Pdt. DR. Japarlin Marbun
Gembala Sinode GBI dan Mantan Sekretaris Umum PGPI

1880 dibaca
Pdt. DR. Japarlin Marbun

Beritanarwastu.com. Sinode GBI (Gereja Bethel Indonesia) pada 28-31 Oktober 2014 lalu, telah sukses mengadakan Sidang Sinode GBI 2014 di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat. Acara itu diadakan dengan tema “Menuai Bersama Dalam Kasih” dan sub tema “Meningkatkan Kualitas Penuai dan Tuaian untuk Menuju GBI yang lebih Baik.” Di acara itu tercatat pula sejarah, karena Pdt. DR. Japarlin Marbun berhasil terpilih menjadi Ketua Umum Sinode GBI menggantikan Pdt. Jacob Nahuway, M.A.

Pdt. Ir. Suyapto Tandyawasesa, M.Th yang merupakan salah satu tokoh senior GBI dan kini dipercaya sebagai Bendahara Umum BPH GBI saat berbicara seputar Sidang Sinode GBI 2014 lalu itu, menuturkan, terpilihnya Pdt. Japarlin Marbun adalah karena anugerah Tuhan. “Tuhan yang memilih Pdt. Japarlin Marbun untuk memimpin GBI ke depan,” pungkasnya. Dan, katanya, kita harapkan ke depan di bawah kepemimpinan Pdt. Japarlin tugas-tugas pelayanan di GBI bisa berjalan lancar, damai sejahtera dan disertai Tuhan Yesus sebagai Kepala Gereja.

                Menurut Pdt. Suyapto yang juga mantan Bendahara Umum Pengurus Pusat PGLII (Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia) dan pernah salah satu Ketua DPP PIKI (Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia), kita pun mengharapkan supaya di Sinode GBI terus muncul pemimpin gerejawi yang hidupnya  berdasarkan Firman Tuhan. “Jadi apapun yang dikerjakan pemimpin GBI harus sesuai dengan yang Tuhan inginkan. Pemimpin gerejawi itu, terutama di GBI, tentu ia harus seorang gembala atau pemimpin berintegritas tinggi, pemimpin yang bisa menjadi bapa bagi semua Hamba Tuhan dan jemaat GBI. Ia jangan sektarian, harus mampu mengayomi dan bisa menjadi pelopor di dalam kegerakan gerejawi secara nasional,” ujar pria 66 tahun ini.

                Aktivis gerakan oikoumene yang juga Gembala Sidang GBI Victoria Park, Kota Tangerang, Banten, serta pendiri dan Ketua Forum Komunikasi Kristiani Jakarta (FKKJ) ini menambahkan, kalau melihat dari sisi kriteria, maka pemimpin GBI harus bisa merangkul semua elemen yang ada di GBI. “Karena GBI terdiri dari gereja-gereja lokal yang otonom, dan bukan sentralistik. GBI punya satu azas atau doktrin yang sama, dan itu dicerminkan di dalam pengakuan iman GBI. Urusan pemerintah atau keluar, misalnya, GBI itu adalah satu,” cetus pria yang sejak mahasiswa dikenal cerdas dan aktif berorganisasi ini.

                Dan ke dalam, katanya, GBI boleh mengatur sistem penggembalaannya sesuai kondisi dan situasi jemaat yang dipimpin. Dalam hal ini, baik pimpinan daerah maupun pusat tidak bisa mengintervensi. “Makanya seorang Ketua Umum GBI harus yang mampu mengayomi, dan harus mampu menjadi bapak dari semua Hamba Tuhan. Dalam arti, pimpinan atau ketua umum sinode itu wajib seorang pemimpin yang mampu mendidik, melatih, mengembangkan kegiatan pelayanan, menumbuhkan pendalaman Firman Tuhan dan memberi arahan untuk menumbuhkan manajemen pelayanan,” tegas pendiri dan Penasihat PSMTI (Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia), Sekjen FORDEKA (Forum Demokrasi Kebangsaan) dan Direktur Utama PT. Albeta Sukses Mandiri ini.

