Dr. Tema Adiputra Harefa, M.A.
Doa dan Kebiasaan

Penulis adalah pemerhati media, konsultan radio, d 468 dibaca
Dr. Tema Adiputra Harefa, M.A.

            Beritanarwastu.com. Judul  tulisan ini ada makna “samping”-nya. Maksud saya, akan terurai nanti hal-hal yang pernah kita lakukan dan pada akhirnya menimbulkan tanda tanya besar. Mengapa bisa begitu? Nah, mari kita jujur saja. Sejak kecil, bila kita berasal dari keluarga Kristiani, maka orang tua kita sudah mengajarkan bagaimana cara berdoa dan untuk apa berdoa. Pun guru-guru sekolah minggu di gereja turut memberi peran besar dalam hal pengalaman rohani ini. Tentu ada “kenikmatan” tersendiri saat itu, doa yang polos, doa yang sangat singkat dengan bahasa yang sederhana, ditambah pula kata-kata pujian diberikan oleh orang tua/guru sekolah minggu  usai kita berdoa.

Lalu, bagaimana setelah kita dewasa? Tentu banyak jawaban perihal ini. Tetapi, paling tidak, saya ingin memberi gambaran kisah nyata yang saya lihat dan alami sendiri tiga minggu lalu dihitung dari saat saya menulis ini. Sebagai seorang dosen mata kuliah Agama Kristen di kampus swasta, ada kesempatan yang saya gunakan untuk bertanya pada mahasiswa pada pertemuan pertama. Dan untuk jawabannya saya minta mereka jujur. Inilah pertanyaan saya: Siapa di antara Anda yang tadi pagi sebelum keluar rumah sudah terlebih dahulu berdoa? Saya lihat mereka mulai mengangkat tangan. Dari dua puluh mahasiswa yang ada di dalam kelas, ternyata hanya enam mahasiswa yang mengangkat tangan!

Lanjut lagi, seminggu kemudian di kelas yang sama, saya ajukan lagi sebuah pertanyaan dan saya minta mereka menjawab dengan jujur. Inilah pertanyaannya: Siapa di antara Anda yang tadi pagi sebelum keluar dari rumah, sudah melakukan persekutuan doa anggota keluarga bersama-sama (orang tua dan anak-anak)? Terlihatlah satu persatu tangan mahasiswa itu terangkat dan jumlahnya hanya 4 (empat)!

Melihat kenyataan di atas, walaupun di kelas itu barulah pertemuan awal-awal perkuliahan, dengan “gerak cepat” saya beri tambahan khusus materi kuliah tentang doa. Saya tidak mau mereka menikmati “kebiasaan” itu karena sudah menemukan “kenikmatannya”, atau pun karena ketidaktahuannya. Beberapa kesaksian hidup saya perihal berdoa, saya kisahkan pada mereka untuk meneguhkan hati dan iman para mahasiswa saya itu. Ini salah satunya.

Beberapa tahun lalu, saat saya masih baru sekitar dua tahunan bekerja di sebuah radio rohani swasta di Jakarta Timur, suatu pagi  saya sedang menunggu bus Metro Mini di sebuah persimpangan jalan untuk menuju kantor. Kebiasaan saya di persimpangan itu adalah berdiri dekat-dekat becak yang parkir, dengan pandangan mata lurus melihat arah utara supaya saya dapat melihat datangnya bus tersebut. Nah, sedang asyik menunggu, tiba-tiba seperti ada yang mendorong saya bergerak pindah posisi ke arah timur menjauh dari becak-becak yang parkir itu. Bersamaan dengan itu saya pun melihat sebuah Metro Mini semakin mendekat ke persimpangan tersebut.

Saat saya baru saja berdiri di posisi baru tersebut, melintaslah bus tanggung itu dengan kecepatan sedang, di depan saya. Saat tiba di dekat becak-becak yang parkir itu, ternyata bus itu tidak berhenti malah menabrak beberapa becak yang parkir di situ. Remnya blong! Wah...tahukah pembaca, becak mana yang terlebih dulu ditabrak bus umum itu? Yang pertama ditabrak adalah becak yang biasanya saya berdiri persis di samping becak itu! Bayangkan, kalau bukan Tuhan yang “memindahkan” posisi berdiri saya berpindah ke arah timur, maka saya akan menjadi makanan empuk moncong bus tanggung itu. Saya terpana. Membisu sesaat. Dan saya teringat, tadi sebelum saya keluar rumah saya telah berdoa.

Hari-hari ini kita perlu banyak dan rajin berdoa. Efesus 5:15, 16, Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif, dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.” Kita tahulah keadaan sekarang, keadaan ekonomi/keuangan dunia yang berdampak ke negeri kita tercinta ini, yang mulai mengancam posisi-posisi karyawan untuk masuk ke area PHK. Pun keadaan keamanan hidup, di berbagai negara telah terjadi penganiayaan/pembunuhan terhadap umat manusia yang dibenci oleh kelompok tertentu.

Juga hantaman ajaran-ajaran sesat yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan di Alkitab pun mulai melanda bagian-bagian dunia. Dan jangan pula dilupakan krisis/konflik di tengah-tengah keluarga, yang sangat berpotensi menghancurkan keharmonisan hidup rumah tangga/keluarga. Ya! Pribadi, keluarga, masyarakat, warga negara, semua tidak luput dari problema hidup. Semaksimal-maksimalnya mereka memggunakan daya, pikiran untuk mengatasi persoalan hidupnya, pada akhirnya akan mentok juga. Dan pada titik ini area spiritual biasanya akan muncul sebagai solusi. Nah, pada momentum inilah peranan dan kuasa doa sangat penting.

Doa yang telah menjadi kebiasaan hidup kita (sebagai nafas kehidupan rohani kita) yang dipanjatkan dengan dasar yang penuh kasih pada Tuhan dan dengan iman yang teguh, serta hidup yang terus melakukan kebaikan dan kebenaran, akan berdampak positif luar biasa. Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.

             Saat ini, janganlah kita tidak berdoa. Janganlah kita bermain-main dengan doa. Jangan pula kita suam-suam kuku dalam berdoa. Bagi negara/bangsa kita, pun kita harus bedoa. Persoalan di bangsa Indonesia ini semakin banyak dan pelik. Mari kita teladani Ester yang berdoa dan berpuasa untuk menyelesaikan persoalan besar bangsanya. Ester 4:16, ”Pergilah, kumpulkanlah semua orang Yahudi yang terdapat di Susan dan berpuasalah untuk aku, janganlah makan dan janganlah minum tiga hari lamanya, baik waktu malam, baik waktu siang. Aku serta dayang-dayangkupun akan berpuasa demikian, dan kemudian aku akan masuk menghadap raja, sungguhpun berlawanan dengan undang-undang, kalau terpaksa aku mati, biarlah aku mati.”

Mari kita teladani Tuhan Yesus yang pagi-pagi benar telah berdoa dan menjadikannya sebagai prioritas utama. Markus 1:35, ”Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” Dan mari juga kita laksanakan apa yang dituliskan Paulus ini. Di dalam 1 Tesalonika 5:17, “Tetaplah berdoa. Kita sangat perlu berdoa dengan benar dan segenap hati serta beriman teguh. Maka Tuhan akan memberkati, melindungi, menolong dan memelihara hidup kita. Dan jangan lupa pula mendoakan sesama kita dan bangsa kita! 

Berita Terkait