Dr. Jimmy Simanjuntak, S.H., M.H.
Doktor Hukum yang Jadi Berkat Bagi Sesama

1033 dibaca
Dr. Jimmy Simanjutak, S.H., M.H. (Tengah), Bersama para sahabat dan kolega.

Bertindak nyata ketimbang mengumbar sejuta kata, adalah ciri khas dari seorang Dr. Jimmy Simanjutak, S.H., M.H., yang berhasil menyelesaikan program S-3 dalam bidang hukum, baru-baru ini. Advokat berdarah Tapanuli ini tak memiliki keinginan yang muluk-muluk, selain hanya ingin dapat memberikan inspirasi para kaum muda Kristen pada khususnya, dan Indonesia pada umumnya.

 

Kontribusi Bagi Negara

 Krisis kepemimpinan merupakan salah satu masalah yang dihadapi negeri ini. Sepak terjang para abdi negara yang selalu menjadi berita kurang menggenakkan, entah tersangkut kasus korupsi, penganiayaan, suap menyuap, kisruh internal partai dan lain sebagainya. Padahal, salah satu faktor sebuah keberhasilan dari satu lembaga adalah pemimpin yang memiliki leadership yang kuat, selain integritas yang teruji dan cakap dalam skill dan pengetahuan.

Memang harus diakui untuk mencakup semua faktor tersebut di negeri ini, bisa masih bisa dihitung dengan jari. Sehingga figur kepemimpinan para petinggi negara ini, seperti lebih pintar mengumbar sederet kata-kata dibanding tindakan yang mencerminkan layaknya abdi negara. Tak ingin larut dan terbawa situasi yang tidak menentu, bahkan tanpa berbuat apa-apa justru tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.

 Sebagai seorang advokat muda yang cukup sukses dalam kariernya, Dr. Jimmy Simanjuntak, S.H., M.H., mencoba memberikan kontribusi melalui profesi yang digelutinya dengan memperlengkapi diri setelah berhasil mendapat gelar doktor dalam bidang hukum bisnis.  “Ketika kita membicarakan suatu perubahan dan menjadi contoh, itu identik dengan suatu kematangan atau kedewasaan dan pengakuan. Dengan usia muda yang kita miliki dan berbuat sesuatu belum tentu didengarkan oleh orang. Maka, saya berpikir bahwa salah satu jalannya adalah akademisi dengan menyelesaikan studi doktoral ilmu hukum bisnis,” katanya.

“Dengan ini saya berharap dapat memberikan contoh kepada kaum muda lainnya, terlebih para pemuda Kristen bahwa sebetulnya bisa menjadi contoh dalam bidang kita masing-masing. Karena saya berprofesi sebagai advokat, maka bisa memberikan perubahan di bidang hukum,” ujar pria yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2014 Pilihan NARWASTU” ini.

 Sayangnya, tak semua kaum muda di negeri ini mau menyingsingkan lengan bajunya untuk kemajuan bangsa. Bersikap skeptis dan cenderung menyalahkan generasi di atasnya,  membuat mereka memilih asyik menonton dan mengomentari.  Tanpa berusaha untuk menjadi bagian dari solusi dan agen perubahan. Sehingga secara mental dan spiritual mudah diombang-ambingkan oleh keadaan dan gampang terprovokasi. Advokat muda dan cerdas yang telah memiliki firma hukum ini berpendapat, orang muda sekarang banyak yang tidak mau berjuang, dan cenderung memiliki mental yang gampang menyerah.

Padahal, katanya, kalau kita lihat orangtua kita dulu nggak ada seperti itu. Mereka benar-benar berjuang dari dirinya sendiri dan berdoa kepada Tuhan supaya apa yang diharapkan itu bisa tercapai. “Dalam tiap kesempatan saya selalu katakan bahwa kesuksesan itu it’s not giving, tetapi sesuatu yang harus kita raih dengan perjuangan dan pengorbanan,” ujar anggota jemaat Gereja HKBP ini.

 Dengan memberikan kontribusi bagi bangsa dan negara ini melalui profesi yang digeluti atau dengan memberi sumbangan pikiran, sesungguhnya secara tidak langsung telah menjadi berkat bagi Indonesia. Advokat yang pernah bekerja sebagai Consultant of Home Affairs Legal Bureau ini, pada tahun 2015 tepat di bulan September membangun sebuah pembuangan sampah mandiri di Cilincing, Jakarta Utara. Menempati lahan seluas 400-500 meter yang dipinjamkan oleh PT. Pelindo itu dibangun dengan menggunakan dana pribadi dan menghabiskan biaya sekitar Rp 1 miliar.

