Hamba Tuhan yang Melayani di Market Place

1254 dibaca
Pdt. R.T. Lukas Kacaribu, S.Sos, S.H., M.M. Nasionalis, religius dan visioner.

            BERITANARWASTU.COM.  Jika Tuhan sudah membuka pintu tak ada satupun yang dapat menutupnya.Demikianlah perjalanan hidup seorang perantau asal Tanah Karo, Sumatera Utara (Sumut), Pdt. R.T. Lukas Kacaribu, S.Sos., S.H., M.M. Sejak kecil sudah “bergulat” dengan kerasnya hidup, sadar terlahir dari keluarga miskin, maka tidak ada pilihan selain bekerja keras untuk mendapatkan uang jajan, dan biaya sekolah. Lukas kecil dididik orang tua untuk menjadi “petarung” dalam hidup.

                Jadwal kerja yang padat menjadi makanannya sehari-hari sejak kanak-kanak. Selain jaga “kede” (warung), sebagai petani menanam padi, kacang panjang, pepaya, sekaligus beternak babi sudah jadwal rutinnya di luar kegiatan sekolah. Namun di hati kecilnya Lukas memiliki cita-cita yang tinggi, ingin menjadi jenderal, karena melihat kerabatnya seorang jenderal, namun Lukas gagal saat Pantukhir di AKABRI.

 

Kerja Kerasnya dimulai dari Kondektur Bus

Mendengar kabar banyak saudara yang sukses di Jakarta, keinginan untuk sukses di ibukota pun begitu menggebu. Di Jakartalah kehidupan Lukas ditempa, Tuhan membawa Lukas Kacaribu seperti kehidupan Yusuf. Yusuf diberi mimpi yang besar oleh Tuhan, menjadi pemimpin, namun untuk meraih mimpi itu, dibutuhkan komponen waktu. Tuhan membutuhkan waktu dan proses untuk menempa seseorang, sampai waktunya Tuhan yang menyatakan lulus dalam proses kehidupan, dan siap menerima janji Tuhan.

              Tepatnya tahun 1994, setamat SMA di Medan, pria berpenampilan tenang ini lantas merantau ke Jakarta. Tiba di Jakarta lowongan kerja yang ada di depan mata menjadi kondektur bus Pasar Minggu-Depok, semua itu ditekuninya dengan passion tanpa mengeluh, karena dia tahu suatu saat Tuhan yang akan mempromosikannya.  Suatu ketika ada seseorang yang melemparkan brosur sebuah kampus, setelah dibaca dan dihitung-hitung biaya kuliah, rasanya pendapatan sebagai kondektur dan pinjam uang dulu ke teman sesama supir dan kondektur rasanya sanggup membiayai kuliah.

            Mulailah Lukas mendaftarkan diri di Fakultas Komunikasi Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Rekan-rekan mahasiswa mengenalnya sebagai “mahasiswa kondektur”, semua diktat dan catatan kuliah dia simpan rapi di dalam laci bus, bahkan tidurpun setiap malam di dalam bus. Selain itu, Tuhan memiliki maksud mengapa ia hidup di terminal kala itu.

           Ternyata Tuhan mengasihi teman-teman supir dan kondektur, ia dikirimNya untuk melayani sejumlah sopir dan kondektur di terminal tempatnya mangkal untuk membuat persekutuan doa khusus supir dan kondektur. Ada beberapa temannya supir dan kondektur bertobat dan menerima Tuhan Yesus, bahkan ada beberapa yang “lari” dari kampung dengan berbagai macam masalah, bisa kembali ke kampung dan dipulihkan. Ada satu supir yang lari ke Jakarta, karena sesuatu hal. Kemudian bertobat dan mengaku pulang ke kampung, tapi dia bertobat, dan sebagai tanda kasihnya dia menamai anaknya yang lahir Lukas.

          Menurutnya, siapapun bisa dipakai Tuhan menyatakan Injil, termasuk seorang kondektur di terminal. “Saya hanyalah alat Tuhan untuk melayani teman-teman sopir dan kondekur di terminal,” pungkasnya. Lepas dari kondektur Tuhan menggembleng Lukas di sebuah perusahaan asuransi Belanda, ING. Di sanalah dia meniti karier sebagai office boy (OB). “Sebagai OB, saya berangkat jam lima pagi dari Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

        “Tugas saya kirim faks, memfotokopi, buatin teh, kopi, susu, membersihkkan kantor, dan seabrek tugas lainnya. Pokoknya, berangkat paling pagi untuk membuka pintu kantor, pulang paling belakangan untuk mengunci pintu Kantor” ujarnya mengilas balik.

