama. Ini masalah narkoba perlu disuarakan dan harus disampaikan kepada eksekutif, legislatif  dan yudikatif. Saya sudah 30 tahun menjadi pengacara, dan sudah menangani banyak perkara hukum, dan saya lihat perkara narkoba sangat mengerikan, dan lebih bahaya dari persoalan teroris. Ada banyak korban narkoba atau pengedar narkoba masuk penjara, justru bukan makin baik, tapi makin buruk kondisinya. Dan tak ada efek jera,” ujar Ketua Umum Keluarga Besar Damanik se-Jabodetabek ini.
Menurut advokat senior ini, sering antaraparat hukum yang satu dengan lembaga hukum lainnya berbeda dalam memberlakukan pengedar narkoba. “Ada yang keluar penjara justru makin bermasalah. Sehingga BNN dengan kepolisian harus sepakat dalam menyikapi bahaya narkoba ini, dan jangan ada perbedaan dalam pemberlakuan hukum. Pak Pdt. Ruyandi Hutasoit mengatakan, perlu pendampingan orangtua terhadap anak-anaknya di dalam kehidupan sehari-hari agar jangan terjerumus narkoba. Itu benar sekali. Sekarang anak-anak muda atau anak sekolah sudah pegang gadget atau handphone. Apapun bisa dilihat lewat gadget, dan ini sangat berbahaya dan mengerikan,” ujarnya.
Menurut Said Damanik lagi, sekarang 90% anak-anak muda atau anak sekolah sudah menggunkan gadget. “Anak-anak sekarang sangat beda dengan anak-anak yang dulu. Kalau anak-anak muda sekarang ditegur, sudah berani membantah atau menjawab teguran orangtua. Kalau dulu mana berani kita menjawab orangtua yang menegur. Sehingga sekarang zamannya sudah beda di dalam mendidik anak-anak muda atau pelajar. Orangtua harus bijaksana. Dan kita memang harus mengandalkan Tuhan lewat doa agar keluarga kita atau anak-anak kita terhindar dari bahaya narkoba,” ujar mantan caleg DPR-RI dan mantan aktivis KNPI dan FKPPI ini.
Ada 11 catatan menarik dari diskusi ini yang perlu diperhatikan dan perlu dibagikan kepada komunitas atau sesama kita tentang bahaya narkoba, pertama, bahaya narkoba lebih dahsyat dari bahaya terorisme, sehingga itu mampu menghancurkan sebuah bangsa. Kedua, dari catatan BNN dan Lembaga Survei Kesehatan UI, kini tiap hari meninggal 40-47 orang lantaran bahaya narkoba. Ketiga, orangtua, keluarga, gereja, sekolah, kampus dan ormas-ormas harus terus memberi perhatian dalam pengawasan bahaya narkoba.
Keempat, Indonesia kini tercatat negara ketiga setelah Meksiko dan Kolombia yang mengalami darurat narkoba. Kelima, kerugian negara secara ekonomi akibat bahaya dan darurat narkoba ini diperkirakan BNN sekitar Rp 63 triliun per tahun. Keenam, anak-anak dan generasi muda harus tetap diawasi saat merokok, menenggak alkohol dan dalam pergaulan sehari-hari, karena narkoba datangnya ibarat pencuri di tengah malam. Ketujuh,  penegak hukum dan undang-undang soal bahaya narkoba harus terus dicermati agar jangan memberi celah atas masuknya bahaya narkoba.
Kedelapan, lapas-lapas di Indonesia saat ini begitu mengerikan karena di dalamnya banyak pengedar dan pemakai narkoba yang belum ditangani dengan baik. Kesembilan, banyak orang yang jadi pengedar narkoba namanya justru dari nama-nama Alkitab. Kesepuluh, Presiden RI dan semua pemimpin di negeri dan elemen bangsa ini harus terus didorong agar waspada akan bahaya narkoba dan harus ada strategi serta ketegasan dalam memberantas narkoba
Kesebelas, keluarga-keluarga Kristen harus terus membina persekutuan doa dengan anak-naknya selain membina secara mental agar terhindar dari jerat narkoba. Pdt. Ruyandi Hutasoit mengatakan, “Doa orang benar sangat besar kuasanya...Doa kepada Tuhan dan disiplin terhadap anak-anak akan menghindarkan generasi muda negeri ini dari bahaya narkoba...”  Pdt. Nus Reimas juga mengatakan, “Awali hari-hari kita dengan berlutut dan berdoa pada Tuhan. Mari andalkan DIA dalam menghadapi ancaman bahaya narkoba. Mata Tuhan tertuju pada orang-orang yang taat, setia dan yang selalu berseru kepadaNYA...” NT 

Berita Terkait