Harus Dihindari Penyakit Jantung Saat Usia Muda

683 dibaca


beritanarwastu.com. Ahli jantung Prof. Dr. dr. Budhi Setianto, Sp.JP (K) menerangkan, di usia di bawah 30 tahun sudah ada orang yang terkena serangan jantung. Padahal ada pendapat yang mengatakan, penyakit jantung sebelum usia 80 tahun adalah kesalahan kita, bukan kehendak Tuhan atau kehendak alam. Pendapat ini tentu bisa diperdebatkan.

Namun intinya, akibat gaya hidup yang salah, jantung pun seperti terabaikan. Akibatnya jantung yang merupakan organ yang hidup paling awal dan kemudian akan mati paling akhir, akan berhenti total.

Janin dikatakan hidup jika ada detak jantungnya. Jantung kerja tanpa henti setelah itu. Jika 80 tahun masa hidup seseorang, sepanjang itulah jantung bekerja tanpa bisa tergantikan. Tugasnya pun penting untuk memompa darah yang mengangkut makanan dan oksigen yang merupakan asupan terpenting seseorang hidup. Sehingga sudah seharusnya kita menyayangi jantung, katanya, baru-baru ini. Prof. Budhi menggambarkan kerja jantung pada tubuh. Kerja jantung jika digambarkan dalam satu hari membawa 70 cc x 80 (x/menit) x 60 menit x 24 jam= 8.064 liter.

Agar organ vital ini dapat bekerja dengan baik dan waktu yang lebih lama, kita harus memastikan agar jantung dapat bekerja optimal. Mengenai pendapat yang mengatakan, kena sakit jantung sebelum usia 80 tahun adalah kesalahan orang tersebut, menurutnya, karena banyak hal yang salah dilakukan orang tersebut yang membuat jantung menjadi tidak sehat. Beberapa faktor yang sebenarnya dapat diubah, seperti merokok, kencing manis, dislipidemia LDL (Low Density Lipoprotein atau dikenal sebagai kolesterol jahat) tinggi (lebih besar 130 mg/dl), dan HDL (High Density Lipoprotein atau kolesterol baik) rendah (kurang dari 35 mg/dl).

Faktor-faktor tersebut berhubungan dengan makanan yang dikonsumsi. Urusannya dengan mulut. Lewat mulut, imbuhnya, digunakan untuk menggali liang kuburnya sendiri. Namun ada juga faktor yang tidak bisa diubah sehingga seseorang perlu mewaspadai terkena sakit jantung. Di antaranya jika ada riwayat keluarga yang terkena serangan jantung, mati mendadak, serta stroke. Jika memang ada, pada pria yang berusia 45 tahun perlu mewaspadai risiko tersebut.

Sementara pada wanita 55 tahun, wanita memiliki risiko lebih kecil sebelum usia 55 tahun, karena di masa itu, wanita dilindungi hormon estrogen. Setelah menopause, hormon estrogen semakin berkurang. Sehingga perlindungan alami wanita akan penyakit jantung itu pun berangsur menurun. Dampaknya kemudian, risiko wanita yang menopause akan sama dengan pria. Untuk menghindari jantung koroner, syarat utama adalah memiliki pembuluh darah yang sehat dan tidak terjadi penyempitan. Faktor gaya hidup dan pola makan yang tidak sehat menjadi penyebab utama ketidakseimbangan kadarkolesterol total yang menyumbat pembuluh darah.

Gejala sakit jantung sering sakit di bagian dada, berdebar, sesak nafas, pingsan, sampai mati mendadak. Hanya saja, tidak semua sakit di bagian dada pertanda sakit jantung. Menurut Prof. Budhi, jika sakit di dada tapi ada bintil-bintil di kulit bisa jadi pertanda sakit herpes, atau jika sakit dada dan tangan sulit digerak-gerakkan bisa jadi sakit otot. Namun jika sakit dada setelah lari atau beraktivitas tinggi dadanya sakit, mungkin sakit jantung. Sakit atau nyeri dada ini dikarenakan berkurangnya aliran darah ke otot jantung akibat penyempitan arteri koroner.

