Pdt. Dr. Albertus Patty.
Gereja Menyikapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2016

820 dibaca
Pdt. Dr. Albertus Patty.

Perlu Pertumbuhan Spiritualitas, Intelektualitas, Emosional dan Sosial

 Beritanarwastu.com. Di tahun 2016 ini Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah di depan mata, dan Indonesia sebagai salah satu negara di Asia Tenggara akan ikut di dalamnya. Apa yang dimaksud dengan MEA? MEA merupakan satu pasar tunggal di kawasan Asia Tenggara, bertujuan untuk meningkatkan investasi asing di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang juga telah membuka arus perdagangan barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara di Asia Tenggara.

Perjalanan ASEAN menuju MEA didahului dengan berbagai tahapan dan perundingan, dimulai dengan terbentuknya ASEAN itu sendiri pada tahun 1967 silam. Selanjutnya tahun 1977 ASEAN Preferential Trading Arrangement digelontorkan dan pemikiran modernisasi politik dan globalisasi di antara negara-negara ASEAN diinisiasi dalam ASEAN Free Trade Area (AFTA) tahun 1992, yang diikuti ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) dan pada akhirnya bermuara pada MEA.

Kerjasama ini dilakukan untuk menjadikan kawasan ASEAN menjadi tempat produksi yang kompetitif,  sehingga produk ASEAN memiliki daya saing kuat di pasar global dan menarik lebih banyak investassi asing serta meningkatkan perdagangan antarnegara-negara ASEAN itu sendiri. Semangat terbentuknya MEA sesungguhnya tertuang dalam roadmap kajian strategi ASEAN, di antaranya adalah liberalisasi perdagangan,  yaitu penghapusan tarif bea masuk di internal ASEAN dan mitra dagangnya, fasilitas perdagangan dan investasi berkaitan dengan ASEAN and National Singel Window Initiatives dan Invesment Improvement of Invesment Climate, harmonisasi kebijakan dalam integrasi ekomoni dan pemerataan pembangunan serta reformasi ekonomi dalam hal persaingan usaha.

Setiap negara di ASEAN memiliki kepentingan dan tujuan yang sama, perlu menciptakan sebuah wadah atau badan di mana mereka saling berusaha untuk mewujudkan tujuan tujuan tersebut. Dan hal inilah yang menjadi sebab adanya tujuan dari sebuah organisasi. Tujuan dicerminkan oleh sasaran yang harus dilakukan baik dalam jangka pendek, maupun jangka panjang. MEA bertujuan untuk meningkatkan stabilitas perekonomian di kawasan ASEAN, membentuk kawasan ekonomi antarnegara ASEAN yang kuat.

Terciptanya kawasan pasar bebas ASEAN merupakan tantangan tersendiri bagi pelaku usaha di negara ASEAN. Persaingan produk dan jasa antarnegara ASEAN akan diuji. MEA memiliki peranan yang sangat potensial untuk mendekatkan kesenjangan ekonomi di antara anggota ASEAN itu sendiri dalam pertumbuhan perekonomian, sehingga mampu meningkatkan ketergantungan masing-asming anggota ASEAN. MEA dapat mengembangkan konsep meta-nasional dalam rantai suplai makanan, dan menghasilkan blok perdagangan tunggal yang dapat menangani dan bernegosiasi dengan eksportir dan importir non-ASEAN.

Selain itu, akan meningkatkan partisipasi negara-negara di kawasan Asia Tenggara pada jaringan pasokan global melalui pengembangan paket bantuan teknis kepada negara-negara ASEAN yang kurang berkembang. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan kemampuan industri dan produktivitas, sehingga tidak hanya terjadi peningkatan partisipasi mereka pada skala regional, namun juga memunuculkan inisiatif untuk terintegrasi secara global. Pergeseran dan perubahan ini telah mendorong era baru dalam membangun kehidupan ekonomi, sosial, politik dan budaya masyarakat ASEAN.

Parhimpunan Simatupang, dalam diskusi yang digelar oleh Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) baru-baru ini di Jakarta menegaskan, bagi Indonesia, MEA akan menjadi kesempatan yang baik karena hambatan perdagangan akan cenderung berkurang, bahkan menjadi tdiak ada. Hal tersebut akan berdampak pada peningkatan ekspor yang pada akhirnya akan meningkatkan GDP Indonesia. “Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan keunggulan skala ekonomi dalam negeri sebagai basis memperoleh keuntungan dengan memaksimalkan keunggulan comparative produk dan sumber dayanya,” jelas Parhimpunan.

