Y. Deddy A. Madong, S.H., M.A.
Gereja Harus Peduli dan Melayani Kaum Muda yang Kelak Jadi Pemimpin di Negeri ini

494 dibaca
Y. Deddy A. Madong, S.H., M.A. dan keluarga tercinta.

        BERITANARWASTU.COM. Pada tanggal 3 sampai 6 Oktober 2017 lalu, Sinode Gereja Kristen Perjanjian Baru (GKPB) Masa Depan Cerah (MDC) menggelar pertemuan untuk para pemimpin dan gembala (Leads) GKPB MDC seluruh Indonesia 2017 dengan tajuk “Great Calling" di MDC Hall lantai 26 Wisma 76, Jakarta Barat. Acara yang diadakan dengan diikuti 200-an aktivis gereja dan gembala di GKPB ini, selain dihadiri gembala dari seluruh Indonesia, juga dihadiri oleh gembala GKPB MDC dari Amerika Serikat dan Singapura. Ketua Panitia acara ini adalah tokoh Kristiani yang juga Ketua Komisi Pelayanan Masyarakat dan Advokasi Hukum Majelis Pusat Sinode GKPB MDC, Y. Deddy A. Madong, S.H., M.A.

Deddy Madong yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2013 dan 2014 Pilihan Majalah NARWASTU” dikenal pula advokat/pengacara senior dan pengurus Dewan Pengurus Nasional (DPN) PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia), Sekjen ELHAM (Lembaga Advokasi Hukum dan Hak Azasi Manusia) dan Ketua III Persekutuan Gereja-gereja dan Lembaga Injili Indonesia (PGLII). Kepada Majalah NARWASTU, Deddy Madong yang juga mantan Ketua Umum PGLII Wilayah DKI Jakarta menerangkan tema Great Calling ini artinya, panggilan agung bagi gerejaNyaA.

Terutama, katanya, bagaimana sikap gereja terhadap masalah bangsa ini, khususnya salah satu yang disoroti saat ini adalah peranan generasi milenial atau generasi muda, terutama kaum muda Kristen. Pemimpin gereja atau gereja-gereja harus berperan dalam mendorong generasi muda agar ikut berperan di dalam mengabarkan Injil di tengah masyarakat. Bagaimana kita menyiapkan generasi muda agar menjadi garam, dan terang di tengah bangsa ini, itu mesti dipikirkan,” pungkas Deddy sebagai salah satu inisiator program Rajawali Injili Indonesia dari PGLII.

Rajawali Injili Indonesia adalah program yang sedang disiapkan Pengurus Pusat PGLII untuk mempersiapkan generasi muda Kristen sebagai calon pemimpin bangsa ini, punya integritas, berwawasan kebangsaan, berjiwa nasionalis dan berkarakter Kristus. “Dan pendidikan latihan (diklat) Rajawali Injili Indonesia ini semacam LEMHANNAS bagi pemuda di gereja. PGLII yang menginisiasi ini. Dan kami bekerjasama dengan Dinas Bimbingan Mental TNI Angkatan Darat dan Kementerian Pertahanan RI dalam hal bela negara,” ujar aktivis HAM yang dikenal cerdas dan vokal ini.

Menurut Deddy Madong di acara Leads dengan tema Great Calling 2017 ini, mereka memasukkan agenda revisi AD/ART, sehingga ini seperti mubes khusus yang dihadiri para pemilik suara di GKPB MDC. “Sedangkan Mubes GKPB sendiri diadakan sekali empat tahun,” ujarnya. Tema yang dibuat ini, ujarnya, mengingatkan kembali mengenai panggilan tertinggi kita, Tuhan memberikan kepercayaan atau privelege pada kita bahwa kita harus menjadi garam dan terang bagi sesama. “Gereja ikut sebagai penentu dan punya tanggung jawab besar di negara ini, sehingga kita harus mengambil peran, termasuk berdoa dan berbuat sesuatu yang baik agar menjadi berkat,” cetusnya.

