FORKOM NARWASTU Gelar Diskusi di Akhir Tahun 2019 Bersama Petinggi Kantor Staf Presiden RI

17 dibaca
Suasana acara diskusi FORKOM NARWASTU pada 5 Desember 2019 lalu di Graha Bethel, Jakarta Pusat.

Beritanarwastu.com Pada Kamis, 5 Desember 2019 lalu, Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU (FORKOM NARWASTU) kembali menggelar diskusi terbatas di Graha Bethel, Jakarta Pusat, dengan topik "Refleksi Akhir Tahun 2019: Tantangan dan Harapan Pada Kabinet Indonesia Maju." FORKOM NARWASTU yang dipimpin Prof. Dr. Marten Napang, S.H., M.H., Sterra Pietersz, S.H., M.H. dan John S.E. Panggabean, S.H., M.H. mengawali acara kali ini dengan ibadah, dan pengkhotbah Pdt. DR. Nus Reimas (Tokoh gereja aras nasional dan Pembina Majalah NARWASTU). Menurut Pdt. Nus Reimas dalam khotbahnya, hidup ini adalah sebuah perjalanan dan hidup ini juga tantangan. "Dan saat kita akan memasuki tahun 2020 kita akan menghadapi tantangan atau masalah. Namun kita juga harus percaya bahwa hidup ini pun anugerah dan kepercayaan dari Tuhan. Dan kita di dunia ini hanya mendapat tugas sementara. Karenanya kita harus tetap jaga kekudusan, seperti Daniel dan Yusuf yang dulu menjaga kekudusan sekalipun tantangan yang mereka hadapi cukup berat. Saat ada masalah tetaplah bergantung pada Tuhan, dan Tuhan akan senantiasa menyertai dan memimpin hidup kita. Dan Tuhan tak pernah salah di dalam memimpin langkah hidup kita," cetus Ketua Majelis Pertimbangan PGLII ini.

      Seusai ibadah dilanjutkan dengan makan malam bersama lalu diskusi. Di acara ini MC Pdt. DR. Tema Adiputra Harefa dan moderator diskusi Ir. Albert Siagian, M.M., keduanya anggota pengurus FORKOM NARWASTU. Sambutan di awal acara disampaikan John S.E. Panggabean dan Jonro I. Munthe, S.Sos (Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi NARWASTU). Doa pembuka dipanjatkan Pdt. DR. Solider Siringoringo, dan doa penutup oleh Fredrik J. Pinakunary, S.H., S.E. 

       Pembicara di acara diskusi ini, Febry Tetelepta, S.Th, M.H. (Mantan Deputi V Kantor Staf Presiden RI dan kini Ahli Utama di Kantor Staf Presiden RI serta Ketua Umum Pengurus Nasional Perkumpulan Senior GMKI) dan Prof. Marten Napang. Sedangkan Hermawi Taslim, S.H. (Wakil Sekjen Partai NasDem dan mantan Wakil Direktur Hukum dan Advokasi Tim Kampanye Nasional Jokowi-Maaruf serta Ketua Umum Forkoma PMKRI) yang tadinya akan ikut bicara, berhalangan hadir karena sakit. Inilah diskusi FORKOM NARWASTU sebelum mengakhiri tahun 2019. Dalam paparannya di awal, Prof. Marten Napang menerangkan, di akhir tahun 2019 yang sering menjadi perbincangan di tengah masyarakat adalah, penegakan hukum yang terkait dengan rasa keadilan di tengah masyarakat. Selain itu, pemilihan pimpinan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang agak beda dari tahun-tahun sebelumnya. Juga yang tak kalah menarik adalah rencana pemindahan ibukota RI ke Kalimantan yang terkait dengan masalah politik, sosial dan hukum. Di samping itu, yang tak kalah menarik lagi adalah penempatan menteri di kabinet yang tujuannya untuk peningkatan kualitas menteri di era Presiden Jokowi.

