Pdt. Marudut Manalu, M.Th
Hamba Tuhan yang Tekun Mendoakan Orang Sakit

2647 dibaca
Pdt. Marudut Manalu, M.Th

Beritanarwastu.com. Tak pernah terbersit dalam pikiran atau benak pria Batak ini, kalau akhirnya ia akan dipanggil Tuhan menjadi hambaNya. Soalnya cita-citanya dulu adalah menjadi pengusaha sukses. Kelas 2 SMA, Pdt. Marudut Manalu, M.Th, telah meninggalkan kampung halamannya di Sumatera Utara (Sumut) menuju Jakarta. Tinggal bersama kerabatnya, ia tak sekadar ditempa mental dan jiwanya sebagai seorang perantau. Akan tetapi dari situlah mulai terjadi perubahan hidupnya, saat ia masuk ke STT (Sekolah Tinggi Teologi) Jakarta.

Dari STT Jakarta ia kemudian menjadi Hamba Tuhan, dan hingga kini ia merasakan ada kebahagiaan yang tak bisa dinilai dengan materi atau jabatan saat ia bisa menghibur, menguatkan iman jemaat dan mendoakan orang yang tawar hati, seperti pasien yang menderita sakit keras, seperti terserang kanker ganas di rumah sakit. Bagi sebagian orang, mendoakan pasien di rumah sakit mungkin saja dianggap pekerjaan yang membuang waktu atau membosankan.

Tapi, tidak bagi Pdt. Marudut Manalu, yang rela menyediakan waktu dan hatinya untuk mendengar keluh kesah orang sakit, lalu mendoakan pasien itu dari hatinya yang tulus. Pdt. Marudut sangat sadar bahwa Tuhan Yesus saat hadir melayani di dunia ini sangat peduli terhadap penderitaan orang sakit, sehingga ia pun terus tekun berdoa bagi banyak orang sakit. Dan buktinya, banyak pula orang sakit yang sembuh setelah doanya didengar Tuhan. Dan nama Tuhan pun dimuliakan. Bahkan, ada banyak pasien yang mengucapkan terima kasihnya atas doa-doa Pdt. Marudut setelah merasa sembuh.

 Ia sadar kesembuhan bukan hanya bertumpu pada obat atau tangan paramedis, akan tetapi juga dari dukungan orang sekitarnya, termasuk doa yang menguatkan jiwa pasien, yang dipanjatkan hamba-hambaNya kepada Tuhan. Pria yang sehari-harinya melayani di Rumah Sakit PGI Cikini, Jakarta Pusat, ini merasa bahwa pandangannya berubah saat bertemu dengan salah satu anggota jemaat dari Gereja Baptis. “Selama ini saya berpikir menjadi Kristen itu cukup hanya berperangai baik, jujur, bisa mengikuti peraturan dan hal baik lainnya, ternyata tidak,” ucapnya kepada NARWASTU saat ditemui di ruang kerjanya beberapa waktu lalu.

Pernyataan tersebut rupanya membuat pendeta lulusan STT Jakarta tahun 1976 ini, ingin mengabdikan hidupnya untuk melayani sesama sebagai perwujudan syukurnya kepada Tuhan lewat aktivitasnya, yakni mendoakan orang-orang sakit. Menurut bapak tiga anak ini, merupakan suatu kebahagiaan yang tiada tara kalau ia bisa bertemu jemaat, lalu mendoakan orang yang sangat susah, seperti bergumul dalam masalah financial, sakit penyakit, atau pasien yang akan meninggal dunia.

Biasanya Pdt. Marudut Manalu menanyakan kepada pasien yang dilayaninya soal pokok doa yang akan dipanjatkan.  “Jadi walaupun seorang pasien sudah kritis, mereka kerap bilang, didoakan agar sembuh. Biasanya saya ada doa diplomasi. Jadi doa dan permohonan kami agar dipulihkan, tapi Tuhan juga yang mengajarkan kepada kita bahwa hanya kehendakNya saja yang jadi,” katanya mencontohkan hal berdoa kepada orang atau pasien yang sakit kritis.

 Tugas pelayanan yang biasa dilakukan pendeta kelahiran Sionggang, Sumut, 3 September 1949 ini, adalah dengan cara bertatap muka dengan setiap pasien yang dianggapnya juga sebagai sebuah khotbah. “Pernah saya bertemu dengan seorang pendeta perempuan yang sedang sakit dan harus cuci darah. Lalu, saya bertanya apa yang menyebabkan ibu ini sampai sakit seperti itu. Jawabnya, karena ia sangat suka melayani tapi lupa memelihara kesehatan. Nah, bagi kami itu sudah khotbah yang besar, di mana ia sudah menyadari kekurangan dalam dirinya,” tukas mantan Koordinator Pelayanan Doa di Rumah Sakit PGI Cikini ini.

Penderitaan fisik atau sakit yang diderita seseorang, bukan semata-mata karena pola makan, gaya hidup, faktor keturunan atau virus, tapi bisa juga karena luka batin akibat menyimpan amarah atau dendam. “Percaya atau tidak, yang jelas dari hati itulah dapat timbul berbagai penyakit,” ujarnya. Suami dari Rospina Nadapdap ini, menceritakan, pernah ada seorang pasien (ibu) yang harus cuci darah, tapi wajahnya bersinar.

“Kemudian saya bertanya, inang (ibu) wajahmu tidak seperti kebanyakan pasien cuci darah lainnya yang kusam dan sedih. Karena biasanya begitulah kalau orang harus cuci darah. Ibu itu menjawab, saya terima saja penyakit ini dan mengucap syukur kepada Tuhan. Dalam training kami memang diajarkan bahwa di sana corak iman saya berbeda dengan ibu tersebut. Dan itu saya bantu bagaimana ‘bertemu’ Tuhan. Walaupun, Tuhan kita sama tapi pengalaman ‘bertemu’ Tuhan berbeda,” ucapnya bersaksi.

Menurut Pdt. Marudut Manalu tentang tawar hati, “Ada seorang ibu yang saya kunjungi lebih dari satu jam kami berbicara. Tentang penyakitnya kami hanya bicara selama 15 menit, sedangkan lainnya ia bercerita tentang pergumulan dengan anaknya. Jadi saya berpikir bahwa orang yang dirawat tak melulu karena penyakit yang disebabkan oleh virus dan lain sebagainya, tapi bisa pula karena pergumulan hidupnya.”

Harapan akan ada kesembuhan dialami setiap pasien adalah sesuatu yang sangat manusiawi. Hanya saja, katanya, terkadang kita lupa bahwa apapun keadaan atau sakit penyakit yang diderita setiap manusia adalah seizin Tuhan. Tapi Tuhan tak pernah merancangkan kecelakaan kepada setiap anak-anakNya, melainkan rancanganNya damai sejahtera.

“Hidup kita ini ada di tangan Tuhan. Jadi kalau misalnya saya harus mati besok, iya, sudah mati besok. Pada akhirnya Tuhan yang akan menentukan hidup saya. Tapi, bukan berarti saya jadi sembrono dalam hidup ini, tapi bagaimana saya memelihara kehidupan ini, sehingga saya bisa melayani orang dengan baik,” ucap mantan pelayan di Gereja HKBP Sudirman, Jakarta Pusat, yang dikenal setia, berintegritas dan makin bijaksana dalam menyikapi kehidupan ini

Berita Terkait