Gereja-gereja di Indonesia, dalam menyikapi keadaaan di negeri ini, baik persoalan terorisme, radikalisme, persekusi, kebebasan beribadah, hoax dan masalah sosial politik, kata Deddy Madong, gereja mesti proaktif, bukan reaktif.  “Kita harus ikut menggarami, menginspirasi dan mengilhami bangsa ini. Jadi acara ini juga membekali para gembala agar mendapat informasi yang baik dan benar tentang persoalan bangsa dan negara ini. Kita pun mendukung Perpu Ormas yang dikeluarkan Presiden RI Joko Widodo, karena itu demi kepentingan masa depan bangsa ini,” tegasnya.

Menurut Deddy Madong, di tengah bangsa ini kita sebagai gereja dipanggil menjadi berkat untuk memberitakan kabar baik. Dan panggilan kita adalah menyebarkan berita Injil. “Bagi kami kaum Injili, tiada hari tanpa menginjil dan memuridkan. Itulah panggilan kaum Injili,” terangnya. Terkait dengan peran para pemimpin gereja, Deddy Madong mengharapkan, supaya para pemimpin gereja mendorong kaum muda untuk terus semangat dalam melayani Tuhan dan mempersiapkan diri mereka agar kelak menjadi pemimpin di tengah bangsa ini. Kaum muda harus bisa dan siap menjadi berkat di negeri ini,” cetusnya.

Pemerintah, kata Deddy, pun harus peka dengan keberadaan generasi milenial ini. “Roh Kudus pasti  bekerja untuk generasi muda bangsa ini, terutama kaum muda Kristen. Bangsa ini mesti kita lihat secara holistik. Kelak yang tampil jadi pemimpin di negeri ini adalah pemuda, sehingga harus benar-benar keberadaan mereka diperhatikan. Di Hari Sumpah Pemuda 2017 ini ada rencana Komisi Pemuda PGLII untuk mengadakan ‘Sinergi Fest 2017'  ajak kesatuan bagi anak-anak muda Kristen yang di dalamnya ada kegiatan kreatif, aktivitas olahraga dan musik. Kita berharap supaya anak-anak muda Kristen yang ada di DKI Jakarta dan berasal dari berbagai gereja bisa ikut di acara ini. Mereka juga perlu kenal PGLII, mereka inilah yang akan mengambil tongkat estafet dari pemimpin pemimpin sebelumnya, dan rencananya acara ini diadakan pada 28-29 Oktober di STC Senayan, Jakarta,” terangnya.

 

Suasana acara “Great Calling 2017” di Jakarta.

 

Deddy Madong menambahkan, gereja terus harus menunjukkan concern-nya kepada anak-anak muda. Selain itu, diklat Rajawali Injili Indonesia akan diadakan lagi pada November 2017 ini atau awal tahun 2018 mendatang. “Melalui diklat Rajawali Injili Indonesia itu, kita ingin mempersiapkan generasi muda gereja yang berkarakter Kristus, berjiwa nasionalis, berwawasan kebangsaan yang mau membela Pancasila,negara dan bangsanya. Diklat Rajawali Injili Indonesia ini semacam Sekolah Leadership Pemuda Antar Gereja, yang kebetulan inisiatornya dari PGLII. Ini salah satu cara kita untuk memikirkan masa depan anak-anak muda Kristen. Kita jangan tutup mata pada persoalan media sosial (medsos) misalnya yang kini menjadi keseharian anak-anak muda. Kita harus tahu itu, dan harus diberi perhatian banyak kepada anak-anak muda bagaimana bijaksana dalam menggunakan medsos tersebut,” paparnya.

Deddy Madong menambahkan, FORKOM NARWASTU (Forum Komunikasi Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan Majalah NARWASTU) yang selama ini sudah begitu baik dalam menjalankan programnya, dan peduli pada persoalan gereja dan bangsa, harus juga memberikan perhatian pada persoalan anak-anak muda. “FORKOM NARWASTU pun harus bisa mengumpulkan anak-anak muda. Kalau tokoh-tokoh senior, kan, sudah bisa dikumpulkan, lalu diberi pencerdasan. Sekarang tantangannya, bagaimana agar anak-anak muda Kristen atau tokoh-tokoh muda bisa dikumpulkan FORKOM NARWASTU. Media seperti NARWASTU adalah salah satu pilar dan punya pengaruh dahsyat, sehingga harus bisa berbuat sesuatu bagi anak-anak muda,” terangnya.