Dia melanjutkan, kesiapan Indonesia dalam kompetisi MEA dapat dilihat dari perbandingan aspek pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan ekspor nasional serta pendapatan perkapita nasional masyarakat Indonesia. Kesiapan Indonesia jika dilihat dari aspek pertumbuhan ekonomi yang dilansir oleh IMF pada tahun 2015, disebutkan bahwa dalam 10 tahun terakhir pertumbuhan ekonomi Indonesia relatif stabil dengan indeks pertumbuhan 1,5 persen.

Sedangkan pada sisi aliran modal dan penanaman investasi kondisi ini dapat menciptakan iklim yang mendukung masuknya investasi asing langsung yang dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi melalui perkembangan teknologi, penciptaan lapangan kerja, pengembangan sumber daya manusia dan akses yang lebih mudah kepada pasar dunia. “Sementara dari aspek ketenagakerjaan, terdapat kesempatan yang sangat besar bagi para pencari kerja karena dapat banyak tersedia lapangan kerja dengan berbagai kebutuhan akan keahlian yang beranekaragam. Selain itu, akses untuk pergi ke luar negeri dalam rangka mencari pekerjaan menjadi lebih mudah, bahkan bisa jadi tanpa hambatan tertentu,” paparnya.

Lalu bagaimana sikap gereja di Indonesia terhadap MEA yang tampaknya memberikan peluang dan kesempatan besar dalam rangka perkembangan dan kemajuan bangsa?  Salah satu Ketua PGI dari Sinode GKI (Gereja Kristen Indonesia), Pdt. Dr. Albertus Patty, di Sidang MPL (Majelis Pekerja Lengkap) PGI (Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia) 2016 yang berlangsung di Parapat, Sumatera Utara, beberapa waktu lalu menuturkan, MEA memperhadapkan kita pada persaingan ekonomi yang makin kuat dan ketat. Sebab itu, dalam dunia yang kompetitif ini kita membutuhkan human capital yang tangguh. Spiritualitas keugaharian yang memampukan kita untuk mengambil jarak dan berpikir rasional mengingatkan kita untuk mempersiapkan human capital yang cerdas bagi pertumbuhan ekonomi bangsa. Akses pendidikan yang berkualitas harus menjangkau segala lapisan masyarakat, terutama di daerah-daerah yang tertinggal.

“Gereja sendiri harus mempersiapkan strategi dan kebijakan yang memberikan pertumbuhan yang holistik bagi umatnya, yaitu pertumbuhan spiritualitas, intelektualitas, emosional dan pertumbuhan sosial. Peningkatan human capital menjadi prasyarat bagi kemandirian dan pemberdayaan masyarakat. Tetapi peningkatan human capital hanya terjadi bila ada perbaikan infrastruktur yang merata dan menyeluruh, terutama di daerah Indonesia Timur,” jelasnya.

Lebih jauh Pdt. Albertus menjelaskan, pertumbuhan ekonomi selalu membuka kesempatan bagi investor luar negeri. Memang kita membutuhkan investor luar, tetapi kita juga harus mempersiapkan perangkat peraturan agar kekuatan kapitalis yang dahsyat ini tidak melanggar batas yang berakibat hancurnya daya saing pengusaha kecil bangsa kita sendiri. Ia harus menjaga kelestarian alam raya dan segala kekayaan hayati yang ada di dalamnya. Pemerintah juga bertanggungjawab untuk menjaga martabat dan hak asazi penduduk lokal yang selama berabad-abad hidup berdampingan dengan alam raya.

“Gereja harus menyuarakan suara kenabian, bukan saja bagi kebaikan manusia, termasuk masyarakat lokal, tetapi juga bagi kebaikan segala mahluk dan bagi alam raya, bukan saja bagi kebaikan generasi manusia masa kini, tetapi juga bagi kebaikan generasi manusia mendatang. Keadilan dan perdamaian harus dinikmati bukan saja oleh manusia, tetapi juga oleh sebagala mahluk dan alam raya. Dari sekarang ini kita harus tahu batas. Kita harus mawas diri,” tegasnya.

Ketidaksiapan gereja menghadapi MEA juga dipaparkan Pdt. Dr. Jerry Rumahlatu. Sehingga, menurut mantan Rektor STT Jafray, Jakarta, ini akan berdampak luar biasa. “Contohnya nanti akan ada pertukaran mimbar yang diambil alih oleh  luar negeri, karena sumber daya gereja itu tidak difokuskan atau dilihat sudah cukup, padahal tidak. Maka ini harus mendapat perhatian dari para pemimpin gereja. Harus ada pembaharuan secara individual maupun gereja,” tukasnya. Selain itu, ia menegaskan pemberdayaan jemaat perlu digiatkan melalui pelatihan-pelatihan agar jemaat tidak tergerus oleh MEA. KS 

Berita Terkait