Selain itu, yang khas, penderita merasakan perut yang tidak enak sehingga seringkali dianggap sakit maag, atau ada anggapan kena angin duduk. Seringkali di masyarakat ada yang meninggal, bilangnya cuma masuk angin kena angin duduk, kok, meninggal. Padahal dia kena serangan jantung. “Tidak ada angin duduk,” kata dokter di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta ini. Ciri lain adalah keluar keringat dingin, kepala terasa kosong, sulit bernafas. Tanda lain, ada beberapa wantia yang merasa sangat lelah dalam beberapa hari atau seminggu sebelum terjadi serangan jantung. Wanita juga merasakan batuk, dan kehilangan nafsu makan.

Ketika terjadi serangan jantung, secepatnya dibawa ke rumah sakit yang bisa mengatasi sakit jantung. Sebelumnya baringkan atau istirahatkan sampai nyeri terasa berkurang. Siapkan nitrat, aspirin untuk meredakan serangan sementara. Ketika dibawa ke rumah sakit, jika terjadi penyempitan arteri koroner bisa dilakukan bedah pintas koroner, tiup balon/pemasangan cincin, atau terapi medis optimum. Tentu saja ketika dilakukan tindakan hal itu oleh dokter, biaya yang dikeluarkan tidaklah murah. Dan tak sedikit pula yang tidak tertolong nyawanya.

Dari 1.000 orang yang sakit jantung, 40% terjadi kematian sebelum sampai di rumah sakit. Sebanyak 250.000 kematian infark (serangan jantung) terjadi dalam 1 jam setelah awal gejala/sebelum terapi dimulai. Dalam satu tahun hampir setengah kematian terjadi pada 4 minggu pertama setelah diagnose. Dan serangan jantung menjadi masalah kesehatan dan berakibat kematian. Berdasarkan data badan dunia kesehatan (WHO) tahun 2009, penyakit jantung dan stroke adalah penyebab utama kematian di dunia, termasuk di Indonesia.

Kebiasaan buruk makan, terutama makan enak yang mengandung lemak akan menambah risiko “menimbun” kolesterol. Akibatnya bisa menyumbat pembuluh arteri koroner. Kolesterol itu terutama berasal dari makanan serta diproduksi oleh hati. Organ tersebut bisa memproduksi kolesterol berasal dari daging dan makanan lemak. Selain makanan, faktor kurangnya olahraga pun sangat berperan penting. Jika ingin sehat, setiap hari berjalan 3 kilometer atau 30 menit beraktivitas. Memperbanyak konsumsi sayur dan buah-buahan. Serta menjaga tekanan darah tidak lebih dari 140mmHgsystolic.

Hindari kegemukan dan diabetes mellitus. Kegemukan identik dengan menumpuknya kolesterol, walaupun pada orang yang kurus pun tinggi kolesterol jahat pun bisa terjadi. Jika faktor-faktor tersebut dijalankan, orang tersebut bisa dikatakan tetap sehat. Makanan enak memang melenakan. Makanan yang manis tentunya lebih disukai ketimbang tawar atau pahit. Begitu juga gurih atau asin. Padahal di balik enak dan lezatnya makanan tersebut terkandung risiko penyakit. Pada makanan yang manis terkandung risiko kencing manis, gurih berisiko dislipidemia, dan asin punya risiko menaikan darah tinggi.

Mengutip Purwowiyoto saat pidato pengukuhan Guru Besar FK UI, katanya, perlu keseimbangan rasa. Tidak hanya mengkonsumsi rasa manis, gurih atau asin. Perlu juga pahit yang menghasilkan antioksidan seperti teh hijau, atau masam yang berasal dari jeruk sebagai peluruh lemak.  Selain itu, perlu pengolahan jiwa untuk menghadapi stres. Caranya dengan selalu sabar, ikhlas, bersyukur, tawakal, jujur serta berbudi luhur. Untuk badan dengan makan, gerak atau olahraga. Sementara pada jiwa diperlukan mental yang positif,” ujarnya. Sementara itu, dokter spesialis gizi klinik, Pauline Endang Praptini mengingatkan pentingnya mengonsumsi serat. Konsumsi serat akan menurunkan kolesterol darah sehingga bisa mencegah penyakit jantung koroner. FD

  

Berita Terkait