         Selama menjadi OB, Lukas muda memanfaatkan semua dokumen yang lewat tangannya untuk difotokopi sebagai bahan bacaan. “Saya suka baca. Semua sales pasti datang ke saya minta tolong fotokopi. Sebelum dikopi, saya baca semua. Begitu juga seorang underwriter membuat produk, saya baca semua. Terus ada juga orang akunting, dokumennya ada piutang, ada tagihan. Ada pula dokumen finance, bagaimana cara pembukuan itu. Semua saya baca,” urai ayah dua anak ini.

           Selain mendapatkan pengetahuan, hasil dari membaca itu juga memupuk jiwa dagangnya. “Pada saat jadi OB, saya bisa jual asuransi dalam bentuk dolar. Sampai saya bisa mendapat komisi US$ 1.500 pada tahun 1998. Klien saya hanya dua, salah satunya orang Amerika,” ungkap Lukas bangga. 

            Tanpa sepengetahuan orang tuanya, Ia memanfaatkan waktu Sabtu dan Minggu selepas bekerja untuk menempuh pendidikan di kampus tersebut.  Ketika lulus, orang tuanya pun terkaget-kaget, karena sepengetahuan mereka Lukas hanyalah kondektur bus di ibukota.

Menghabiskan waktu 9 tahun di ING dari office boy sampai posisi terakhir Asistent GA Manager, Lukas lalu pindah haluan ke perusahaan transportasi sebagai general manager. Tak lama di bidang ini, ia kemudian menceburkan diri ke lembaga swadaya masyarakat (LSM). Setelah itu ia loncat lagi ke Grup PT. Dexa Medica yang bergerak di bidang farmasi. Di sini ia kembali mengurusi bagian umum seluruh Indonesia. Sebagai orang GA, ia terlibat langsung dalam pengurusaan segala macam urusan perusahaan, termasuk membantu mendukung tenaga pemasaran. Tiga tahun kemudian Lukas Kacaribu pindah ke perusahaan farmasi laon dengan jabatan HRD Manager yang mengurusi semua kegiatan HRD.

Ketika proses rekrutmen, “Mereka presentasi ke hadapan saya. Jadi, saya mendapat pelajaran lagi tentang marketing, IT, dan lain-lain. Lalu, setiap ada pembukaan cabang di daerah, bos selalu melibatkan saya,” ujar Sarjana Hukum ini. Di sinilah ia mendapatkan pelajaran tentang pemasaran, manajemen, dan dunia obat-obatan, termasuk herbal.

 

Menerapkan Manajemen Kasih

Puas menjadi karyawan dengan berbagai pengalaman di beberapa perusahaan, akhirnya Lukas berkeinginan untuk berwiraswasta. Lagi-lagi Tuhan menuntunnya bertemu dengan beberapa orang pengusaha herbal yang kemudian sepakat untuk berbisnis bersama. “Saya pun keluar dari zona nyaman. Saya tinggalkan posisi manajer, karena ingin punya usaha sendiri,” tuturnya dengan bersemangat. Keputusannya itu tidak salah. Perusahaannya ternyata cepat berkembang.

Saat ini ia membawahi enam perusahaan yang antara lain bergerak di bidang pupuk, herbal, dan kosmetik. Dua pekan lalu, ia tengah mengawali pemasaran produk herbal berbahan baku mengkudu dan semangka yang diberi nama HASEDA Noni. Motto perusahaannya, Strive for Excellent (berjuang ke arah lebih baik). Dalam mengelola perusahaan, ia mencampurkan gaya manajemen Eropa, Amerika, dan Tiongkok plus manajemen kasih.

Aktivitas penting perusahaan tak selalu dilakukannya secara formal di ruangan dengan jadwal dan agenda yang ketat. Tak jarang pimpinan mengadakan rapat di rest area, lapangan bola, mobil, bahkan di trotoar. Selain itu, “Kita memberi kepercayaan kepada karyawan, dan itu yang membuat kami berinovasi terus menerus,” kata pemegang gelar Magister Manajemen  ini.

