Ir. Barnabas Yusuf Hura, M.M.
Dulu Aktif di PMKRI, Kini Berjuang di PAN

1507 dibaca
Ir. Barnabas Yusuf Hura, M.M.

Beritanarwastu.com. Ir. Barnabas Yusuf Hura, M.M. yang lahir di Padang, 28 Oktober 1957 adalah salah satu tokoh Kristiani yang sudah banyak berkarya untuk kepentingan masyarakat dan bangsa. Namun, selama ini ia tak mau mempublikasikan aktivitas pelayanannya. Selama ini banyak anak-anak bangsa yang putus sekolah dan tidak bisa kuliah yang ia bantu dan diberi beasiswa lewat jaringannya. Juga banyak kaum lemah yang dibantunya bersama alumni PMKRI (Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia). Dan ia  termasuk salah satu pendiri PAN (Partai Amanat Nasional) bersama Prof. Dr. Amien Rais dan sejumlah tokoh nasional.

                Barnabas menerangkan, perkenalannya dengan PAN berawal dari ajakan orangtua angkatnya, Christoforus Sindhunata (alm.) pada awal reformasi lalu. Christoforus adalah mantan perwira Angkatan Laut yang cukup dihormati Amien Rais. Christoforus berkali-kali didatangi Amien Rais, sehingga mereka kemudian mendirikan sebuah partai politik yang bernama PAN. “Pak Christoforus salah satu pendiri PAN, dan beliau anggap saya sebagai anaknya. Beliau yang membimbing saya masuk ke dunia politik, dan saat PAN berdiri saya sudah dipercayakan menjadi salah satu Wakil Sekjen DPP PAN,” ujar Ketua I BPN Forum Komunikasi Alumni (FORKOMA) PMKRI dan mantan Ketua Presidium PMKRI ini.

                Ketika ia memilih bergabung di PAN, katanya, sempat ada tokoh Kristiani yang mempersoalkannya, karena dianggap PAN berbasis Islam. “Kalau PAN disebut partai politik Islam, itu tidak benar, karena pendiri PAN itu ada tokoh Kristen, Pdt. Th. Sumartana, tokoh nasionalis Albert Hasibuan dan Pak Christoforus Sindhunata. Simbol dan visi misi PAN pun tak ada yang bernuansa agama tertentu. Putranya Albert Hasibuan, Bara Hasibuan pun sekarang ada di PAN. Di PAN ini ada dinamika, dan itu biasa. Kita dihormati di situ, dan kita harus ikut berjuang untuk kesejahteraan rakyat lewat PAN,” ujar pendiri dan Ketua Umum Paguyuban Santa Martha Jakarta Keuskupan Sibolga ini.

                Profesional yang mengikuti pendidikan SD, SMP dan SMA di Padang, Sumatera Barat, ini adalah lulusan Sarjana Teknik Mesin dari Universitas Katolik Atmadjaya, Jakarta, dan kini ia dipercaya pula sebagai Sekjen Ikatan Alumni Unika Atmadjaja, Jakarta, dan Ketua Himpunan Kawasan Industri. Ayah dua anak, Albertus Magnus BYH (22 tahun) dan Andreas BYH (20) yang menikah dengan Y.D. Helena Sarumaha ini, pernah menjabat sebagai Marketing Manager PT. Krakatau Baja Pertama dan Project Devisi PT. Sarana Adiniagatama dan Advisor PT. Besland Pertiwi (1992-2013).

                Pendiri dan Sekretaris Ikatan Warga Katolik Nias (IWKN) ini menuturkan, kalau ia bisa seperti sekarang, itu tidak lepas dari organisasi PMKRI. “Saya merasakan bahwa kita membutuhkan generasi muda Kristiani yang idealis, dan itu datangnya tidak tiba-tiba. Tapi perlu pembinaan agar mereka jadi kader-kader yang punya visi untuk melihat bangsa ini ke depan. PMKRI adalah tempat persemaian kaum muda Kristiani, terutama Katolik,” paparnya.

                Di PMKRI, imbuhnya, ia dibekali dengan spiritualitas oleh para senior. Dan para senior mendorong para juniornya agar bisa jadi kader-kader andalan untuk membangun bangsa dan masyarakat. “Dalam persemaian di PMKRI itu kami dilatih agar loyal terhadap alamamater, jujur, punya cita-cita untuk maju dan kita dididik agar mampu jadi entrepreuner. Melalui itulah saya bisa aktif di berbagai bidang seperti sekarang,” ujar Ketua Badan Pengawas Koperasi Taksi ini.

                Anggota Koperasi Taksi ini sekarang punya anggota 1.000 orang di Jabodetabek, dan Barnabas punya 30 taksi. “Kalau dihitung-hitung ada 100 sampai 150 jiwa yang kita hidupi setiap bulan dengan taksi itu. Itu artinya kita harus bisa bermanfaat di manapun kita berada,” ujarnya. Selain itu, Barnabas sudah 12 tahun jadi Ketua RT di daerah tempat tinggalnya yang dihuni 99 persen orang Betawi beragama Islam. Katanya, sudah berulangkali ia membawa warganya yang sakit kritis ke rumah sakit di tengah malam sebagai wujud kasihnya terhadap sesama.

                “Jadi bergaul dengan suku atau agama manapun, kita harus tunjukkan kasih atau iman kita sebagai Kristiani yang peduli,” ujarnya. Katanya, kepercayaan itu sekarang langka dan penting kita bangun. Kalau kita aktif dalam sebuah organisasi, itu akan membuat nilai tambah kita di tengah masyarakat,” pungkasnya.

                Soal keaktifannya di PAN, ujar Barnabas, kalau kita penganut Kristiani yang baik dan ingin bermanfaat bagi banyak orang, kita jangan hanya berkumpul dengan orang yang seagama dengan kita. “Kita harus masuk ke semua kalangan, termasuk ke parpol nasionalis. Saat reformasi bergulir saya masuk PAN demi kepentingan bangsa dan negara. Bagi saya, sekali berpartai kita tak boleh keluar atau pindah-pindah ke partai lain. Perjuangan saya untuk mensosialisasikan PAN ke tengah masyarakat tidak gampang,” ujarnya.

Menurutnya, PAN itu banyak pendukungnya Kristen dan Katolik, seperti di daerah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). “Seorang uskup pernah bilang, saya harus tetap berada di PAN agar bisa ikut mengupayakan kesejahteraan rakyat,” tegasnya. Berbicara tentang Pemilu 2014 yang sudah di depan mata, kata Barnabas, kini ia maju sebagai Caleg DPR-RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sumatera Utara II. “Saya siap meneken kontrak dengan umat tentang perjuangan saya. Kalau saya berada di parlemen, maka sebagian besar gaji saya akan saya serahkan untuk kepentingan umat. Ini perlu dicatat bahwa saya terpanggil untuk berjuang bagi rakyat, terutama di Sumatera Utara. Selama ini saya sudah banyak ‘menanam’, sehingga tidak salah juga kalau sekarang saatnya saya menuai,” cetusnya.  Barnabas pun berkomentar bahwa figur Menko Perekonomian RI, Hatta Rajasa (HR) yang kini disebut-sebut juga salah satu Capres RI 2014, adalah salah satu putra terbaik Indonesia yang layak jadi pemimpin bangsa.

                

Berita Terkait