Drs. Ibrahim Agustinus Medah
Dulu Bupati Kupang Kini Wakil Rakyat di Senayan

711 dibaca
Drs. Ibrahim Agustinus Medah

             Beritanarwastu.com. Pencapaian Drs. Ibrahim Agustinus Medah dalam tangga kesuksesan, selain karena kerja keras juga dukungan istri dan anak-anaknya, dan ia selalu bersandar kepada Tuhan Yesus. Bagi pria kelahiran Bilba, NTT, 8 Juni 1947 ini, orang bekerja tanpa iman pasti tak akan maksimal. Akan tetapi, kalau orang bekerja dan bergantung kepada Tuhan pasti punya iman. Karena itu, bagi Iban, begitu anggota DPD-RI dan tokoh masyarakat asal NTT (Nusa Tenggara Timur) ini dipanggil, lingkup pemerintahan juga merupakan ladang Tuhan.

               Sebab, penginjilan dan menjadi saksi Kristus tidak serta merta harus di atas mimbar gereja. Melainkan menjaga perilaku dan memiliki gaya hidup yang bersandar pada teladan Yesus. Nilai-nilai kebenaran Firman Tuhan itulah yang ia wariskan juga kepada anak dan cucunya. Saya tak pernah wariskan apa-apa dari segi material kepada anak dan cucu. Melainkan takut Tuhan dan bergaul akrab denganNya. Jika semua itu sudah dilakukan, maka nilai-nilai kehidupan lain pasti ada di situ. Selama saya menjadi bupati nggak ada satu pun yang saya bawa. Kalau sekarang anak-anak berwiraswasta itu modalnya pinjam di bank, ujarnya.

            Perjuangan Ibrahim Medah untuk memajukan NTT memang masih panjang. Tapi, ia patut diteladani, karena kerja kerasnya untuk NTT mulai menapaki hasil yang cukup memuaskan. Baginya, keberhasilan itu tak lebih karena campur tangan Tuhan. Dalam perjalanan hidupnya, selepas SMA ia sebenarnya ingin melanjut ke Sekolah Tinggi Teologi (STT) demi mewujudkan cita-citanya sebagai seorang pendeta. Seiring perjalanan waktu, Ibrahim justru dipercaya sebagai abdi negara.

            Dengan modal iman kepada Tuhan, Pak Iban kini dipercaya sebagai anggota DPD-RI. Ia ingin berbuat yang terbaik bagi Indonesia, terlebih untuk NTT. Ia ingin NTT maju di segala bidang, baik pertanian, perkebunan, perikanan, pariwisata dan sektor lain. Awal kariernya dimulai sebagai Wakil Camat di Rote Barat Laut. Belum setahun ia diangkat sebagai camat. Jabatan itu diembannya saat menginjak usia 25 tahun. Pencapaian karier yang cepat itu tentu dilatarbelakangi oleh prestasinya yang cukup membanggakan. Di antaranya ia berhasil menerapkan teknologi dalam penanaman padi jenis Gogo Rancah di Rote Barat Laut. Padahal daerah itu dikenal sangat minim akan curah hujan. Sehingga daerah itu yang semula biasa membeli beras dari Pulau Jawa justru mengalami surplus atau swasembada pangan sampai hari ini.

            Keberhasilan itu, mengantarkan mantan fungsionaris Golkar ini untuk menduduki jabatan sebagai camat, lalu Ketua Golkar Rote Ndao, Ketua DPRD Kupang, Bupati Kupang dua periode berturut-turut, Ketua DPRD Kupang dan kini anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah)-RI dari NTT. Menurut suami Corry E. Medah Tambayong ini, kalau dilihat dari sumber daya manusia (SDM), NTT sangat banyak. Belum lagi sumber daya alam di kelautan, pertanian, perkebunan, peternakan dan pariwisata. Dengan sumber daya alam dan SDM, maka saya optimis NTT pasti akan maju apabila ditangani dengan baik, ujarnya.

            Mantan Ketua FKPPI Kupang (1968-1991) ini mengatakan, selain menyoroti sektor tenaga kerja, NTT yang  memiliki kekayaan laut berlimpah sangat berpeluang untuk budidaya aneka produk kelautan mulai dari rumput laut, kerambu, ikan, kerang dan tripang. Apalagi mengingat panjang pantai NTT lebih dari 5.000 kilometer. Dalam sektor peternakan, katanya, daerah yang dikenal sangat indah pemandangan alamnya itu cocok dalam pengembangbiakan sapi. Sayangnya masih sebatas ekstensifikasi, bukan intensifikasi, seperti  di Jawa dan Bali yang dikandangkan.

            Menurutnya, hanya beberapa tempat di NTT yang bisa melakukan intensifikasi peternakan. Kendati demikian, pria yang dipercaya sebagai Ketua Panitia Sidang Sinode GMIT (Gereja Masehi Injili di Timor) pada September 2015 lalu ini sewaktu jadi Bupati Kupang tak kehabisan akal. Ia membuat program Sapi Kopel. Yaitu setiap kepala keluarga diberikan satu ekor sapi jantan dan dua ekor sapi betina. Dua tahun kemudian akan  berkembang biak.

               Sebagaimana diketahui, NTT dikenal daerah kering dan curah hujannya yang minim. Dengan kondisi itu bukan berarti NTT tak memiliki kelebihan. Justru anggota DPD-RI ini mengaku optimis akan kondisi itu. Terbukti dari hasil perkebunan layak diandalkan. Mulai dari coklat, kopi, vanili dan cengkeh. Sayang, para petani masih menanamnya secara sporadic, padahal untuk daerah Timor potensi kopinya luar biasa.

              “Walaupun curah hujan sedikit dan air kita kurang dan musim panas yang panjang tapi kita memiliki daya saing komperatif yang tinggi, katanya bangga. Tak terkecuali sektor pariwisata dengan berbagai pemandangan alam menjanjikan, seperti Pulau Komodo, Danau Tiga Warna, Taman Laut Selat Pantar Alor, Sumba, dan Pulau Rote yang dikenal dengan survingnya. Salah satu cara yang pernah dilakukan Ibrahim untuk memperkenalkan tempat wisata di NTT, yaitu mengundang para surver dari berbagai negara untuk menjajal ombak dan keindahan Pulau Rote. Semua biaya akomodasi ditanggung oleh pemerintah daerah setempat. Dan cara ini dianggap berhasil, sebab pada musim liburan tertentu rata-rata tempat penginapan dipenuhi wisatawan asing dan domestik.

             Apa yang dilakukan oleh mantan bupati Kupang dua periode ini, di samping wujud kecintaannya terhadap tanah kelahirannya juga tanggungjawabnya sebagai pengemban amanah rakyat. Banyak yang menilai DPD tak memiliki kewenangan memadai. Seolah-olah DPD tidak bisa berbuat apa-apa. Justru DPD memiliki kewenangan untuk melakukan Raker dengan para menteri untuk menjalankan visi dan misi Presiden RI. Maka di sini DPD-RI berpeluang besar memperkenalkan dan memperjuangkan daerah-daerah di Indonesia, termasuk NTT agar setiap daerah bisa bangkit dari keterbelakangannya, pungkas tokoh Partai Golkar asal Indonesia Timur yang disegani ini.

Berita Terkait