Perjalanan perusahaan tak selalu mulus. Tak jarang Lukas kena tipu sehingga di benaknya timbul prinsip, “Teman, iya teman, curiga jalan terus.” Karena itu, ia terdorong untuk melanjutkan pendidikan hukumnya ke jenjang S2 di Universitas Padjadjaran, Bandung. “Kenapa saya kuliah lagi Hukum Perdata? Supaya saya nggak tertipu lagi. Dan kini saya jadi lawyer,” tegasnya.

Kesibukannya yang bejibun tak membuat Lukas menomorduakan keluarga. “Buat saya keluarga nomor satu. Nomor dua pekerjaan, ketiga pelayanan di gereja, dan kehidupan sosial,” ulas lelaki yang memegang prinsip hidup tulus bagai merpati dan cerdik bagai ular ini. Setiap Kamis malam atau Jumat, ia upayakan sudah sampai di rumah. Bersama keluarga dan pelayanan. Saya juga masih bisa atur waktu lebih fleksibel, karena sudah punya usaha sendiri. Jadi, menurut saya, nggak ada artinya punya ini punya itu tetapi keluarga berantakan,” tuntas Lukas.

              Melalui perjalanan hidup yang berliku-liku, di usia 42 tahun ini, Lukas Kacaribu mulai mencicipi buah manis kerja kerasnya selama ini. Kini Lukas Kacaribu tercatat sebagai inovator pupuk untuk pertanian dan formulator obat-obatan dari bahan herbal juga seorang Hamba Tuhan yang giat melayani dan menggembalakan di Gereja Kristen Kudus Indonesia (GKKI) Jemaat Manna 2 Bandung. Apa yang kita raih dan terima semua adalah anugerah Tuhan,  sehingga hidup kita pun harus dipakai untuk memuliakan nama Tuhan,” ujar Ketua IV Majelis Pusat Sinode GKKI dan Sekretaris DPD API (Asosiasi Pendeta Indonesia) Jawa Barat ini.

 

Sejak Kecil Hobi Membaca

Sejak kecil Lukas sudah giat menyimak sajian media massa. Setiap hari ia membaca surat kabar di kedai kopi dekat rumah. Tak heran, kalau ia pun aktif mencermati persoalan di masyarakat, termasuk masalah hukum dan politik. Itu pula yang mendorongnya untuk kuliah lagi mengambil ilmu hukum, sehingga ia meraih gelar Sarjana Hukum. Dan kini setelah ditabalkan menjadi advokat/pengacara oleh DPN PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia) ia kembali menekuni S2 ilmu hukum di Universitas Padjajaran. “Selagi masih ada kesempatan, dan saya masih muda, saya akan menekuni ilmu hukum. Ilmu hukum dibutuhkan banyak orang,” paparnya.

              Menjadi seorang advokat atau pengacara, kata Lukas, tidak hanya untuk membela hal-hal yang dirugikan atau tertindas, namun masyarakat perlu diberikan pencerahan hukum agar tahu hak dan kewajibannya sebagai warga negara di Indonesia. “Pengacara atau advokat harus banyak membaca, Oleh sebab itu, saya melahap banyak buku, media cetak, seperti Kompas, Pikiran Rakyat, juga Majalah NARWASTU dan portal beritanarwastu.com. Membaca media itu sangat penting,” ujar Lukas yang juga pendiri Forum Bhinneka Tunggal Ika Indonesia (FBTII).

             Lukas yang merupakan mantan Relawan Jokowi-JK di Pilpres 2014 lewat sosial media, menerangkan, peran media massa di tengah masyarakat dan bangsa luar biasa dahsyat. “Saya pernah menonton sebuah film James Bond, dan digambarkan bahwa media massa itu ternyata bisa menghancurkan sebuah bangsa. Dalam realitas hidup sehari-hari media massapun tak hanya sumber informasi, kontrol sosial dan pembentuk opini publik, tapi bisa pula membuat masyarakat jadi antisosial. Jadi pemimpin media massa itu sesungguhnya orang-orang luar biasa dan berpengaruh,” ujar Lukas yang pernah kuliah di STT Theologia The Way dan Universitas Tarumanegara, Jakarta.

 

Lukas yang termasuk dalam “21 Tokoh Kristiani 2014 Pilihan Majalah NARWASTU” kemudian mencontohkan Majalah NARWASTU. Menurutnya, meskipun NARWASTU media massa dalam lingkungan Kristiani, ternyata luar biasa perannya, dan beredar dibaca tokoh-tokoh nasional. “NARWASTU mampu menghimpun tokoh-tokoh dari berbagai latar belakang, baik dari parpol, gereja maupun mantan-mantan pejabat tinggi serta jenderal purnawirawan. Itu bukan hal yang mudah, ini karya Roh Kudus. Saya yakin Tuhan memakai Pemimpin Umum/Pemred NARWASTU, Bang Jonro I. Munthe untuk mempertemukan para tokoh yang tergabung di Forum Komunikasi (FORKOM) Tokoh-tokoh Kristiani Pilihan NARWASTU lewat majalah ini,” ujarnya.

