DPN KERMAHUDATARA Beri Penghargaan Kepada Tokoh-tokoh Nasionalis di Gedung MPR-RI

1017 dibaca
Acara DPN KERMAHUDATARA di Gedung Nusantara V MPR-RI, Jakarta.

BERITANARWASTU.COM. Pada Kamis, 25 Agustus 2016 lalu sejak pagi hingga sore, Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Kerukunan Masyarakat Hukum Adat Nusantara (KERMAHUDATARA) mengadakan acara seminar nasional dan pemberian penghargaan kepada sejumlah tokoh nasionalis yang giat menggaungkan empat pilar persatuan bangsa (Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI). Acara seminar dengan tema “Pemberdayaan Sistem Pemerintahan Desa Adat dalam Penataan Sistem Ketatanegaraan Indonesia” ini diadakan di Gedung Nusantara V MPR-RI, Jakarta, dan dihadiri 300-an tokoh adat, cendekiawan, pers, aktivis LSM, dan pemuka masyarakat.

                Ketua Umum DPN KERMAHUDATARA adalah Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S. (mantan Hakim Agung MA-RI), dan Ketua Pelaksana Harian DPN KERMAHUDATARA plus ketua panitia acara ini, Brigjen TNI (Purn.) Jurnias Marvel L. Tobing, M.Sc (mantan Kepala Pusat Strategi dan Kajian TNI). Acara ini diawali dengan prosesi penampilan seni tari dari berbagai daerah, seperti Betawi, Batak, Mandailing, Simalungun dan Sunda.

                Hadir pula di acara ini, sejumlah tokoh nasional, seperti mantan Menkopolhukam RI Jenderal TNI (Purn.) Agum Gumelar, Wakil Ketua MPR-RI Letjen TNI (Purn.) E.E. Mangindaan, Ketua MPR-RI, DR. Zulkifli Hasan, Letjen TNI (Purn.) Amir Sembiring (mantan Komandan Diklat TNI AD), Dr. Bambang Sadono, S.H., M.H. (Ketua Badan Pengkajian MPR-RI) serta ratusan pemuka adat dari Maluku, Papua, Jawa dan Sumatera.

 

Acara DPN KERMAHUDATARA di Gedung Nusantara V MPR-RI, Jakarta. 

Tokoh-tokoh nasionalis mendapat penghargaan budaya dari DPN KERMAHUDATARA.

 

               

Dalam acara ini, diberikan juga penghargaan budaya kepada tokoh-tokoh nasionalis berupaya kain khas Batak (ulos). Ulos tersebut disematkan H.P. Panggabean bersama tokoh-tokoh adat kepada Agum Gumelar, Zulkifli Hasan, E.E. Mangindaan, Bambang Sadono dan perwakilan sejumlah tokoh nasional. Setelah itu, dilanjutkan dengan seminar yang menyoal tentang eksistensi adat budaya, masyarakat desa dan perhatian pemerintah terhadap masyarakat hukum adat.

                Slamet Rahardjo yang tampil sebagai moderator, dan narasumber Junias Tobing dan H.P. Panggabean menerangkan, sekarang banyak orang merantau dan meninggalkan kampung halamannya. Mereka tidak mau tahu lagi dengan keadaan kampung halamannya setelah sukses. Padahal identitas suku atau kampung kita itu sangat penting. Sedangkan Junias Tobing menegaskan, kekuatan bangsa ini sebetulnya terletak di desa, bukan di ibukota negara atau di panggung politik.

                “Kalau orang desa tidak mengirimkan makanan ke kota, dan petani tidak menggarap lahan pertaniannya, bisakah kita bayangkan apa yang terjadi. Jadi kita jangan anggap remeh dengan keberadaan desa. Kekuatan bangsa ini sekarang ada di desa, dan kekuatan itu harus terus kita kembangkan ke tingkat nasional agar pemerintah melihat keberadaan sosial budaya. Tokoh-tokoh masyarakat adat dan budaya seharusnya dihargai keberadaannya di parlemen, agar dia bisa menyampaikan apa aspirasi masyarakat desa,” ujar Junias Tobing.

                Sedangkan H.P. Panggabean mengatakan, acara DPN KERMAHUDATARA ini diadakan di Gedung MPR-RI agar tokoh-tokoh bangsa ini juga melihat betapa potensi pemuka-pemuka desa atau tokoh-tokoh adat dan budaya di negeri ini, tak bisa remehkan. “Banyak persoalan yang terjadi saat ini di Indonesia, seperti masalah korupsi, bahaya narkoba, terorisme dan bahaya radikalisme. Menyikapi ini, bersama tokoh-tokoh agama mestinya pemerintah mengajak pemuka adat yang ada di desa untuk ikut memberikan pemikiran,” ujarnya.

             “Ada konflik hak ulayat, dan ekonomi desa semakin kering, serta perantau tidak peduli lagi ke kampung halamannya setelah sukses. Itu masalah serius,” papar H.P. Panggabean. Dan tokoh-tokoh nasionalis itu diberi penghargaan budaya, kata H.P. Panggabean, karena mereka peduli pada persoalan negeri ini dan Pancasilais. Pemuka-pemuka bangsa yang nasionalis, ujarnya, patut diberikan penghargaan budaya, karena bangsa ini sangat majemuk dengan ragam budaya dan etnis. Dan budaya dan adat itu harus diangkat para tokoh nasionalis itu agar keberadaannya semakin mendapat tempat di negeri ini, terutama soal eksistensi masyarakat hukum adat (MAHUDAT). TK 

Berita Terkait