Diskusi Terbatas PERWAMKI Menyoal HAM dan Hukum

434 dibaca
Tampak pengacara/advokat dan dosen di sekolah teologi: Mr. Jhon Stewart dan Mrs. Lourie Stewart diabadikan seusai acara diskusi.

BERITANARWASTU.COM. Pada Selasa siang, 21 Februari 2017 lalu, jurnalis yang tergabung di Perhimpunan Wartawan Media Kristiani Indonesia (PERWAMKI) mengadakan diskusi terbatas dengan topik "Hak Azasi Manusia (HAM) dan Hukum dari Perspektif Kristiani" di Gedung BPK Gunung Mulia Lantai 3 Kwitang, Jakarta Pusat.

Topik diskusi ini tergolong serius, namun menarik dan mampu memberi pencerdasan seputar HAM dan hukum kepada para peserta diskusi yang berlatar belakang praktisi hukum, akademisi, jenderal purnawirawan, profesional, pemimpin gereja dan cendekiawan. Pembicara suami istri asal Amerika Serikat (AS) berlatar belakang pengacara/advokat dan dosen di sekolah teologi, Mr. Jhon Stewart dan Mrs. Lourie Stewart.

Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU, Jonro I. Munthe, S.Sos dipercaya untuk memoderatori diskusi ini, dan penterjemah diskusi Yusak Tanasyah, M.Th, M.PdK (Ketua Umum BPP PERWAMKI) dan tuan rumah mantan Ketua Umum PERWAMKI, Robby Repi, S.H., M.Th (Kepala Divisi Pemasaran/Marketing PT BPK Gunung Mulia dan Wakil Ketua DPD Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia/PIKI DKI Jakarta).

Dalam pandangan Jhon Stewart, Indonesia adalah negara yang terbesar penganut agama Islamnya di dunia. Dan ketika ada kasus Ahok yang diduga menista agama, tentu kita harus hati-hati menyikapinya. “Kami harus hati-hati dalam menyikapi kasus Ahok itu. Yang pasti dalam sebuah negara demokrasi itu ada hak azasi manusia (HAM) yang menjamin kebebasan beragama, berpikir, berpendapat, berserikat dan memeluk agama atau kepercayaan yang diyakininya,” pungkasnya.

Di Amerika Serikat, kata Jhon, tak dikenal istilah penistaan agama. Dan seseorang mau pindah agamapun itu tak ada masalah. Bahkan, imbuhnya, kita kalau berbicara kasar pun masih dilindungi oleh undang-undang. Kalau tidak ada undang-undang yang melindungi, maka akan gampang kelompok yang mayoritas untuk menekan kelompok yang minoritas. “Namun bukan berarti karena ada jaminan tersebut, lalu kita jadi mudah untuk menyerang pihak lain. Bukan begitu,” paparnya.

Dalam perspektif HAM, menyebarkan ajaran agama, termasuk ajaran Yesus pun itu tidak ada masalah. “Saya sudah banyak belajar HAM, hukum dan teologi serta perbandingan agama-agama. Namun dalam mempraktikkan soal kebebasan itu, seperti dikatakan Paulus kita harus lebih takut kepada Tuhan daripada kepada manusia. Seperti kelompok teroris yang sering melakukan tindak kekerasan dan bom bunuh diri itu, jelas mereka melanggar HAM,” tukasnya.

Sedangkan Lourie Stewart menerangkan, persoalan HAM saat ini sudah mendunia. “Kebebasan bicara soal HAM sekarang ini harus kita syukuri. Namun kita mesti cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati,” ujarnya. Manusia menyadari ada nilai di dalam dirinya, makanya mereka sangat menghargai HAM. Menurut PBB, HAM berasal dari Tuhan, dan ini pandangan yang dianggap banyak kalangan tradisional. “Hanya saja ada pula orang bertanya, kalau HAM itu berasal dari Tuhan, maka Tuhan dari mana. Ini memang harus dipercakapkan hati-hati,” cetusnya.

 

 

Di dalam kekristenan, katanya, kita meyakini bahwa hukum yang tertinggi adalah dari Tuhan atau Alkitab. Di Kitab Kejadian ada ditulis, bahwa kita diciptakan segambar dan sesuai dengan rupa Allah. “Allah memang sangat mengasihi kita, sehingga Dia sampai memberikan PutraNya yang Tunggal buat kita. Jadi kita sangat berharga di mata Allah. Kalau manusia menyampaikan kesaksian palsu, kata-kata kasar dan nafsu, itu bukan berasal dari Allah. Itu berasal dari hati manusia yang jahat. Jadi yang bermasalah adalah dari hati manusia. Sehingga Roh Kudus atau Injil harus bisa menyentuh hati manusia, karena Roh Kudus punya kuasa memperbaharui,” terangnya.

Jhon Stewart menambahkan, Amanat Agung adalah memuridkan banyak orang bagi Yesus. Sehingga, katanya, kita mesti punya komitmen untuk memajukan Injil. “Lewat majalah Kristen, radio, TV dan media sosial pun kita bisa memberitakan Injil,” ujarnya. Ketika Pdt. Brigjen TNI (Purn.) Drs. Harsanto Adi, M.Th, M.M. yang juga salah satu Penasihat PERWAMKI mengkritisi soal adanya kelompok tertentu yang memanfaatkan HAM untuk membenarkan keberadaan LGBT, padahal itu jelas bertentangan dengan Injil, dan melanggar ajaran Tuhan, Lourie Stewart mengatakan, “Kalau keberadaan kaum homosekseal dikatakan bagian dari HAM, itu sesungguhnya sudah keluar dari definisi HAM PBB.”

Dan katanya, soal LGBT di Amerika Serikat dilegalkan saat Barrack Obama berkuasa, itu erat kaitannya dengan pengaruh sosial dan politik. “Kita harus mengkritisi LGBT itu dari sisi Injil. Kalau laki-laki diizinkan menikah dengan laki-laki, atau perempuan dengan perempuan. Atau yang tua dengan yang muda, atau manusia menikah dengan hewan, itu tidak sesuai lagi dengan ajaran Injil. Dan saya pernah berdebat soal keberadaan homoseksual di Amerika. Orang yang melakukan seks di luar nikah saja sudah berdosa, apalagi pelaku homoseksual,” tegasnya.

Jhon Stewart menambahkan, sekarang banyak persoalan kehidupan manusia itu berasal dari hatinya. Sehingga hati manusia harus disentuh dengan Injil. Bicara HAM, itu asalnya dari Tuhan. Kita tak bisa menemukan HAM di lingkungan sosial dan politik. “Hanya kerangka berpikir Kristen yang sangat menarik untuk membicarakan HAM,”  paparnya dalam acara yang diawali dan ditutup dengan doa, serta diisi dengan santap siang bersama itu. Yusak Tanasyah mengatakan, acara diskusi seputar HAM dan hukum ini diadakan PERWAMKI sebagai bagian dari pencerdasan terhadap cendekiawan atau tokoh-tokoh Kristiani soal HAM dan hukum. LS

 

Berita Terkait