              Pasca Pilpres 2014 lalu, Lukas pernah mengadakan kerjasama dengan Majalah NARWASTU untuk mengadakan diskusi plus ibadah untuk mensyukuri HUT ke-69 RI dan mensyukuri Pilpres 2014 yang berjalan dengan damai, lancar dan aman karena pertolongan Tuhan. Dan saat itu diadakan diskusi menyoal pemerintahan Indonesia ke depan agar peduli terhadap persoalan bangsa dan umat Kristen yang kerap mengalami masalah dalam hal beribadah.

                “Kita umat Kristen pun harus menguasai media agar informasi yang ada di luar bisa pula  diketahui dan disikapi.  Kalau media masih kecil masih belum berbahaya, namun kalau media itu sudah besar, nah amat berbahaya. Sehingga media pun harus dikendalikan orang-orang yang takut Tuhan,” ujarnya. Menurut Lukas, ia dapat mempercayai informasi dan berita yang disampaikan media massa, meskipun ia baru-baru ini sedikit kecewa dengan sebuah media nasional ternama, yang menurutnya, sudah berubah haluan, karena telah bersikap menghakimi dan tak lagi independen.

              “Ada 20 tahun media itu saya baca, sejak mahasiswa. Namun belakangan, saya kurang percaya lagi dengan informasinya. Karena banyak tulisan yang disajikan tidak berupaya mempersatukan, justru kerap menghakimi. Bagi saya, orang yang menguasai media massa harus kita rangkul, namun juga harus diingatkan bahwa publik mengawasi mereka, sehingga media mesti mencerdaskan. Karena orang yang membaca media massa itu terbentuk menjadi orang-orang yang cerdas dan  kritis, dan mereka menjadi tahu banyak soal informasi,” paparnya.

              Lukas yang memiliki hobi membaca buku-buku motivasi, buku kesehatan, sosial politik, hukum dan kemasyarakatan menerangkan, kalau seorang politisi, pengusaha, pengacara atau profesional ingin maju, maka ia harus banyak membaca atau dekat dengan media informasi. Ini adalah era informasi, siapa yang menguasai informasi, dialah yang menguasai dunia, maka dialah yang akan sukses. “Perhatikan saja, orang-orang yang bergaul dengan wartawan, apalagi dengan pemimpin media, wawasannya pasti lebih luas dan kemampuan analisanya pun berbeda dengan kebanyakan orang,” ujarnya.

                Buku-buku yang sering dibacanya antara lain karya Jhon Maxwell, James Gwee, Reynald Kasali, Jhon Bevere, Rick Warren, Paul G. Caram, Cindy Jacobs dan Sunday Adelaje, dll.Saya memang budgetkan untuk membeli buku setiap bulannya, itu salah satu investasi bagi saya. Buku-buku itu sangat bermanfaat sebagai sumber pengetahuan, dan menginspirasi,” cetusnya.

              “Namun dibandingkan dengan buku-buku lainnya, Firman Tuhanlah yang terpenting dalam kehidupan saya. Ketika kita membacanya sembari meresapi dan memperkatakannya, seperti kita sedang mengetuk pintu sorga dan menggerakkan kuasa Roh Kudus bekerja dalam hidup kita, dan itu powerfull. Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran akan Firman Tuhan. Kita tidak mungkin bisa bertahan hidup kalau tidak merenungkan Firman Tuhan,” paparnya.

                Kalau dilihat dari sisi rohani, kata Lukas, kehidupan kita ini sesungguhnya seperti perjalanan bangsa Israel keluar dari perbudakan di tanah Mesir menuju Tanah Perjanjian, yaitu tanah Kanaan, tempat berlimpah susu dan madu.Kita yang keluar dari perbudakan dosa yaitu cengkraman iblis dan berjalan bersama Tuhan menuju tempat yang Tuhan janjikan. Saat bangsa Israel dikejar-kejar tentara Raja Firaun dan berhadapan dengan Laut Tiberau, saat itu nyata sekali pertolongan Tuhan terhadap bangsa Israel. Tuhan membelah laut itu, sehingga bangsa Israel bisa lewat dan selamat, kemudian tentara Mesir tewas oleh gelombang laut yang dahsyat,” tukasnya.

