FUKRI Gelar Ibadah Syukur 500 Tahun Reformasi

241 dibaca
Ketua Umum PGI saat menyampaikan sambutan.

BERITANARWASTU.COM. Forum Umat Kristiani Indonesia (FUKRI) menggelar “Ibadah dan Doa Syukur 500 Tahun Reformasi” di Gedung GBI Mawar Saron, Jalan Kelapa Hybrida Timur, Kelapa Ibading, Jakarta Utara, pada Selasa, 7 November 2017 lalu. Sekitar 200 orang warga gereja dari berbagai denominasi mengikuti kegiatan yang berjalan penuh hikmat itu. Pokok-pokok doa yang disampaikan dalam ibadah ini, meliputi kurangnya kasih, kebencian dan dendam, tuduhan palsu, diskriminasi, penganiayaan, komunikasi yang rusak, intoleransi, ekstremisme agama, perpecahan, penyalahgunaan kekuasaan, pemisahan, dan kesombongan.

Hal menarik, setiap pokok doa itu ditulis pada steroform dan dibawa oleh perwakilan aras gereja, perempuan, dan pemuda, yang kemudian disusun menjadi satu bangunan gereja. Dalam sambutannya, Ketua Umum PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia), Pdt. Dr. Henriette Hutabarat-Lebang menegaskan, bahwa 500 Tahun Reformasi adalah peristiwa yang menyakitkan karena dalam prosesnya menyebabkan luka di hati dan akhirnya menimbulkan perpecahan. “Maka ketika kita merayakannya, kita diajak untuk melekatkan satu dengan yang lain. Melakukan pertobatan dalam setiap kehidupan pribadi juga dalam kehidupan gereja,” katanya.

Lebih jauh Ketua Umum PGI menjelaskan, satu dokumen penting dalam sejarah abad 21, yaitu “Dari Konflik ke Rekonsiliasi”, yang setelah melalui percakapan panjang akhirnya di-launching saat dimulainya peringatan 500 Tahun Reformasi di Lund, Swedia, di mana Paus Fransiskus turut hadir. “Kalau mau perdamaian, maka kita harus mengaku dosa satu dengan yang lain. Paus dalam doanya mengajak kita untuk mempromosikan perdamaian,” jelasnya.

 

Suasana ibadah dan doa syukur 500 Tahun Reformasi. 

 

Hal senada disampaikan Dirjen Bimas Kristen RI, Prof. Dr. Thomas Pentury, M.Si. Perayaan 500 Tahun Reformasi, menurutnya,  sebagai momentum untuk menyembuhkan luka-luka yang ada. “Kini tugas gereja adalah membangun wawasan oikoumenis, membangun etika, dan membangun serta menghargai nilai-nilai kemajemukan,” tandas Prof. Thomas.

Mengutip 1 Korintus 15:58, Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta di Indonesia (PGPI),  Pdt. DR. Jacob Nahuway, M.A. dalam khotbahnya mengajak umat untuk berdiri teguh, dan kembali kepada Alkitab, seperti yang ditegaskan oleh Martin Luther, dalam menghadapi semua persoalan. “Gereja sekarang sering diperhadapkan kepada perpecahan, karena perbedaan dogma dan tafsiran. Sebab itu, biarlah kita kembali kepada Alkitab untuk menyelesaikannya,” ujar Jacob.

Jacob juga menegaskan, sudah saatnya kita menghilangkan sekat-sekat organisasi, denominasi, dan lainnya untuk mewujudkan kesatuan gereja. PGPI selaku tuan rumah, pada saat yang sama melaksanakan Rapat Kerja Nasional Akbar tahun 2017. KT

Berita Terkait