GAMKI Selenggarakan Dies Natalis Ke-56 di Jakarta

262 dibaca
Suasana acara dies natalis ke-56 GAMKI bersama kaum muda di Jakarta.

BERITANARWASTU.COM. Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) menyelenggarakan ulang tahun ke-56. Dan GAMKI lahir pada 23 April 1962 silam. Dalam sambutannya Ketua Umum DPP GAMKI, Michael Wattimena, M.M., mengatakan, GAMKI harus bersinergi dalam membangun bangsa, terlebih membangun generasi muda. Peringatan dies natalis ini, selain dirayakan dengan ibadah syukur dan upacara, panitia yang dikoordinir oleh Ketua Bidang Investasi DPP GAMKI, Rovel Ayal, mengatakan, GAMKI juga mengadakan diskusi yang membahas fenomena generasi milenial. Diskusinya bertajuk "Generasi Muda Kristen Dalam Era Milenial", dan pembicara Ary Widiatmoko, S.E. (Praktisi fintech), Pdt. Sapta B.U. Siagian, S.Th., M.Min., M.Th (Wakil Ketua Umum BPP PERWAMKI, rohaniwan, dan alumni LEMHANNAS), dan Michael Wattimena, dan moderator Ketua Bidang OKK DPP GAMKI, Dikson Siringo-ringo.

Ary Widiatmoko yang juga mantan Ketua GMKI Cabang Depok, dan lulusan FE UI, banyak mengupas berbagai data pencapaian berbagai perubahan/perkembangan sebagai dampak dari keberadaan teknologi saat ini.

Perkembangan dunia saat ini, ujarnya, diwarnai dengan keberadaan artificial intelligence (kecerdasan buatan), yang hingga saat ini teknologi AI tersebut banyak dimanfaatkan untuk teknologi militer. Beberapa belas tahun lalu, tak banyak yang mengetahui tentang suatu perangkat teknologi yang disebut Drone, tapi kini sudah banyak yang memanfaatkan. Selain AI, perkembangan teknologi memunculkan yang dinamakan Big Data. “Siapa yang menguasai Big Data, maka dia menguasai dunia,” tegas Ary.

Data pencapaian bisnis yang diperoleh sejumlah perusahaan yang memanfaatkan Big Data, seperti Go Jek, diperkirakan memiliki kekayaan sekitar Rp 46 triliun, dan kekayaan Garuda Indonesia Rp 32 triliun. Padahal Garuda perusahaan penerbangan yang memiliki banyak pesawat. Contoh lain, Tokopedia dan Traveloka. Traveloka diperkirakan total transaksi dalam satu bulan sekitar  Rp 200 miliar. Ari dalam paparannya menggambarkan era milenial memberi peluang terhadap peningkatan bisnis, berbagai usaha dan kelompok usaha telah terbukti mampu meraih untung jauh lebih besar dengan memanfaatkan teknologi era milenial, di antaranya media sosial dan fintech (financial technology). "Sekarang kita banyak melakukan bimtek, bimbingan teknis, seharusnya kita banyak melakukan fintech," pungkas Ary.

Sementara Pdt. Sapta Siagian membahas fenomena generasi milenial dan hubungannya dengan gereja.  Perkembangan teknologi saat ini, katanya, banyak diwarnai dengan teknologi digital dan IT. Perkembangan teknologi tersebut mempunyai dampak positif dan negatif. Dampak positif di antaranya era informasi yang membawa perubahan besar dalam kehidupan, kemudian ada kemudahan sehari-hari. Ada dampak negatif, di antaranya kemudahan mengakses situs negatif, seperti situs porno, berbagai kemudahan transaksi perdagangan narkoba, prostitusi online, gerakan radikalisme yang mudah dipelajari melalui media sosial, ujaran kebencian, dan lain sebagainya.

"Persoalan kritis sekarang bagi kita, generasi muda Kristen di era milenial telah banyak yang  meninggalkan gereja," ungkapnya. Lebih lanjut Pdt. Sapta mengatakan, "Pengalaman dan pengamatan saya selama ini sebagai hamba Tuhan, kebaktian pemuda sekalipun ada dilakukan, tetapi hanya diikuti sekitar 10-20 persen dari jumlah keseluruhan pemuda yang ada di gereja. Banyak generasi muda Kristen sudah ‘nyaman’ dengan gadget. Kebutuhan generasi muda era milenial, banyak tidak terpenuhi oleh gereja, hal ini dikarenakan adanya perbedaan/gap generasi. Selain itu, faktor lain yang mendorong generasi milenial jarang ke gereja, karena tidak sedikit sikap majelis gereja yang bersifat feodal, terkesan majelis adalah paling benar dari generasi muda."

Persoalan serius yang akan dihadapi gereja di era milenial ini, kata Pdt. Sapta, adalah ‘hilangnya’ generasi milenial dari gereja. Hal itu dikarenakan gereja masih belum mampu memenuhi kebutuhan generasi milenial. Diskusi yang dimulai sekitar jam 6 sore ini, dilanjutkan dengan ibadah syukur yang dilayani oleh Pdt. Nus M. Liur, M.Th yang menyampaikan khotbah dari Mazmur 101 ayat 1-3, berbunyi, “Aku hendak menyanyikan kasih setia dan hukum, aku hendak bermazmur bagi-Mu ya Tuhan. Aku hendak memperhatikan hidup yang tidak bercela: Bilakah Engkau datang kepadaku? Aku hendak hidup dalam ketulusan hatiku di dalam rumahku. Tiada kutaruh di depan mataku perkara dursila, perbuatan murtad aku benci, itu takkan melekat padaku.”

Perayaan dies natalis GAMKI ke-56 ini dihadiri pula oleh senior GAMKI, seperti Amir L. Sirait,  Sahat Sinaga, Dating Palembangan, dan ratusan mahasiswa teologi, serta pemuda gereja. Acara ini dimeriahkan  iringan musik Gerson Band, dan kesaksian pujian dari VG Bersinar yang beranggotakan senior-senior GMKI, yang dikoordinir oleh Desye Lumbaa. TG

Berita Terkait