Diskusi Pembinaan Jemaat Di GPIB Harapan Indah Kota Bekasi

1078 dibaca
Pemimpin Umum/Pemred NARWASTU, Jonro I. Munthe saat berbicara seputar gereja, masyarakat dan kondisi Indonesia terkini di Gereja GPIB Harapan Indah, Kota Bekasi, dengan menggunakan slide.

BERITANARWASTU.COM. Pada Rabu, 2 Juli 2014 lalu, Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Majalah NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos diundang sebagai pembicara oleh GPIB (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat) Jemaat Harapan Indah, Kota Bekasi, Jawa Barat, dalam diskusi dengan topik "Gereja, Masyarakat dan Kondisi Indonesia Terkini." Acara diawali dengan ibadah yang dipimpin Ibu Pdt. Hilda Sihasale-Hatalaibessy, M.Min. Dalam siraman rohani yang disampaikan Pdt. Hilda yang dikutip dari Amsal 1:15-19 dikatakan, orang Kristen jangan ikut-ikutan dengan orang jahat yang suka memfitnah.

“Apalagi sekarang kita mau menghadapi Pilpres 2014 seminggu lagi, maka kita harus hati-hati dengan kampanye hitam yang ditujukan kepada Capres Nomor 1 maupun Capres Nomor 2. Kitab Amsal ini menuntun kita agar bisa jadi berkat di tengah sesama dan masyarakat. Sehingga kita perlu pembinaan, nasihat dan pendidikan agar kita bisa jadi saluran berkat di tengah masyarakat. Kalau orang jahat maunya melakukan kejahatan, kita jangan ikuti itu,” paparnya.

Dikatakan Pdt. Hilda lagi, menjelang Pilpres 2014 warga jemaat harus waspada terhadap yang jahat. “Menjelang Pilpres 2014 seminggu lagi, banyak orang kampanye hitam, padahal akan memasuki masa tenang. Sebagai warga jemaat kita harus banyak berdoa untuk bangsa ini, terutama dalam memilih pemimpin bangsa. Kita harus memilih pemimpin yang takut akan Tuhan dan menjauhi yang jahat,” tukas Pdt. Hilda Sihasale.

               Setelah itu, sambutan disampaikan Sekretaris Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ) Ibu Marianna Siahaya-Pattipeilohy. Pengurus Harian Majelis Jemaat GPIB Harapan Indah menyampaikan, acara ini diadakan untuk memberi pembinaan terhadap warga jemaat agar bisa tahu tentang kondisi gereja, masyarakat dan bangsa ini. “Dan pembicara yang kita undang adalah Pak Jonro Munthe,” ujar Ibu Siahaya. Kemudian pembawa acara Vik. Rindu Yemima Takapente, S.Si mempersilakan Jonro untuk memberikan pencerahan dan informasi terkini mengenai gereja dan masyarakat, menjelang Pilpres 2014.

Dalam acara yang dimulai pukul 19.00 sampai 21.00 WIB itu, Jonro I. Munthe yang juga aktif beribadah di GPIB Harapan Indah memaparkan potret warga gereja saat ini melalui slide, termasuk soal gereja-gereja di daerah Jawa Barat yang masih ditutup, seperti GKI Yasmin, Bogor, dan HKBP Filadelfia Bekasi, yang sebenarnya sudah menang di dalam proses hukum, namun kedua gereja itu belum dibuka.

 

Pelaksana Harian Majelis Jemaat (PHMJ) GPIB Jemaat Harapan Indah, Kota Bekasi. 

 

Selain itu, dipaparkan soal maraknya kini Perda (peraturan daerah)-Perda Syariah Islam di sejumlah daerah yang rentan mengganggu persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Tak hanya itu, dipaparkan dinamika sosial politik menjelang Pilpres 9 Juli 2014. "Saya tidak berkampanye di sini, hanya ingin memberikan pencerahan kepada Bapak/Ibu. Yang utama kita harus cerdas menyikapi Pilpres 2014 ini. Bapak/Ibu tentu sudah banyak mendapat informasi dari televisi, koran, majalah, radio dan media sosial terkait Pilpres 2014. Silakan pilih yang terbaik, tentu setelah berdoa dan mempertimbangkan jejak rekam kedua Capres RI itu,” cetusnya.