     Menurut Prof. Marten Napang, kita masih berharap banyak kepada Pak Jokowi dalam memimpin bangsa ini agar semakin baik, makmur dan sejahtera. Karena Pak Jokowi itu orang yang sederhana dan baik, namun kita harapkan agar beliau terus antikorupsi dan prorakyat. Korupsi begitu luar biasa di tengah bangsa ini, dan itu perlu perhatian khusus. "Meskipun saya belum lolos sebagai pimpinan KPK, namun saya puas karena bisa masuk dalam sebuah proses seleksi itu," ucapnya. Dikatakannya lagi, sekarang melawan koruptor di negeri ini tak gampang, karena koruptor itu uangnya banyak dan punya pengaruh terhadap kekuasaan. Berbicara tentang radikalisme yang sering mengancam di negeri ini, kata Prof. Marten Napang, pada saatnya ancaman radikalisme akan antiklimaks, karena bahaya radikalisme itu justru bisa menimbulkan solidaritas kebangsaan kita. Juga dengan adanya 4 pilar kebangsaan, bangsa kita terus berupaya bersatu, dan semua umat beragama terus berdoa bagi kebaikan bangsa ini. "Pengaruh media sosial juga luar biasa bagi bangsa ini, namun kita harus hadapi segala macam ancaman intoleransi dan radikalisme dengan kebersamaan dan nilai-nilai Pancasila. Dan kita harus optimis di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ke depan," terangnya.

       Sedangkan Febry Tetelepta dalam paparannya menjelaskan, pada periode pertama pemerintahannya Jokowi mengutamakan ketenangan dalam kehidupan masyarakat dan bangsa. Jadi dengan dipilihnya KH Maruf Amin sebagai wapres agar ada ketenangan di masyarakat, dan bukan Prof. Mahfud M.D. yang dipilih sebagai wapres. Pak Jokowi memilih Menteri Pendidikan anak muda, Menteri Agama seorang ahli strategi, Mendagri seorang jenderal polisi dan Moeldoko tetap di Kantor Staf Presiden RI, itu semua punya alasan dan sudah dipertimbangkan.

    Di tengah bangsa ini, katanya, di tahun-tahun lalu kita merasakan ada ancaman perpecahan yang luar biasa. Tapi kita bersyukur kepada Tuhan karena presiden kita seorang yang sederhana dan tidak korupsi. Karenanya, banyak orang yang tidak bisa menjatuhkannya dari kursi presiden. Dan Jokowi itu punya kelebihan, yakni kejujuran dan ketulusan, sehingga jenderal-jenderal seperti Luhut Panjaitan, Wiranto dan Prabowo Soebianto pun bisa dirangkulnya. Dan dia pun tak bisa "ditekan", termasuk oleh "Teuku Umar." 

      Pak Jokowi, imbuhnya, tahu persoalan yang dihadapi bangsa ini, sehingga demo 212 pun bisa dihadapinya dengan baik. Dan di periode pertama penerintahannya memang yang diutamakan pembangunan infrastruktur. Dan di periode kedua akan dibangun sumber daya manusia (SDM), pendidikan, reformasi hukum, dan reformasi birokrasi. Dan yang diutamakan lagi adalah ketahanan pangan, dan ketahanan energi. Sehingga perlu keamanan dan ketenangan di tengah bangsa ini. Dan kita ingin Indonesia tidak terpecah-belah, seperti Rusia. "Dan sudah 70 tahun bangsa ini tetap utuh dan tidak pecah, itu karena anugerah Tuhan. Sehingga di tengah bangsa ini kita jangan hanya jadi penonton, tapi harus ikut mendukung pemerintah atau pemimpin yang baik, seperti Pak Jokowi. Presiden kita ini bisa memanage koalisi yang besar ini, dan dia pemimpin yang baik dan tulus. Dan Jokowi seorang pemimpin yang semakin matang memimpin bangsa yang besar ini. Dan beliau tahu kapan harus menghentikan pendukungnya dan kapan harus menghidupkan pendukungnya. Pak Jokowi adalah tukang kayu yang bisa jadi pemimpin di tengah bangsa kita. Dan ini memberi harapan bahwa anak petani pun kelak bisa jadi pemimpin di tengah bangsa ini. Tantangan bangsa kita ke depan tidak gampang, sehingga kita harus dukung pemimpin yang baik, tulus, jujur dan bisa memberi harapan," pungkasnya. HJ

Berita Terkait