                 Pdt. Suyapto Tandyawasesa yang juga salah satu tokoh yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2012 Pilihan NARWASTU” ini, pernah maju sebagai caleg DPR-RI. Meskipun belum berhasil, namun ia tak pernah lelah untuk terus memperjuangkan hak-hak warga gereja agar bisa mendapat kebebasan beribadah seperti agama lainnya. “Sifat kebapaan itu sangat penting bagi seorang pemimpin gerejawi, agar setiap Hamba Tuhan yang melayani di GBI merasa terayomi. Kalau kepemimpinan yang otoriter sangat tidak cocok di GBI. Kita tidak bisa memimpin GBI seperti memimpin gereja lokal. GBI punya ciri khas dalam model pelayanannya sendiri,” ujarnya. Menurutnya, figur Pdt. Japarlin Marbun adalah seorang gembala yang berpikir makro, mampu mengakomodir kepentingan banyak pihak dan punya cita-cita melakukan perubahan yang lebih baik di organisasi gereja.

                “Ketika Pdt. Japarlin Marbun tampil sebagai calon Ketua Umum PGLII di awal 2015 lalu, itu karena ada banyak yang mendukungnya untuk maju sebagai pemimpin. Dan ketika belum terpilih, itu adalah bagian dari dinamika berorganisasi. Dan Pdt. Japarlin Marbun bukan seorang pemimpin yang ambisius, namun dia berpikir luas dan berpikir makro. Dan banyak hal yang bisa dilakukannya dalam membangun organisasi gereja agar semakin maju dan modern,” kata Pdt. Suyapto, mantan Bendahara Umum DPP Parkindo (Partisipasi Kristen Kristen Indonesia) di era Sabam Sirait, dan bekas Bendahara Umum PGI (2000-2005) itu.  

                 Kepada NARWASTU, Pdt. Japarlin Marbun sebelum terpilih jadi Ketua Umum Sinode GBI pernah menerangkan, kalau Tuhan mengizinkan dia memimpin Sinode GBI dan didukung para Hamba Tuhan di GBI, maka ia akan membangun program “MANTAP.” MANTAP, yakni MANdiri atau otonom. Agar bisa mandiri, imbuhnya, maka gembala-gembala lokal yang ada di GBI perlu dikembangkan dalam hal sumber daya manusia agar mampu memberikan pelayanan yang lebih baik kepada anggota jemaat. “T: Tertib. Jadi ke depan kita perlu membangun sistem yang baik agar segala sesuatunya tertib. A: Ayomi. Artinya, semua pejabat di GBI agar diayomi, dan jangan ada yang merasa ‘roh yatim piatu’ agar ia bisa melayani,” papar mantan salah satu Ketua Sinode GBI ini.

Mantan Sekretaris Umum PGPI (Persekutuan Gereja-gereja Pentakosta Indonesia) dan kini Wakil Ketua Umum BAMAG (Badan Musyawarah Antargereja) Nasional menambahkan, “P: Profesional. Jadi perlu ada pola rekruitmen dan pelayanan yang baik dan profesional agar bisa menjalankan tugas-tugasnya dengan terampil dan baik. Dalam hal kemandirian, bantuan-bantuan ke daerah dikonsolidasikan agar gereja-gereja kecil berdaya. Kalau Tuhan kehendaki saya akan melakukan program MANTAP itu,” kata Ketua Umum Persekutuan Sekolah Alkitab dan Teologia Pentakosta Indonesia, Gembala Sidang di tiga jemaat GBI di DKI Jakarta dan Bekasi dan salah satu deklarator FUKRI (Forum Umat Kristiani Indonesia) ini.

Ketika terpilih menjadi Ketua Umum Sinode GBI pada Oktober 2014 lalu, Pdt. Japarlin saat mengadakan jumpa pers dengan sejumlah jurnalis, ia pun mengakui bahwa peran media itu sangat penting di dalam kehidupan pelayanan dan gereja. Itu sebabnya, Pdt. Japarlin mengapresiasi peran jurnalis Kristen, yang menurutnya, punya peran signifikan di dalam memajukan kehidupan bergereja, bermasyarakat dan berbangsa. Ia pun dikenal dekat dengan jurnalis Kristen.

Berita Terkait