Rencananya, tahun ini akan diresmikan oleh Gubernur DKI Jakarta, Ir. Basuki Tjahaja Purnama, M.M. atau Ahok. “Saya membangun peralatan dan bangunannya sendiri. Jadi sampah itu nggak perlu dikirim ke Bantar Gebang lagi. Jadi sampah itu habis dan sangat membantu Pemprov DKI Jakarta, dan itu sangat membantu mereka dan jawaban saat ini. Kalau itu bisa jadi pilot project di kelurahan atau kecamatan, maka bisa membantu menghabiskan sampah DKI sekian ton,” jelas advokat yang ikut berjuang saat terjadi diskriminasi dan penyerangan terhadap Jemaat Gereja HKBP Ciketing, Kota Bekasi, Jawa Barat, itu semangat.

 

Persoalan Bangsa dan Gereja

                Persoalan bangsa yang datang silih berganti, seolah tak mengenal musim membuat siapa pun pemimpin harus cerdas dalam mengambil sebuah kebijakan. Apalagi, hal itu berkenaan dengan para investor asing yang akan menanamkan modalnya di Indonesia, dan kesiapannya dalam memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). “Dalam menghadapi MEA, yang harus dipersiapkan oleh pemerintah adalah regulasi yang bisa melindungi iklim investasi dan kedaulatan negara itu penting. Artinya, tidak semua sektor harus dibuka untuk investasi asing. Tapi ada juga sektor-sektor yang harus kita kuasai secara mayority, seperti dalam bidang industri dan pertanian. Jangan sampai nanti sawah-sawah dikuasai oleh orang asing. Maka pemerintah sudah harus memikirkan dan mengatur mengenai itu,” tukasnya.

 Hampir dua tahun dalam pemerintahan Jokowi tentu banyak hal yang telah dilakukannya. Walaupun tak bisa dipungkiri setiap kebijakan yang dibuat oleh mantan Wali Kota Solo itu kerap dianggap berkompromi dan lebih mementingkan sekelompok orang. Menurut Jimmy Simanjuntak, memang tidak mudah me-manage suatu negara, seperti Indonesia dengan keberagaman dan multidimensi dalam berbagai hal dengan iklim politik dan lain-lain.

Kalau digambarkan dalam satu diagram, dari target yang ada mungkin sudah bisa ada perkembangan walaupun belum sigifikan. Tentunya, kalau Jokowi bisa tegas dan seperti komitmen awal tidak mengedepankan janji-janji politik atau berbagi kepentingan pada pihak lain, maka tujuan/target untuk membuat Indonesia ke arah yang lebih baik akan bisa tercapai. Tapi untuk beberapa terobosan bisa kita lihat dan rasakan, seperti bidang kelautan dan hukum.

 Masih segar dalam ingatan kita, belum lama Presiden Jokowi memerintah, dua kasus yang bersinggungan dengan agama terjadi, yakni kasus Tolikara, Papua, dan penutupan sejumlah gereja di Singkil Aceh. Memang kasus penutupan gereja maupun sulitnya mendapatkan izin untuk mendirikan rumah ibadah, katanya, bukanlah hal yang asing bagi kita jemaat Kristiani. Sebut saja seperti GKI Yasmin, Bogor,  Gereja HKBP Filadelfia, Bekasi, Gereja Santa Clara, Bekasi dan lain-lain. Namun, yang menjadi kenyataan pahit adalah kebebasan beribadah, sepertinya masih menjadi barang mewah di negeri ini.

 Yang lebih mengenaskan lagi, seperti tidak ada kesatuan dalam rasa solidaritas antarsaudara seiman (empati).  Entah karena merasa ada perbedaan dari latar belakang gereja atau karena faktor lain. “Saya pernah bicara kepada Sekum PGI Pdt. Gomar Gultom bahwa di sini peranan PGI sangatlah penting untuk bisa menjembatani yang namanya oikoumene. Jangan hanya diartikan interdenominasi, tapi artikanlah sebagai satu kesatuan tubuh Kristus. Apapun dogma gerejanya, tapi hanya ada satu tujuan gerejanya Tuhan Yesus. Kalau hal ini sudah berhasil dilakukan saya rasa tidak akan muncul hal-hal seperti itu lagi. Sebab, memang tidak ditanamkan dan diterapkan kepada jemaatnya,” kata Jimmy Simanjuntak dengan mimik serius.

