Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S.
Gereja Mesti Bersatu Melawan Ilmu Santet

945 dibaca


Beritanarwastu.com. Begu ganjang itu sama dengan santet. Ciri-ciri orang yang bisa diduga punya santet atau berhubungan dengan begu ganjang di daerah Sumatera Utara (Sumut), pertama, keluarga itu hidup menyendiri, dan tidak bergaul dengan masyarakat dari kaum adat dan komunitas agama. Kedua, pekerjaannya tak jelas, apakah bertani, pedagang atau buruh, sehingga tingkah lakunya selalu dicurigai tetangga. Keempat, orang makin curiga saat ada orangtua atau anak-anak yang meninggal mendadak secara berturut-turut. Kelima, yang bersangkutan tidak peduli saat terjadi kemalangan seperti yang meninggal tadi.

Demikian diungkapkan Dr. H.P. Panggabean, S.H., M.S., pakar hukum dan tokoh masyarakat tentang kasus begu ganjang yang sekarang cukup menyita perhatian di Sumut. Menurut mantan Hakim Agung RI ini, ia sudah tiga kali menangani kasus begu ganjang, dan menurutnya, perlu hati-hati dan bijak menangani kasus supranatural ini. “Memang aneh kalau kita dengar ada anak-anak yang tadinya sangat sehat, lalu meninggal. Kemudian disusul oleh orangtua. Pasti, kan di sini ada kuasa setan,” ujar Ketua Umum DPP Kerukunan Masyarakat Batak (KERABAT) yang juga penasihat kaum muda di HKBP Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, ini.

Ketua Umum DPP Jaringan Layanan Damai ini menerangkan, pertama, pada 1986 ia menangani kasus begu ganjang di Simasom, Pahae, Tapanuli Utara. Orang yang diduga memiliki santet, saat itu, rumahnya diamuk massa, tapi pemiliknya kabur dan selamat. “Diduga yang bersangkutan memiliki ilmu hitam, lalu membuat beberapa orang kampung meninggal. Kemudiaan massa bergerak merusak rumahnya. Tapi polisi menahan para perusak rumah tersebut. Ada pula perusak rumah itu marga Panggabean, akhirnya saya turun tangan dengan pendekatan budaya, lalu berbicara dengan tokoh-tokoh adat untuk menyelesaikannya,” ujarnya.

Kedua, pada 1987-1988 Panggabean menangani kasus serupa di Rantau Parapat (Sumut). “Ternyata pemicunya seorang dukun yang menuding seorang marga Sitinjak memelihara begu ganjang. Mereka mengeroyok Sitinjak ini, karena mereka takut jadi korbannya. Ketiga, pada 2001 di Pekan Baru ada kejadian serupa, dan mengakibatkan dua orang mati. Massa melempari orang itu sampai mati dengan batu, mereka tak mau menyentuhnya, karena yang bersangkutan dianggap sakti. Orang takut bersentuhan dengan orang yang diduga punya ilmu hitam, karena dianggap berbahaya,” terangnya.

Menurut H.P. Panggabean, kasus santet tak akan berhenti di negeri ini, karena, pertama, kaum rohaniwan, apakah pendeta atau pastur tidak mampu melakukan pencegahan. “Polisi saja takut kepada orang yang diduga memelihara begu ganjang. Jam tujuh malam lewat dari rumahnya, polisi tak berani. Di Sumut banyak gereja berdiri, ada HKBP, Pentakosta, GBI dan lain-lain, tapi mereka tak mau bersatu untuk mencegah ini. Mestinya para rohaniwan tuntas menyelesaikannya,” ucapnya.

Kedua, wibawa pemerintah, apakah lurah, camat dan polisi patut dipertanyakan. “Ketika muncul isu santet, pendekatan yang dilakukan sering melalui senjata atau pendekatan keamanan. Pendekatannya mirip dibuat seperti kepada massa yang mengamuk di arena pilkada, karena jagoannya kalah. Seharusnya ada dialog dengan tokoh-tokoh adat atau tokoh masyarakat, serta lakukan pendekatan persuasif. Ketiga, para pemuka adat di desa lebih sering mengurusi orang-orang mati, dan yang kawin, tak memikirkan aspek hukum. Sehingga gampang terprovokasi ketika ada isu santet, apalagi kalau ada dukun yang membumbu-bumbui dengan kata-kata seram,” terangnya.

Lantas, apakah sebenarnya ada santet? H.P. Panggabean menjawab, santet itu ada. “Di KUHP ada ancaman hukuman untuk tukang santet. Santet akan terus ada selagi iman atau kepercayaan warga masyarakat masih belum dewasa. Saya melihat ada sekarang dukun atau orang pintar yang dipercayai, pertama, dukun hitam, seperti santet, dan kedua, dukun putih, seperti paranormal. Bukan rahasia umum lagi, sekarang banyak pejabat yang suka datang ke Gunung Dieng, Gunung Kawi, Gunung Busuk Buhit dan makam-makam orang terkenal untuk meminta agar jabatannya naik dan aman. Itu mereka yakini  dukun putih. Termasuk jelangkung yang pernah ramai tahun 1950-an di Indonesia, itu katanya dukun putih,” ujarnya.

Panggabean menambahkan, bahkan di Inggris yang notabene sudah negara maju masih percaya juga soal jelangkung. “Saya pernah ke London. Ternyata di belakang sebuah katedral ada makam orang-orang kudus yang dijaga aparat negara 24 jam. Ternyata di sana masih banyak orang yang percaya pada permainan jelangkung untuk menanyakan masa depan atau nasibnya. Nah, makam tadi dijaga 24 jam agar jangan dipakai untuk permainan jelangkung. Jadi kuasa-kuasa kegelapan masih dipercaya orang-orang tertentu. Sehingga gereja-gereja perlu bersatu dan membina iman jemaat agar berani melawan kuasa iblis dengan imannya,” tuturnya.

Menurut Panggabean, halusinasi bisa pula tergolong santet, “Karena bisa membuat mobil hilang, borgol yang kuat tiba-tiba lepas, tidak mempan ditikam dan tidak mempan ditembak. Dari sisi ajaran agama, kan ini sesuatu yang aneh. Hanya saja, saya mau sampaikan bahwa orang-orang yang berhubungan dengan dukun hitam atau dukun putih pasti kelak meminta tumbal. Misalnya, anaknya tiba-tiba mati dengan misterius, orangnya sakit-sakitan dan usahanya bangkrut. Karenanya, sebagai orang Kristen kita harus lebih percaya kepada Tuhan kita Yesus Kristus,” paparnya. NU

Berita Terkait