Said Damanik, S.H., M.H.
Hukuman Mati Tak Sejalan dengan Ajaran Kristen

777 dibaca


Beritanarwastu.com. Hukuman mati merupakan hukuman paling berat. Dalam ilmu hukum ada dikenal hukuman kurungan badan dan hukuman berat. Dan hukuman mati nantinya bisa menjaga ajang untuk balas dendam, sedangkan manusia tak ada yang sempurna. Makanya kepada mereka yang divonis hukuman mati sebenarnya bisa diberi celah untuk bertobat atau diberi pintu maaf. Itu kalau kita lihat dari ajaran Kristen.

Karena istri atau suami, anak-anak dan keluarga yang dihukum mati itu bisa mendendam kepada pihak yang menghukum. Jadi penerapan hukuman mati perlu diberlakukan secara bijak. Demikian diungkapkan pejuang HAM dan pengacara/advokat senior, Said Damanik, S.H., M.H. dalam sebuah diskusi di Jakarta, belum lama ini.

Menurut mantan Ketua Bidang Pengayoman Anggota DPP AAI (Asosiasi Advokat Indonesia) ini, adalah fakta bahwa di Indonesia telah diberlakukan hukuman mati. Di tengah munculnya pro dan kontra dalam penerapan hukuman mati, kata Said, hanya saja ada pengecualian untuk memberlakukan hukuman mati pada pelaku kejahatan berat. “Kalau yang melakukan kejahatan itu mengancam sebuah bangsa dan menghancurkan sebuah generasi, misalnya oleh teroris atau gembong narkoba, iya, bisa juga dipertimbangkan untuk menerapkan hukuman mati,” ujar Penasihat PERWAMKI dan anggota jemaat di GPIB Gloria, Kota Bekasi, Jawa Barat ini.

Seperti pelaku kejahatan dalam kasus bom Bali, “Itu setimpal kepada dia dilakukan hukuman mati. Karena mereka merusak nama baik bangsa, merusak tempat wisata yang sudah mendunia, menewaskan ratusan warga, termasuk orang asing dan menghancurkan sarana-sarana penting. Kemudian gembong narkoba yang sudah terbukti sebagai pengedar antarnegara atau kejahatan transnasional, bisa juga dipertimbangkan untuk memberlakukan hukuman mati,” ujar mantan Wakil Sekjen DPN PERADI dan pernah jadi dosen hukum di Universitas Atmadjaya, Jakarta ini.

Hanya saja sebagai umat Kristen kita harus bijak menyikapi pelaku kejahatan berat, karena ajaran Kristen, kan, kasih, “Kalau pelaku kejahatan itu belum terbukti dengan fakta-fakta hukum melakukan kejahatan berat, iya, jangan dong dipaksa dihukum mati. Seperti yang dicoba kepada mantan Ketua KPK Antasari Ashar, itu belum ada bukti-bukti kuat. Saya melihat di Indonesia ini penegak hukum dalam praktik peradilan masih merasakan intervensi kekuasaan, politik dan ekonomi. Padahal hukum mesti diterapkan untuk keadilan, bukan untuk menghabisi orang,” papar Sekretaris Dewan Kehormatan DPN PERADI dan mantan Plt. Sekjen DPN PERADI ini. NU

Berita Terkait