 Sudah barang tentu jika dibiarkan gereja terpecah-pecah,  maka tidak sesuai dengan Amanat Agung dari Tuhan Yesus. Beberapa tahun lalu pernah digelar suatu acara yang mengusung tentang “Kesatuan Tubuh Antar Gereja-gereja di Indonesia.” Namun, acara tersebut seperti tidak memberikan dampak yang berarti. Oleh karena itu, harus ada cara untuk mengatasinya agar para generasi muda yang menjadi cikal bakal penerus dari gereja yang ada memiliki rasa kesatuan tubuh Kristus.

 Kendati berbeda latar belakang gerejanya, Jimmy Simanjuntak mengatakan, ada baiknya diberikan pendidian dari kecil melalui sekolah minggu, bina iman atau sejenisnya. Nantinya itu yang akan tertanam, dipikirkan dan diingat apa yang telah diajarkan. Oleh sebab itu, PGI bisa membuat suatu guidance kepada semua gereja di bawah naungannya. Di mana guidance itu merupakan hasil komunikasi antara anggota-anggota PGI dan pendeta-pendeta. Nantinya dalam menjalankannya disesuaikan dengan cara atau metode dari masing-masing gereja.

 

Memperhatikan dan Melayani Keluarga

             Berprofesi sebagai seorang advokat muda yang dijejali oleh aneka kesibukan, tentulah cukup kesulitan dalam hal pembagian waktu, antara pekerjaan dan keluarga. Keseimbangan dalam membagi waktu yang kadang lebih berat kepada pekerjaan membuat keluarga seolah-olah menjadi prioritas terakhir. Tapi, hal itu tidak berlaku dalam kamus kehidupan Jimmy Simanjuntak. Ia sadar kesuksesan yang diraihnya selama ini, selain karena campur tangan Tuhan juga atas dukungan istri dan anak-anaknya. Memprioritaskan keluarga sesudah Tuhan, dinilainya sebagai nilai ideal bagi dirinya pribadi.

         Kendati saban hari jarang bertemu dengan ketiga buah hatinya, namun ia selalu berupaya setiap pagi menyapa dan berdoa bersama dengan keluarga kecilnya. Dan bila menjelang akhir pekan, biasanya ia menyediakan waktu  (quality time) untuk menjalin kebersamaan dengan istri dan anak-anaknya. “Memang hari-hari ketemu anak-anak biasanya mereka sudah tidur. Tapi, saya selalu berusaha untuk komunikasi by phone dan pagi-pagi sebelum berangkat sekolah, saya cium dan katakan daddy love you. Nah, dengan keyword tersebut akan tersimpan ke pikiran dan hati mereka,” ujar Jimmy Simanjuntak yang pernah diutus DPN PERADI untuk menghadiri pertemuan advokat sedunia di Tokyo, Jepang, lantaran ia dianggap advokat muda cerdas dan berprestasi.

             Sebagai seorang kepala rumah tangga merupakan tanggung jawabnya tak hanya memenuhi setiap kebutuhan jasmani semata. Untuk Jimmy, sejak kecil para buah hatinya selalu ditanamkan nilai-nilai kehidupan yang berlandaskan akan firman Tuhan. Seperti menghargai orang lain, sopan santun, tidak egois dan belajar untuk menghargai sebuah proses. “Saya menyadari dengan cara-cara tersebut, maka yang namanya selfish dan kesombongan dengan sendirinya tidak akan nempel di dalam diri kita,” ujarnya menjelaskan.

             Di akhir percakapannya dengan Majalah NARWASTU, ia menyampaikan sepenggal pesan, kasih melayani itu bukanlah lip service. Jangan sekadar tahu, tapi haruslah kita lakukan. Jadi kasih itu harus diterapkan dan melayani itu harus dikembangkan dalam kehidupan bermasyarakat. Tentunya apa yang kita lakukan pasti Tuhan akan perhitungkan. Jadi jangan menunda lagi untuk bisa jadi berkat untuk orang lain. BTY

Berita Terkait