“Tugas kita, jangan masa bodoh dengan Pilpres 2014, kita harus ikut memilih, dan siapapun nanti Presiden RI terpilih kita harapkan dan kita minta yang bersangkutan punya integritas, artinya apa yang diucapkan sejalan dengan perilakunya. Kita imani bahwa siapapun nanti yang terpilih jadi Presiden RI dia adalah pilihan Tuhan," ujar Jonro yang lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Katanya lagi, kedua pasangan Capres RI yang tampil ini adalah figur nasionalis dan putra terbaik bangsa, serta punya kelebihan dan kekurangan.

"Siapapun nanti yang terpilih, kita minta agar persoalan tempat ibadah umat Kristen, seperti GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, termasuk kasus-kasus diskriminasi terhadap warga gereja bisa diselesaikan," pungkas peraih award sebagai “Jurnalis Muda Motivator 2009” Pilihan Majelis Pers Indonesia (MPI) ini di hadapan sekitar 100-an anggota jemaat itu. Diskusi ini cukup menarik, karena dalam kesempatan itu sejumlah anggota jemaat ada yang bertanya soal televisi yang "bertarung" di Pilpres 2014, yakni TV One dan Metro TV, soal anggota DPR-RI dari Kristen yang penakut membela kasus penutupan gereja, serta soal parpol nasionalis yang kurang peduli terhadap nasib warga gereja yang gerejanya ditutup, dan semua dijawab oleh Jonro dengan tangkas.

Menjawab pertanyaan seorang anggota jemaat soal televisi yang kini terbelah dua di Pilpres 2014, seperti TV One dan Metro TV, menurut Jonro, adalah fakta bahwa saat ini media elektronik dan media massa di Indonesia dikuasai oleh konglomerat-konglomerat yang juga terjun berpolitik, seperti Surya Paloh dari Partai NasDem (Metro TV), Aburizal Bakrie dari Partai Golkar (TV One) dan Hary Tanoesoedibjo yang pernah masuk Partai NasDem dan Partai Hanura punya RCTI, MNC dan Global TV.

“Pasti mereka punya kepentingan politik dengan siaran-siaran televisi yang dipublikasikan kepada masyarakat. Tapi di antara TV itu, Metro TV masih tergolong yang terbaik dari sisi jurnalistik,” paparnya. Jonro  mengingatkan, agar warga gereja jangan alergi terhadap politik. “Yang menentukan Ketua KPK, Panglima TNI, Kapolri, Ketua MA dan jabatan-jabatan strategis di negeri ini adalah orang-orang politik. Jadi kita harus doakan mereka agar mampu memberikan keadilan dan kesejahteraan bagi rakyat. Kita doakan juga anggota-anggota DPR Kristen sekaligus diingatkan agar mau memperjuangkan kepentingan masyarakat, termasuk persoalan warga gereja,” terangnya.

         Jonro Munthe pun mengharapkan agar warga jemaat di mana pun berada agar memperhatikan,  pertama, warga gereja harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati, termasuk dalam menyikapi event politik, seperti Pemilu atau Pilkada. Kedua, warga gereja harus membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh gereja dari berbagai aliran, agar ada sinergi dan kebersamaan. Ketiga, warga gereja harus membangun komunikasi dengan pemerintah setempat (Pemda).

             Keempat, warga gereja perlu membangun komunikasi dengan anggota dewan (DPRD-DPR-RI). Saat Gereja Santo Albertus Harapan Indah dirusak/dibakar pada 18 Desember 2009 lalu, Wali Kota Bekasi ditelepon anggota DPRD dari gereja itu, sehingga aparat kepolisian segera bertindak.

                Kelima, warga gereja perlu membangun komunikasi dengan tokoh-tokoh agama di daerahnya, atau dengan pemuka-pemuka lintas agama. Dengan adanya komunikasi yang baik, pasti ada saling pengertian dan kasih. Keenam, gereja harus ramah terhadap lingkungan sekitarnya, terutama yang dihuni mayoritas masyarakat non-Kristen. Misalnya, perlu diperhatikan suara-suara musik gereja, penataan parkir dan persoalan sosial kemasyarakatan (orang-orang miskin). Gereja mesti hadir menyatakan cinta kasih terhadap yang miskin.  HT  

Berita Terkait