“Majalah NARWASTU selama ini sudah mampu menunjukkan peran signifikan dalam melahirkan tokoh Kristen, maka ke depan NARWASTU kita harapkan bisa mulai mengangkat tokoh-tokoh muda gereja. Jangan tokoh-tokoh senior terus yang ditampilkan NARWASTU. Saya amat yakin NARWASTU bisa menuntun anak-anak muda kalau mereka diangkat  melalui pemikiran-pemikiran atau visi dan misi mereka. Selama ini NARWASTU, kan, giat mencermati persoalan gereja. Dan persoalan anak-anak muda pun harus bisa diangkat, lalu buat semacam diskusi atau seminar yang membicarakan kepedulian atau pelayanan mereka dalam mengabarkan Injil atau menjalankan Amanat Agung itu,” paparnya.

Dalam kesempatan itu, Deddy Madong yang selama ini giat mencermati kiprah tokoh-tokoh Kristen di tingkat nasional, seperti kiprah Ahok, ketika ditanya NARWASTU pendapatnya soal mantan Gubernur DKI Jakarta itu, ia mengatakan, “Kita harapkan agar Ahok (Ir. Basuki Tjahaya Purnama, M.M.) tetap semangat dan penuh dengan kasih Tuhan, walaupun di dalam tahanan. Saya malah mendengar Pak Ahok tetap tidak turun semangatnya untuk melayani Tuhan walaupun ditahan. Kita terus berdoa agar apa yang dialami Ahok menjadi inspirasi bagi kaum muda kita. Kisah Ahok, Yusuf dan Daniel di Alkitab dapat menjadi inspirasi kaum muda untuk mempunyai integritas dan iman yang teguh, sekalipun tantangan yang dihadapinya berat. Ahok itu sudah menjadi role model bagi generasi muda bangsa ini,” paparnya.

Untuk pemimpin atau Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang baru, Deddy Madong berharap, agar pemimpin baru diharapkan sukses menjalankan tugasnya sesuai yang mereka janjikan kepada rakyat. “Masa depan rakyat di DKI Jakarta bukan di tangan manusia, tapi di tangan Tuhan, sehingga kita harus terus berdoa bagi pemimpin DKI Jakarta agar mereka diberikan hikmat dan bijaksana di dalam memimpin DKI Jakarta. Gereja harus proaktif dan jangan reaktif. Dan gereja juga harus semakin tekun berdoa untuk para pemimpin bangsa ini, apalagi tahun 2018 ada event Pilkada serentak, dan tahun 2019 ada Pemilu atau Pemilihan Presiden RI. Kita mesti banyak berdoa untuk bangsa ini. Dan Tuhan pasti mendengar doa kita,” paparnya. 

Berbicara tentang lahirnya UKP-PIP (Unit Kerja Presiden Pembinaan Ideologi Pancasila) oleh Presiden RI, Joko Widodo, Deddy Madong menuturkan, kelahiran lembaga ini bagus sekali. Karena kita diingatkan tentang pentingnya ideologi Pancasila bagi bangsa ini. “Apa yang di cetuskan Presiden RI Joko Widodo ini, bagus sekali. Presiden kita ini luar biasa dan visioner, dan sudah memikirkan jauh ke depan tentang nasib bangsa ini dengan membentuk UKP-PIP. Saya bukan kampanye soal Pak Jokowi, namun memang beliau pekerja keras. Meskipun dikritik sana sini dan sering dihantam, beliau terus bekerja untuk kepentingan rakyat,” ujarnya.

Ia menambahkan, kehadiran UKP-PIP yang di dalamnya ada tokoh-tokoh bangsa yang Pancasilais, kiranya bisa mewujudkan cita-cita pendiri bangsaa ini. “Pancasila adalah jiwa, roh dan spirit dari bangsa Indonesia, sehingga Pancasila harus dijaga. Kita berharap agar Dr. Yudi Latief dan kawan-kawan yang ada di UKP-PIP juga memperhatikan peran anak-anak muda atau generasi milenial ini yang harus didekati agar semakin tahu tentang kehebatan Pancasila. Pancasila harus kita jaga di tengah bangsa ini,” tegasnya. KT

 

Berita Terkait