FORKOM NARWASTU: Membuat Tokoh Bernilai

Hojot Marluga, jurnalis, penulis dan motivator. 520 dibaca
Hojot Marluga

Tak ada seorang pun di dunia yang tak ingin dianggap penting. Hanya masalahnya, bagaimana membuat orang lain merasa penting. Ada caranya. Jelas, dibutuhkan kemampuan khusus sebagaimana digunakan Pemimpin Umum/Pemred NARWASTU, Bang Jonro I. Munthe di majalah yang ia pimpin. Selepas 12 kali majalah NARWASTU memberi apresiasi sebagai penghargaan, penghormatan pada 21 Tokoh Kristiani versi NARWASTU yang digelar mulai sejak tahun 2008 lalu (kalau dikatakan Kristiani berarti Katolik dan Protestan). Tentu, sudah berjibun tokoh Kristiani, baik dari gelung Protestan maupun Katolik. Dan boleh jadi cara yang demikian efektif meredam perbedaan dogmatis, merajuknya menjadi kebersamaan.

Artinya, sudah ada paling tidak 200-an tokoh yang telah di-applaus NARWASTU. Jelas potensi yang besar. Namun disadari, puluhan tahun ini memang tak ada jembatan yang bisa mempertemukan mereka, menghimpun potensi para tokoh tersebut. Kita tahu bersama, para tokoh itu dipilih tentu berdasarkan lintas profesi dan generasi, sudah pasti ada kelebihan mereka dari orang rata-rata. Besar kemungkinan para tokoh itu tak saling mengenal satu sama lain. Maka di sinilah perlu ada wadah sebagai ruang untuk saling mengenal, mereaktualisasi sosok mereka. Inilah kelebihan dari media, bisa mem-branding sosok. Teknik menaikkan pamor dari seseorang, sekaligus menjadi lokomotif, mediator. Di sini pulalah perlu ada wadah untuk mengangkat, mencitrakan.

Wadah itu menjadi ajang komunikasi antartokoh Kristiani. Sudah tentu menjadi hal yang menarik, bagaimana kemudian tokoh itu setelah mendapat penghargaan. Tentu, mereka, para tokoh ini dihargai karena kualitas dan capaian mereka di bidang yang digeluti selama ini. Atas dasar itulah, Pembina/Penasihat NARWASTU yang setia, Pdt. DR. Nus Reimas menyampaikan niat atau gagasan itu ke beberapa tokoh, dan gayung pun bersambut. Lalu Jonro I. Munthe, pemimpin  NARWASTU merealisir ide itu dengan mengumpulkan para tokoh tersebut setelah melalui beberapa kali diskusi.

 Nan kemudian melalui beberapa pertemuan disepakatilah sebuah forum yang dinamai Forum Komunikasi (FORKOM) NARWASTU sebagai wadah para tokoh Kristiani pilihan majalah ini. FORKOM NARWASTU sebagai ruang persamaian, mencari bibit-bibit calon pemimpin kelak. Betapa tidak di sanalah ruang berdiskusi, menggodok pemikiran-pemikiran yang bernas.

 

Orang Bernilai

Maka tentu, harapan kita ke depan, mereka yang telah mendapat penghargaan itu, juga saling bersinergi dengan tokoh lain yang telah mendapat penghargaan sama. Berkontribusi untuk menyumbangkan pemikirannya, agar bisa menularkan mindset dan pola pikir yang berkualitas. Idealnya, kerjasama, saling menopang dan saling memberi pemikiran sebagai contoh sinergi berbobot. Gotong royong membangun kemaslahatan bersama. Menggotong sendiri lebih berat, royong bersama lebih mudah. Agar darinya terpicu lagi orang-orang muda untuk mengikuti jejak para tokoh itu. Oleh dasar itu pula, selama ini, tiap tahunnya tokoh-tokoh itu yang sebelumnya belum ada wadah mereka, dibuat wadah. Saya kira, alas pikiran itulah muncul FORKOM NARWASTU, sebagai ajang untuk membangun silaturahmi antartokoh.

Membuat orang lain penting, itu amat genting. Sebagai makhluk sosial, diperhatikan atau diapresiasi adalah salah satu kebutuhan manusia. Sudah tentu saling membutuhkan satu sama lain perlu. Namun dalam berinteraksi dengan sesama, ada beberapa hal yang mesti dimiliki, sesuatu yang menyenangkan, dinilai dan dihargai. Sudah menjadi hal umum, kalau kita merasa dibutuhkan dan diberikan penghargaan, terlepas dari peran apapun yang kita lakukan, sekecil apapun peranan yang dibuat, itu amat menyemangati.

Saya kira gagasan FORKOM NARWASTU memahami juga sifat manusia yang paling umum itu dibuat penting atau dianggap bernilai. “Jika orang lain sudah mendapat penghargaan dari kita, dia juga akan membuat penting orang yang telah membuatnya penting.” Tetapi cukupkah demikian? Perlu ada titian bagi sosok-sosok yang bernilai itu. Kiatnya, tentu memiliki relasi yang baik dalam membangun hubungan, dengan memberikan kesempatan mereka berkontribusi. Itulah yang saya kira dilakukan Majalah NARWASTU. Di FORKOM itu mereka berkontribusi. Dan, jangan lupa dampak alamiahnya, promosi gratis untuk mengangkat Majalah NARWASTU  makin lebih tarap.

Alih-alih membuat orang penting, itu elementer. Membuat orang lain merasa diri mereka diistimewa, diberi privilege. Kenyataan, semua orang memiliki hajat-keinginan, dianggap bernilai. Sudah merupakan hukum alam, semakin kita membuat orang lain penting, semakin besar tanggapan mereka pada kita. Bagi saya, ke depan, FORKOM NARWASTU ini merupakan cara terbaik untuk membangun jembatan komunitas antartokoh. Tentu, harapan kita, semoga sarana itu untuk menggodok tokoh-tokoh yang makin berkualitas. Akhirnya, semoga FORKOM NARWASTU sukses senantiasa dalam membangun forum ini. Dan tentu, bisa betul-betul diandalkan. Bahkan, ke depan dapat juga menjaring tokoh-tokoh yang loyal terhadap kekristenan. Semoga!

 

Berita Terkait