               “Itu artinya, dalam kehidupan yang keras ini selalu ada pertolongan bagi yang mengandalkan Tuhan,” tukasnya. Saat bangsa Israel menuju Kanaan yang sering disebut sumber susu dan madu, banyak pengalaman yang dialami bangsa Israel saat itu. Namun luar biasanya Tuhan selalu menuntun, membimbing dan menolong umatNya dalam perjalanan tersebut. Waktu di Mara bangsa Israel menemui air pahit, namun diubah dengan kuasa Tuhan oleh Musa menjadi manis. Demikian juga kita di dalam kehidupan ini, akan ada kepahitan hidup yang kita hadapi, maka kita harus melibatkan Tuhan agar kehidupan kita manis,” paparnya.

               Tuhanpun memanggil bangsa Israel untuk naik ke bukit Sion, yaitu tempat kediaman Allah. Bukit Sion adalah tempat keselamatan. “Dalam kehidupan ini pun sesungguhnya kita menuju tempat keselamatan,” cetusnya.

“Dalam hidup ini tak ada yang terjadi kebetulan. Tuhan sudah membentuk kita saat belum lahir. Tuhan sudah merencanakan masa depan yang cerah bagi kita, dan tidak ada rencana Tuhan yang gagal. Yang penting kita setia, taat dan bertekun di dalam Tuhan,” terangnya. Semua kesuksesan, kegagalan, kesenangan dan penderitaan keduanya bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan. Segala yang pahit dan manis bekerja sama untuk mendatangkan kebaikan bagi hidup kita.

           Dalam hidup ini, katanya, “Kita butuh bimbingan Tuhan, rindukan dulu untuk bertemu dengan Tuhan. Roh Kudus akan turun dan membimbing orang yang selalu rindu kehadiranNya, cukup sederhana. Jadi kita harus dengan tenang berdoa dan membaca FirmanNya pada pagi hari. Maka di situ kita bisa merasakan kehadiranNya. Saat tenang itu, kita bisa menyampaikan apa pergumulan hidup kita dan apa kebutuhan kita, karena Dia Allah yang maha kasih akan mendengar doa-doa kita,” tukasnya.

              “Kalau saya mau memutuskan sesuatu yang sulit, biasanya saya berdoa dulu dan meminta pendapat istri saya. Karena istri pun diberikan hikmat dan kepekaan yang istimewa dari Tuhan sebagai pendamping dan penolong kita. Kalau yang disampaikan istri membuat saya damai sejahtera setelah berdoa, saya imani itu dari Tuhan. Doa itu kekuatan atau energi kita. Semua pergumulan saya ucapkan dengan doa dalam nama Yesus, maka saya tidak takut lagi,” papar pria kelahiran 17 Agustus 1974 ini.

           Ukuran sukses bagi setiap orang berbeda. Bagi Lukas Kacaribu, ukuran sukses berubah mengikuti perjalanan hidup. “Dulu waktu masih SD, kami tak punya radio. Saya dengar radio di rumah tetangga. Dalam benak saya, saya sukses kalau suatu saat bisa beli radio. Nah, tahun 1995, booming HP (ponsel) Nokia sejuta umat. Saya sukses kalau sudah pegang HP Nokia yang warna hijau itu. Bangganya minta ampun,” cerita lelaki asli Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, sembari tersenyum lebar.

            Kini, setelah hampir 25 tahun, ukuran sukses Lukas jelas beda. Ia ingin pensiun pada usia 50 tahun. “Tapi, pensiun itu bukan tak bekerja dan santai-santai. Bagi beberapa orang, umumnya kalau pensiun buat kandang ayam, bikin warung kecil-kecilan, begitu pensiun, malah mulai hidup capek. Kerinduan saya di usia pensiun uang tetap berputar buat saya, bukan saya yang mencari uang. Dan bisnis yang saya rintis ini bisa diturunkan ke generasi berikutnya. Dan saya bisa baktikan waktu dan hidup saya sepenuhnya melayani Tuhan dan orang lain,” papar Direktur PT. Pacific Sumatera Indonesia (SUMTECH ) ini, yang pabriknya berlokasi di Medan, Sumatera Utara, dan Bandung, Jawa Barat. TD

Berita Terkait