DUNIA KERJA DI PANGGIL UNTUK PENYELAMATAN

• Oleh: Dr. Antonius Natan, Th.M 295 dibaca
* Penulis adalah Sekretaris Umum PGLII DKI Jakarta, Fasilitator My Home Indonesia, anggota FORKOM NARWASTU dan salah satu Penasihat PERWAMKI.

Beritanarwastu.com. “Aku ini, Tuhan, telah memanggil engkau untuk maksud penyelamatan, telah memegang tanganmu. Aku telah membentuk engkau dan memberi engkau menjadi perjanjian bagi umat manusia, menjadi terang untuk bangsa-bangsa” Yesaya 42:6.

       Seorang teman suatu kali mengirimkan pesan singkat pada pagi hari berbunyi demikian, “Bekerja keras itu baik, bekerja cerdik juga baik, tetapi jika kita tidak tinggal dalam Tuhan, sesungguhnya kita tidak sedang berbuat apa-apa.” Saya mencoba memahami pesan tersebut dan beberapa hari kalimat ini menjadi bahan renungan bagi saya pribadi, kalimat “tidak tinggal dalam Tuhan” sangat mengusik pikiran, sampai akhirnya saya memahami bahwa jika kita tidak sedang melakukan kehendakNya barulah kita disebut “tidak berbuat apa-apa.”

       Sebagai orang percaya, tatkala menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka Dia hidup dalam kehidupan kita, berarti Dia tinggal dalam diri setiap orang yang percaya, tetapi apakah kita berjalan bersama sama dengan Dia? Dia ingin bekerja bersama-sama dan mendatangkan faedah bagi Kerajaan Sorga. Tuhan yang memanggil kita adalah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, berarti Dia besar dan Dia maha Kuasa, Dia pemilik otoritas, apakah kita berkehendak menolak panggilanNya?

      Terlalu sibukkah kita dengan pekerjaan? Terlalu besarkah tanggung jawab kita? Sehingga tidak memiliki waktu untuk bekerja bersama-sama dengan Dia untuk melayani, membawa faedah bagi Kerajaan Sorga? Dalam doa kita sering mengucapkan datanglah KerajaanMu, mari kita nyatakan kesanggupan untuk mendatangkan sorga bagi orang di sekeliling dan komunitas. Kita dipanggil untuk menjadi terang bagi suku bangsa dan bahasa adalah suatu tugas besar dan mulia, Dia memanggil kita tidak sekadar untuk melakukan perkara sederhana atau perkara yang kecil-kecil saja. Dia tidaklah terlalu besar untuk melakukan perkara yang kecil dan juga masalah besar kita masih terlalu kecil dibanding kemampuan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.

      Mari kita sadari Dia berkehendak menyerahkan otoritas kepada kita agar kita dapat menaklukkan bumi, otoritas yang kita miliki dapat mengalahkan kuasa kegelapan, dapat mengalahkan sakit penyakit dan kelemahan-kelemahan, siapkah kita menerima otoritas? Yang menerima otoritas adalah yang memiliki peranan Raja. Janjinya kita memperoleh kedudukan yang mulia, karena status yang kita miliki.

       Dalam karya kasih Tuhan kepada umatnya, Dia sungguh berbelas kasih kepada umatNya sehingga diperlukan peranan imam agar hubungan dan relasi Dia kepada umatNya dapat terus terjalin. Peranan ini dimanifestasikan dalam bentuk doa, melalui doa maka komunikasi terjalin dan melalui doa kita mengetahui kehendak Tuhan. Sehingga tatkala kita berdoa, kita bersama dengan Dia, tatkala kita bertindak kita bersama Dia, kita berbuat sehingga terang kemuliaan turun. Perubahan terjadi dalam komunitas, transformasi berlangsung karena peranan imam dan raja berfungsi dengan baik, Dia hidup.

Melalui kita keselamatan terjadi, Kerajaan Sorga hadir dalam lingkungan dan komunitas, dalam dunia kerja (Marketplace) dalam bisnis dan dunia profesional. Orang melihat terang yang dibawa dalam rapat di kantor, pergaulan dan di warung kopi dan seberapa tinggi jabatan, seberapa besar tanggung jawab, seberapa sibuknya kita, ingatlah Tuhan kita lebih besar dari semua permasalahan, mari luangkan waktu bentuk kelompok doa dalam lingkungan kantor, dirikan mezbahNya, berikan diri memiliki peranan Imam dan Raja. Sesuatu yang besar pasti akan terjadi, perubahan yang menuju kebaikan akan terjadi, transformasi terjadi dalam komunitas, nama Tuhan dipermuliakan. Mari bergerak, ladang sudah menguning.

Berita Terkait